Ayo nglestarekno Budoyo Jowo ben ora ilang Soko Bumi Nusantoro

-------

16 Peribahasa Jawa Awalan Huruf A serta Artinya: Pelajaran Hidup dari "Adigang" sampai "Ana Dina Ana Upa" [UPDATE LENGKAP]

Update Agustus 2026

Malam itu, warung saya kedatangan seorang bapak tua yang sedang menunggu hujan reda. Sambil menyeruput teh, dia nyeletuk: "Mas, anak zaman sekarang itu pintar-pintar, tapi kok pada gampang nyerah ya. Dulu, orang tua kami cuma modal satu kalimat: 'Alon-alon waton kelakon'. Tapi kami bisa bangun rumah, nyekolahkan anak, sampai tua."
Saya tersenyum. "Bapak benar. Orang Jawa dulu memang tidak butuh buku motivasi tebal. Mereka punya peribahasa — kalimat pendek yang isinya kebijaksanaan seumur hidup."
Ilustrasi seorang kakek Jawa yang sedang bercerita kepada cucu-cucunya di teras rumah joglo saat senja, dengan secangkir teh di meja, menggambarkan pewarisan kebijaksanaan lewat peribahasa.
"Orang Jawa tidak menulis nasihat di buku tebal. Mereka menaruhnya di kalimat pendek yang gampang diingat. 📜"
Bos, peribahasa Jawa (paribasan) adalah "kapsul kebijaksanaan" — nasihat panjang yang dipadatkan menjadi satu kalimat, supaya gampang diingat dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Artikel ini merangkum 16 peribahasa Jawa berawalan huruf A beserta artinya — lengkap dengan pelajaran praktis yang bisa Bos terapkan hari ini.

📜 16 Peribahasa Jawa Awalan Huruf A

1. Adhang-adhang tètèsé embun

Artinya: Berharap datangnya sesuatu walau sedikit dan tidak pasti — seperti menunggu tetesan embun. Pelajaran: Jangan gantungkan hidup pada harapan yang tidak pasti. Usaha nyata lebih bisa dipegang daripada menunggu "embun" jatuh.

2. Adigang, adigung, adiguna

Artinya: Mengandalkan kekuatan (adigang), kedudukan/keluhuran (adigung), dan kepandaian (adiguna) — merasa paling kuat dan penting. Pelajaran: Ini sindiran untuk orang sombong. Sekuat apa pun kita, setinggi apa pun jabatan kita, kesombongan adalah awal kejatuhan.

3. Aja dumèh wong gedhé

Artinya: Jangan mentang-mentang orang besar — jangan karena punya kedudukan dan kekuasaan, lalu semena-mena pada orang lain. Pelajaran: Kekuasaan adalah ujian karakter. Orang besar sejati bukan yang menindas, tapi yang mengayomi.

4. Aja golek wah, mengko dadi owah

Artinya: Jangan mencari perhatian atau pujian ("wah"), nanti malah jadi gila/tercela ("owah"). Pelajaran: Bekerjalah dengan tulus, bukan untuk pamer. Orang yang hidup demi pujian, akhirnya sering berakhir memalukan.

5. Aja kaya godhong trêmbêsi, turu anglêr sabên bêngi

Artinya: Jangan seperti daun trembesi yang tidur nyenyak setiap malam. Pelajaran: Jangan terlalu terlelap dalam kenyamanan sampai kehilangan kewaspadaan. Hidup selalu punya kejutan — tetaplah siaga.

6. Ajining diri dumunung ana ing lathi, ajining raga ana ing busana

Artinya: Nilai diri terletak pada ucapan (lathi), nilai badan terletak pada pakaian (busana). Pelajaran: Jaga mulutmu. Orang dinilai bukan dari wajahnya, tapi dari kata-katanya. Ucapan yang baik menaikkan derajat, ucapan yang buruk meruntuhkannya.

7. Alon-alon waton kelakon

Artinya: Pelan-pelan asalkan terlaksana. Pelajaran: Tidak perlu terburu-buru. Yang penting teliti, hati-hati, dan sampai tujuan. Kecepatan tanpa arah hanya akan membuat kita tersesat lebih cepat.

8. Ambeg parama arta

Artinya: Memiliki sifat dermawan, gemar memberi, dan mendahulukan kepentingan orang banyak. Pelajaran: Ini adalah sifat pemimpin sejati — tangan di atas, bukan tangan yang selalu meminta.

9. Ana catur mungkur

Artinya: Ada adu mulut atau pertentangan, selalu dihindari (dipalingkan). Pelajaran: Orang bijak menjauhi debat yang tidak berguna. Tidak semua pertengkaran layak diikuti — kadang menang berarti kalah waktu dan tenaga.

10. Ana dina, ana upa

Artinya: Ada hari, ada nasi — setiap hari ada rezeki. Pelajaran: Jangan terlalu cemas akan besok. Selama masih ada hari dan kemauan bekerja, rezeki akan selalu ada jalan.

11. Ana daulaté, ora ana begjané

Artinya: Ada kesempatan/kekuasaan, tapi tidak ada keberuntungan — sudah dekat rezeki tapi tidak jadi mendapatkannya. Pelajaran: Kadang usaha dan kesempatan saja tidak cukup; ada faktor "berkah" yang tidak terlihat. Maka jangan sombong saat berhasil, dan jangan putus asa saat gagal.

12. Anggenthong umos

Artinya: Sifat orang yang tidak bisa menyimpan rahasia — seperti kantong yang bocor. Pelajaran: Jaga rahasia orang lain. Orang yang tidak bisa dipercaya memegang rahasia, tidak akan pernah dipercaya memegang hal besar.

13. Angon mangsa

Artinya: Memelihara masa — melihat waktu yang tepat untuk bertindak. Pelajaran: Timing itu penting. Bertindak di waktu yang salah bisa menghancurkan niat yang baik. Belajarlah membaca situasi.

14. Arep jamuré, emoh watangé

Artinya: Mau jamurnya, tapi tidak mau batangnya — ingin enak tapi tidak mau susah. Pelajaran: Hasil butuh proses. Jangan harap sukses tanpa mau melewati masa-masa sulitnya.

15. Asu rebutan balung

Artinya: Anjing berebut tulang — orang yang berdebat memperebutkan hal sepele, tidak ada yang mau mengalah. Pelajaran: Jangan habiskan energi untuk memperebutkan hal kecil. Pilih pertempuranmu dengan bijak.

16. Ati béngkong olèh oncong

Artinya: Ada niat jahat (hati bengkok), lalu mendapat jalan atau kesempatan. Pelajaran: Niat buruk yang bertemu kesempatan = bencana. Maka jaga hatimu, dan jangan ciptakan celah bagi niat jahat orang lain. (Mirip dengan paribasan "Bubuk oleh leng"!)

💭 Renungan Penjaga Warung: Huruf "A" Adalah Huruf Pertama, dan Ini Pelajaran Pertamanya

Sebagai penjaga warung, saya merenungi satu hal: kenapa peribahasa-peribahasa paling dasar justru banyak yang berawalan huruf A?
Mungkin karena huruf A adalah huruf pertama — dan peribahasa-peribahasa ini adalah pelajaran pertama yang harus dikuasai manusia sebelum pelajaran lain:
  • Jangan sombong (adigang adigung adiguna, aja dumeh)
  • Jangan pamer (aja golek wah)
  • Jaga mulutmu (ajining diri saka lathi)
  • Sabar dan teliti (alon-alon waton kelakon)
  • Percaya pada rezeki (ana dina ana upa)
  • Mau berusaha, jangan cuma mau enak (arep jamuré emoh watangé)
Ini semua adalah fondasi karakter. Tanpa fondasi ini, sepintar apa pun seseorang, setinggi apa pun gelarnya, dia akan runtuh — karena bangunan yang tinggi tanpa fondasi yang kuat pasti ambruk.
Dan yang paling indah: semua pelajaran ini bisa dipahami oleh orang yang tidak sekolah sekalipun. Bapak tua di warung saya tadi tidak lulus SD, tapi dia hafal dan mengamalkan "alon-alon waton kelakon" seumur hidupnya. Dan hidupnya terbukti: rumah berdiri, anak sekolah, hati tenang.
Itulah kehebatan peribahasa Jawa: ia tidak butuh ijazah untuk dipahami, tapi butuh seumur hidup untuk diamalkan.

💡 Penutup: Warisan yang Tidak Terkikis Zaman

Bos, 16 peribahasa ini bukan sekadar "materi pelajaran Bahasa Jawa" untuk ujian. Ia adalah warisan kebijaksanaan yang diwariskan leluhur kita — supaya anak cucunya tidak perlu jatuh di lubang yang sama.
Maka, ajarkanlah pada anak-anak kita. Bukan dengan menyuruh mereka menghafal, tapi dengan menerapkannya di depan mereka.
Karena peribahasa yang hanya dihafal akan lupa. Tapi peribahasa yang dihidupkan akan abadi.
Semoga kita semua bisa menjadi "peribahasa yang berjalan" — yang mengajarkan kebijaksanaan bukan lewat kata-kata, tapi lewat perbuatan. 📜🤍
---------

Peribahasa atau paribasan iku artine ukara utawa unen-unen sing tergese wantah dudu pepindhan. Ada juga yang namanya Bebasan, artinya yaitu tetembungan sing ngemu teges pepindhan.

Selain itu ada juga yang sejenis seperti itu, namanya sanepan dan saloka. Sanepan artinya adalah unen-unen sing ngemu tegese kosok balen atau lawan kata.

Berikut ini contoh paribasan, bebasan, sanepan, saloka dengan bahasa jawa serta maknanya.

1. Adhang-adhang tetese embun.
Artinya: njagakake barang muung sak oleh-olehe.

2. Adigang, adigung, adiguna.
Ngendelake kekuatan, kaluhurane dan kapinterane.

3. Aji godhong garing.
Wis ora ono ajine, asor banget.

4. Ana catur mungkur.
Ora gelem ngrungokake rerasan kang ora becik.

5. Ana daulate ora ana begjane (untup-untup).
Arep nemu kabegjan, nanging ora sido.

6. Ana gula ana semut.
Panggonan sing akeh rejekine, mesti akeh sing nekani.

7. Anak polah bapa kepradah.
Tingkah polahe anak dadi tanggungjawabe wong tua.

8. Anggenthong umos (rembes/bocor).
Wong kang ora iso nyimpen wewadi.

9. Angon mangsa.
Golek waktu kang prayogo kanggo tumindhak.

10. Angon ulat ngumbar tangan (pendeleng).
Ngulatake kaanan yen limpe banjur cicolong.

11. Arep jamure emoh watange (gothek).
Gelem kepenake ora gelem rekasane.

12. Asu rebutan balung.
Rebutan barang kang sepele.

13. Asu belang kalung wang.
wong asor nanging sugih.

14. Asu gedhe menang kerahe (tukaran).
Wong kang dhuwur pangkate, mesthi bae luwih gedhe panguasane.

15. Asu marani gepuk.
Njarang marani bebaya.

16. Ati bengkong oleh oncong (obor konco).
Wong duwe niat ala oleh dalan.

🙏 Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan ahli bahasa Jawa dan bukan budayawan. Arti peribahasa dirangkum dari kamus paribasan Jawa dan sumber budaya terpercaya. Jika para sesepuh menemukan variasi arti di daerah masing-masing, mohon sudi menambahkan di kolom komentar. Matur nuwun!

📖 KAMUS KECIL

  • Paribasan — Peribahasa dalam bahasa Jawa
  • Adigang — Mengandalkan kekuatan
  • Adigung — Mengandalkan kedudukan/keluhuran
  • Adiguna — Mengandalkan kepandaian
  • Waton — Asalkan / yang penting
  • Kelakon — Terlaksana / tercapai
  • Upa — Nasi (rezeki)
Tag : Kamus Jawa
0 Komentar untuk "16 Peribahasa Jawa Awalan Huruf A serta Artinya: Pelajaran Hidup dari "Adigang" sampai "Ana Dina Ana Upa" [UPDATE LENGKAP]"

"Silakan berkomentar dengan santun dan bijak. Diskusi yang sehat dimulai dari hati yang lapang. Mohon jangan menyertakan link aktif di kolom komentar untuk menjaga kenyamanan bersama."

Back To Top