Ayo nglestarekno Budoyo Jowo ben ora ilang Soko Bumi Nusantoro

-------

33 Swarane Kewan: Suara Hewan dalam Bahasa Jawa, dari Njeguk sampai Ngorek [UPDATE LENGKAP]

Subuh tadi, warung saya belum buka, tapi "orkestra" sudah mulai berbunyi.
Jago tetangga kluruk dari kejauhan. Cecak di dinding ngecek-ngecek. Kucing di belakang ngeong minta ikan. Dan dari sawah, kodhok yang habis kehujanan ngorek bersahut-sahutan.
Saya duduk di teras, menyeduh teh, dan tersenyum. Bos, tanpa sadar saya sedang mendengar 33 swarane kewan — dan bahasa Jawa, dengan kehalusannya, punya nama khusus untuk setiap suara itu.
Ilustrasi suasana pagi di desa Jawa dengan berbagai hewan: ayam berkokok, anjing, kambing, katak di sawah, dan burung di pohon, menggambarkan simfoni suara hewan pedesaan.
"Desa punya orkestranya sendiri. Dan bahasa Jawa punya nama untuk setiap nadanya. 🐓🐸"
Anak zaman sekarang mungkin cuma tahu "guk-guk", "meong", dan "kwek-kwek". Tapi orang Jawa dulu memberi nama yang jauh lebih kaya — seolah-olah setiap hewan punya "bahasa" sendiri yang patut dihormati.
Artikel ini merangkum 33 swarane kewan dalam bahasa Jawa, disusun per kelompok biar mudah dihafal — cocok untuk tugas sekolah, bahan mengajar, atau sekadar nostalgia kampung halaman.

🏡 Kelompok 1: Hewan Seputar Rumah

No
Hewan (Jawa → Indonesia)
Swarane
1
Asu (anjing)
mbaung / njeguk
2
Kucing (kucing)
ngeong / meong
3
Cecak (cecak)
ngecek
4
Tikus (tikus)
cicit
5
Babon (ayam betina)
petok-petok
6
Jago (ayam jantan)
kluruk / kukuruyuk
7
Bebek (bebek)
kwek-kwek
8
Banyak (angsa)
pating krengah

🐄 Kelompok 2: Hewan Ternak

No
Hewan (Jawa → Indonesia)
Swarane
9
Sapi (sapi)
mbengah
10
Wedhus (kambing)
ngembek
11
Jaran (kuda)
mbeker
12
Babi (babi)
nguik

🐅 Kelompok 3: Hewan Liar

No
Hewan (Jawa → Indonesia)
Swarane
13
Macan (harimau)
nggero / mbaung
14
Singa (singa)
nggero
15
Serigala (serigala)
mbaung
16
Gajah (gajah)
ngempret
17
Kethek (monyet)
mere
18
Kidang (kijang)
mbekik
19
Menjangan (rusa)
mbekik
20
Ula (ular)
ngeses
21
Merak (merak)
nyengungong

🐦 Kelompok 4: Burung (Manuk)

No
Hewan (Jawa → Indonesia)
Swarane
22
Dara (merpati)
mbekur
23
Kutut / perkutut (perkutut)
manggung
24
Jalak (jalak)
ngoceh
25
Kuthilang (kutilang)
ngoceh
26
Manuk (burung kecil)
cuit-cuit
27
Gemak (puyuh)
melung / cekiker

🐸 Kelompok 5: Amphibi & Serangga

No
Hewan (Jawa → Indonesia)
Swarane
28
Kodhok (katak)
ngorek
29
Jangkrik (jangkrik)
ngerik
30
Gangsir (gangsir)
ngenthir
31
Kumbang (kumbang)
mbrengengeng
32
Tawon (lebah/tawon)
ngengeng
33
Nyamuk (nyamuk)
nging

🧠 Kenapa Bahasa Jawa Punya Nama Khusus untuk Setiap Suara?

Bos, pernah bertanya kenapa orang Jawa repot-repot memberi nama berbeda untuk suara anjing (njeguk) dan suara serigala (mbaung)? Padahal dalam bahasa Indonesia, keduanya sama-sama "menggonggong/melolong"?
Jawabannya ada pada cara orang Jawa dulu hidup:

1. Mereka Hidup Berdampingan dengan Alam

Orang desa dulu tidak punya TV atau HP. "Hiburan" mereka adalah suara alam. Maka mereka mendengar dengan sangat teliti — dan setiap suara yang berbeda diberi nama yang berbeda.

2. Bahasa sebagai Alat Rekaman

Sebelum ada perekam suara, bahasa adalah "alat rekam". Dengan menyebut "kodhok lagi ngorek", orang langsung tahu: hujan baru turun, suasana sawah sedang hidup. Satu kata menyimpan satu pemandangan utuh.

3. Onomatope yang Diperhalus

Banyak swarane kewan adalah onomatope — kata yang meniru bunyi aslinya (kwek-kwek, cicit, ngecek). Tapi orang Jawa tidak meniru mentah-mentah; mereka menghaluskannya menjadi kata yang enak diucapkan dan diwariskan.

🎲 Tips untuk Guru dan Orang Tua: Jadikan Permainan!

Daftar 33 ini sangat cocok dijadikan permainan tebak-tebakan untuk anak:
  • "Swara sopo iki: mbengah... mbengah...?" (Suara apa ini?) → Sapi!
  • "Yen ngorek, iku sopo?" → Kodhok!
  • "Kluruk nang endi?" → Jago!
Permainan ini bukan cuma melatih bahasa Jawa, tapi juga melatih telinga anak untuk peka pada suara alam — sesuatu yang makin langka di zaman gadget.

💭 Renungan Penjaga Warung: Suara-Suara yang Mulai Hilang

Sebagai penjaga warung, saya perhatikan satu hal yang bikin saya sedih: anak-anak zaman sekarang tidak lagi kenal suara-suara ini.
Anak kota yang main ke warung saya, waktu mendengar kodhok ngorek setelah hujan, bertanya: "Mas, itu suara apa? Mesin rusak ya?"
Saya tertawa, tapi hati saya miris.
Dulu, suara kluruk jago adalah jam weker kami. Suara ngecek cecak adalah teman begadang. Suara ngorek kodhok adalah pertanda hujan dan kesuburan. Suara manggung perkutut adalah musik sore hari di teras bapak-bapak.
Itu semua adalah "bahasa" desa. Dan desa sedang kehilangan bahasanya.
Ketika sawah diganti perumahan, kodhok tidak lagi ngorek. Ketika kandang diganti garasi, sapi tidak lagi mbengah. Ketika anak-anak lebih sering mendengar notifikasi HP daripada kluruk jago, mereka tumbuh tanpa pernah tahu bahwa dunia ini pernah punya orkestra yang gratis dan indah.
Bahasa Jawa, dengan 33 swarane kewan-nya, sebenarnya sedang menyimpan rekaman alam untuk kita. Selama kata-kata itu masih diucapkan, suara-suara itu tidak benar-benar hilang.
Maka, Bos, ajaklah anak-anak kita mendengar. Ajak mereka ke sawah, ke kandang, ke pasar burung. Biarkan mereka mendengar mbekik kijang di cerita, ngorek kodhok di selokan, kluruk jago di subuh hari.
Karena anak yang kenal suara alam, akan tumbuh jadi orang yang sayang pada alam. Dan anak yang kehilangan suara alam, akan kehilangan separuh kampung halamannya — bahkan sebelum ia sempat mengenalnya.

💡 Penutup: Warisan yang Berbunyi

33 swarane kewan ini bukan sekadar daftar kosakata untuk ujian. Ia adalah warisan yang berbunyi — rekaman kehidupan desa yang diwariskan lewat bahasa.
Semakin sering kita ucapkan, semakin hidup suara-suara itu. Semakin jarang kita ucapkan, semakin sunyi desa kita.
Maka ucapkanlah. Ajarkanlah. Dan dengarkanlah — sebelum orkestra itu benar-benar berhenti berbunyi. 🐓

Di sekitar rumah kita pasti ada hewan yang menjadi sahabat tuannya. Di antaranya adalah hewan yang bernama kucing, ayam, sapi dan sebagainya.

Hewan-hewan tersebut bisa berbicara dengan bahasa hewan tentunya yang hanya bisa dimengerti oleh hewan sebangsanya. Di dunia ini pernah ada orang yang bisa mengerti bahasa hewan.

Beliau adalah Nabi Sulaiman ra, rajanya dari segala raja di dunia ini. Beliau di dalam Al Qur'an telah mampu berbicara dan paham benar bahasa hewan.


Diantaranya adalah semut dan burung Hud-hud.
Suara dari hewan kucing adalah meong-meong.

1. Swara asu = mbaung/mjeguk.
2. babon = petok-petok.
3. banyak = pating krengah.
4. bebek = kwek-kwek.
5. cecak = ngecek.
6. dara = mbekur.
7. gajah = ngempret.
8. gangsir = ngenthir.
9. garengpung = ngrengreng.
10. gemak = ngelung.
11. jago = kluruk.
12. jalak = ngoceh.
13. jaran = beker/bengingeh.
14. jangkrik = ngerik.
15. kebo = ngowek.
16. kethek = mere.
17. kidang = mbekik.
18. kodok = ngorek.
19. kombang = mbrengengeng.
20. kucing = ngeong.
21. kutilang = ngoceh.
22. kuthuk = kiyik-kiyik.
23. kutut = manggung.
24. lamuk = nging-nging.
25. macan = mbaung/anggero.
26. menco = ngoceh.
27. menjangan = mbekik.
28. merak = nyengungong.
30. singa = nggero.
31. tikus = citcit.
32. ula = ngakak/ngeses.
33. wedhus = ngembek.

Itulah suara-suara hewan dalam basa Jawa.

🙏 Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan ahli bahasa Jawa bersertifikat. Daftar ini dirangkum dari kamus dan sumber bahasa Jawa (termasuk ragam Solo/Surakarta). Karena bahasa Jawa kaya akan dialek, beberapa sebutan bisa berbeda di daerah masing-masing. Jika para sesepuh punya versi lain, mohon sudi menambahkan di kolom komentar. Matur nuwun!

📖 KAMUS KECIL

  • Swarane kewan — Suara hewan
  • Njeguk / mbaung — Suara anjing
  • Kluruk — Kokok ayam jantan
  • Ngorek — Suara katak
  • Mbengah — Suara sapi
  • Onomatope — Kata yang meniru bunyi aslinya
Tag : Kamus Jawa
2 Komentar untuk "33 Swarane Kewan: Suara Hewan dalam Bahasa Jawa, dari Njeguk sampai Ngorek [UPDATE LENGKAP]"

jadi inget dulu waktu smp pernah di suruh guru bhs jawa ngafalin suara bintang haha :D

Hewan lamuk yang mengeluarkan suara nging-nging itu hewan apa ya, mas ?

"Silakan berkomentar dengan santun dan bijak. Diskusi yang sehat dimulai dari hati yang lapang. Mohon jangan menyertakan link aktif di kolom komentar untuk menjaga kenyamanan bersama."

Back To Top