Beberapa hari terakhir, istilah "londo ireng" tiba-tiba ramai lagi. Pelanggan warung saya yang bapak-bapak, sambil menyeruput kopi, bertanya: "Mas, itu di berita ramai soal 'londo ireng'. Sebenarnya artinya apa sih? Kok kedengarannya seperti menghina?"
Saya tersenyum, lalu menjawab: "Pak, dua kata itu dari bahasa Jawa kita sendiri. Tapi di baliknya, ada sejarah panjang yang jarang diceritakan di buku sekolah."
Bos, kalau Bos sedang penasaran dengan istilah ini — entah karena mendengar di berita, pidato, atau media sosial — artikel ini akan menjelaskannya dengan tenang dan lengkap: dari arti harfiah, asal-usul sejarah, sampai pergeseran maknanya di zaman sekarang.
📖 Arti Harfiah: Dua Kata Bahasa Jawa
Secara bahasa, londo ireng berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa
:
- Londo = orang Belanda / orang Eropa (kulit putih)
- Ireng = hitam
Jadi secara harfiah, londo ireng berarti "Belanda hitam" atau "orang Belanda berkulit hitam"
.
Sekilas terdengar aneh, ya? Belanda kok hitam? Nah, di sinilah sejarahnya mulai menarik.
🏰 Asal-Usul Sejarah: Tentara Afrika di Tanah Jawa
Istilah ini bukan sekadar candaan. Ia lahir dari sebuah babak sejarah nyata di zaman kolonial.
Siapa Mereka Sebenarnya?
Antara tahun 1831 hingga 1872, lebih dari 3.000 orang Afrika Barat — kebanyakan suku Akan/Ashanti — direkrut dari Pantai Emas (Gold Coast, kini Ghana) untuk menjadi serdadu tentara kolonial Belanda (KNIL) di Hindia Belanda
.
Dalam bahasa Belanda, mereka disebut Zwarte Hollanders (orang Belanda hitam)
. Dan masyarakat Jawa yang melihat serdadu berseragam Belanda tapi berkulit gelap ini, dengan kepekaan bahasanya, menjuluki mereka: "londo ireng"
.
Kenapa Belanda Merekrut Tentara Afrika?
Setelah Perang Jawa (Perang Diponegoro) berakhir, Belanda kekurangan serdadu Eropa untuk menaklukkan dan menjaga wilayah Nusantara
. Maka mereka melirik Afrika Barat — khususnya kawasan Pantai Emas (Ghana) — sebagai lokasi rekrutmen
.
Para serdadu Afrika ini kemudian ditempatkan di berbagai wilayah, dan sebagian menetap, berkeluarga, dan beranak cucu di Indonesia. Jejak keturunan mereka hingga kini masih bisa ditemukan, salah satunya di Purworejo, Jawa Tengah
.
Jadi, "londo ireng" pada awalnya adalah sebutan deskriptif masyarakat Jawa untuk serdadu-serdadu Afrika yang bekerja untuk Belanda ini.
🔄 Pergeseran Makna: Dari Sebutan Menjadi Sindiran
Seiring berjalannya waktu, terutama memasuki abad ke-20, makna "londo ireng" bergeser
.
Istilah ini tidak lagi hanya merujuk pada serdadu Afrika, tapi berkembang menjadi istilah ejekan atau sindiran bagi orang pribumi yang berpihak kepada kolonial — orang Indonesia yang bekerja, berpikir, dan membela kepentingan penjajah, bukan kepentingan bangsanya sendiri
.
Dalam pengertian kiasan ini, "londo ireng" menggambarkan:
- Pribumi yang bermental kolonial — yang lebih bangga pada asing daripada bangsanya sendiri
- Orang Indonesia yang menjadi "perpanjangan tangan" kepentingan asing
- Mereka yang secara fisik "kita", tapi cara berpikir dan keberpihakannya "mereka"
Inilah kenapa istilah ini terasa menyengat ketika diucapkan. Ia bukan soal warna kulit — ia soal keberpihakan dan mentalitas.
📰 Kenapa Istilah Ini Ramai Lagi di 2026?
Bos mungkin bertanya, kenapa istilah jadul ini tiba-tiba viral lagi?
Istilah ini kembali menjadi sorotan setelah digunakan dalam pidato politik nasional — Presiden Prabowo Subianto memakainya untuk menyindir pihak-pihak (seperti sebagian jurnalis dan LSM) yang dianggap lebih membela kepentingan asing daripada kepentingan bangsa
.
Terlepas dari setuju atau tidak setuju dengan konteks politiknya, fenomena ini membuat jutaan orang Indonesia — terutama generasi muda — tiba-tiba bertanya-tanya: "Londo ireng itu sebenarnya apa?"
Dan jawabannya, seperti yang kita bahas, membawa kita pada seabad lebih sejarah kolonial yang nyaris terlupakan.
💭 Renungan Penjaga Warung: "Londo Ireng" Ada di Dalam Diri Kita Semua?
Sebagai penjaga warung, saya tidak mau ikut-ikutan memakai istilah ini untuk menghina siapa pun. Tapi saya ingin mengajak Bos merenung lebih dalam.
Kalau "londo ireng" artinya adalah orang yang secara fisik pribumi tapi mentalnya berpihak pada asing, maka jujur saja — benih itu ada di dalam diri kita semua.
Coba kita tengok kehidupan sehari-hari:
- Kita sering menganggap barang impor pasti lebih bagus daripada buatan tetangga sendiri.
- Kita lebih bangga kalau anak kita lancar bahasa asing, tapi malu kalau dia bicara bahasa daerah.
- Kita lebih percaya komentar netizen luar negeri memuji Indonesia, daripada pujian saudara sendiri.
Itu semua adalah bentuk-bentuk halus dari mental inlander — mental yang merasa "yang asing pasti lebih tinggi". Dan mental inilah yang dulu membuat istilah "londo ireng" lahir sebagai sindiran.
Bapak-bapak pelanggan saya tadi akhirnya bertanya: "Terus, Mas, supaya kita tidak jadi 'londo ireng', gimana?"
Saya jawab sederhana: "Cintai yang dekat dulu, Pak. Beli tempe tetangga sebelum beli makanan impor. Banggakan bahasa kita sendiri sebelum bangga bahasa orang. Urus kampung kita sebelum sibuk mengurusi pendapat orang seberang lautan."
Mencintai bangsa sendiri bukan berarti membenci bangsa lain. Mencintai diri sendiri bukan berarti merendahkan orang lain.
Seorang yang sehat mentalnya bisa menghargai budaya asing tanpa harus menginjak budayanya sendiri. Seperti warung saya: saya boleh menjual kopi dari mana saja, tapi resep dan hati saya tetap milik kampung ini.
💡 Penutup: Dua Kata, Seribu Pelajaran
Jadi, Bos, londo ireng artinya apa?
- Secara harfiah: "Belanda hitam" — dari bahasa Jawa londo (Belanda) dan ireng (hitam) .
- Secara sejarah: julukan untuk serdadu Afrika Barat (Zwarte Hollanders) yang direkrut Belanda ke KNIL antara 1831–1872 .
- Secara kiasan: sindiran untuk pribumi yang bermental dan berpihak pada kepentingan asing .
Tapi di atas semua itu, istilah ini adalah cermin. Setiap kali ia diucapkan, ia sebenarnya sedang bertanya pada kita masing-masing:
"Kamu berdiri di pihak mana? Di pihak yang membangun rumahmu sendiri, atau di pihak yang memuji-muji rumah orang lain sambil membiarkan rumahmu roboh?"
Semoga kita semua menjadi orang yang bangga pada tanah airnya sendiri — tanpa pernah merendahkan tanah air orang lain. 🇩🤍
🙏 Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan sejarawan dan bukan ahli linguistik. Artikel ini dirangkum dari sumber sejarah, berita, dan kamus bahasa Jawa. Penyebutan konteks politik 2026 bersifat informatif, bukan dukungan atau serangan terhadap pihak mana pun. Matur nuwun!
📖 KAMUS KECIL
- Londo — (bhs. Jawa) orang Belanda / orang Eropa
- Ireng — (bhs. Jawa) hitam
- Zwarte Hollanders — (bhs. Belanda) "orang Belanda hitam", sebutan untuk serdadu Afrika di KNIL
- KNIL — Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger, tentara kolonial Hindia Belanda
- Mental Inlander — mentalitas rendah diri yang menganggap bangsa sendiri lebih rendah dari bangsa asing
Tag :
Kamus Jawa