Kemarin, seorang pelanggan warung saya — anak muda yang baru lulus kuliah — datang sambil scrolling TikTok dengan wajah bingung. "Mas, ini orang-orang pada bilang 'lantam'. Itu bahasa Jawa ya? Kok gue baru denger? Artinya apa sih?"
Saya tersenyum sambil mengelap meja. "Dik, itu BUKAN bahasa Jawa. Itu bahasa Indonesia baku yang ada di KBBI. Tapi karena yang ngomong orang Jawa, dan kata itu jarang dipakai sehari-hari, orang langsung ngira itu bahasa Jawa."
| "Tidak semua yang viral itu Jawa. Tidak semua yang Jawa itu viral. Mari kita luruskan dengan secangkir kopi. ☕" |
Dia garuk-garuk kepala. "Lah, terus kalau sombong dalam bahasa Jawa apa dong?"
"Gumedhe," jawab saya singkat.
Bos, fenomena ini makin sering terjadi di era media sosial. Sebuah kata tiba-tiba viral, dipakai oleh selebriti atau konten kreator asal Jawa, dan jutaan orang langsung mengira itu bahasa Jawa. Padahal kalau kita buka kamus, kata itu bahasa Indonesia biasa, atau bahkan bahasa gaul yang baru muncul kemarin sore.
Artikel ini akan meluruskan 7 kata viral yang paling sering disalahartikan sebagai bahasa Jawa, lengkap dengan asal-usulnya dan bahasa Jawa aslinya. Mari kita bedah satu per satu, Bos!
π Daftar Kata Viral yang Sering Dikira Bahasa Jawa
1. "Lantam" ❌ Bukan Bahasa Jawa
Asal-usul: Bahasa Indonesia baku, ada di KBBI . Mendadak viral karena dipakai Bunda Corla dalam perseteruannya dengan Nikita Mirzani sekitar 2023 .
Arti:
- Keras sekali (tentang suara/bunyi)
- Angkuh / sombong
Bahasa Jawa aslinya:
- Sombong = Gumedhe atau Ngongso
- Keras (suara) = Banter
Contoh:
- ❌ "Sikapnya lantam banget!" (dikira Jawa)
- ✅ "Sikape gumedhe tenan!" (Jawa asli)
2. "Santuy" ❌ Bukan Bahasa Jawa
Asal-usul: Bahasa gaul Indonesia yang berasal dari kata "santai" yang dimodifikasi dengan akhiran "-uy" agar terdengar lebih santai dan anak muda .
Arti: Santai, tidak terburu-buru, menikmati hidup tanpa beban.
Bahasa Jawa aslinya:
- Santai = Santai (serapan) atau Tenang
- Tidak terburu-buru = Alon-alon (seperti dalam paribasan "Alon-alon waton kelakon")
Contoh:
- ❌ "Hidup ini harus santuy, Mas." (dikira Jawa)
- ✅ "Urip iku kudu tenang, alon-alon waton kelakon." (Jawa asli)
3. "Bucin" ❌ Bukan Bahasa Jawa
Asal-usul: Bahasa gaul Indonesia, kepanjangan dari "Budak Cinta" . Viral di media sosial untuk menggambarkan seseorang yang terlalu bucin pada pasangannya.
Arti: Orang yang terlalu cinta sampai rela melakukan apa saja untuk pasangannya, kadang sampai mengorbankan harga diri.
Bahasa Jawa aslinya:
- Budak cinta = Kawula tresna (harfiah)
- Terlalu cinta = Katresnan banget atau Kesengsem
- Tergila-gila karena cinta = Lara branta (seperti yang kita bahas di artikel 8 Arti Kata Lara)
Contoh:
- ❌ "Dia bucin banget sama pacarnya." (dikira Jawa)
- ✅ "Dheweke kesengsem tenan karo pacare." (Jawa asli)
4. "Mager" ❌ Bukan Bahasa Jawa
Asal-usul: Bahasa gaul Indonesia, kepanjangan dari "Malas Gerak" . Viral di kalangan anak muda untuk menggambarkan rasa malas beraktivitas.
Arti: Malas bergerak, tidak mau melakukan apa-apa, rebahan saja.
Bahasa Jawa aslinya:
- Malas = Kesed atau Males
- Tidak mau bergerak = Ora obah atau Anteng
Contoh:
- ❌ "Aku mager banget hari ini." (dikira Jawa)
- ✅ "Aku kesed tenan dina iki." (Jawa asli)
5. "Gelay" ❌ Bukan Bahasa Jawa
Asal-usul: Bahasa gaul Indonesia yang berasal dari kata "geleng" (menggelengkan kepala) yang dimodifikasi . Viral sebagai ekspresi kekesalan atau ketidaksetujuan yang lucu.
Arti: Ekspresi menggelengkan kepala karena kesal, tidak setuju, atau gemas.
Bahasa Jawa aslinya:
- Menggeleng = Gogok atau Ngeleng
- Kesal = Mangkel atau Gregeten
Contoh:
- ❌ "Gelay deh, dia nggak datang lagi." (dikira Jawa)
- ✅ "Mangkel tenan, dheweke ora teka maneh." (Jawa asli)
6. "Cuek" ❌ Bukan Bahasa Jawa
Asal-usul: Bahasa Indonesia baku yang ada di KBBI . Berarti tidak peduli, acuh tak acuh.
Arti: Tidak peduli, tidak memperhatikan, acuh tak acuh.
Bahasa Jawa aslinya:
- Tidak peduli = Ora perduli atau Masa bodho
- Acuh tak acuh = Ora nggatekke atau Nglemekake
Contoh:
- ❌ "Dia cuek banget sama aku." (dikira Jawa)
- ✅ "Dheweke ora perduli tenan karo aku." (Jawa asli)
7. "Ndeso" ✅ INI Bahasa Jawa!
Asal-usul: Nah, kalau yang ini BENAR-BENAR bahasa Jawa . Berasal dari kata "desa" yang diberi awalan "n-" sehingga menjadi "ndeso".
Arti: Berasal dari desa; kampungan; tidak modern.
Bahasa Jawa aslinya:
- Ndeso = Ndeso (memang sudah bahasa Jawa)
- Kampungan = Ndeso atau Kampungan
- Tidak modern = Ora modern atau Ketinggalan jaman
Contoh:
- ✅ "Kowe ndeso tenan, ora ngerti cara pakai smartphone." (Jawa asli, memang benar)
π€ Kenapa Banyak yang Salah Kaprah?
Bos, fenomena ini terjadi karena beberapa alasan:
1. Efek Selebriti
Ketika Bunda Corla (orang Jawa) bilang "lantam", jutaan orang langsung mengira itu bahasa Jawa karena yang ngomong orang Jawa . Padahal kata itu bahasa Indonesia baku yang jarang dipakai.
2. Jarang Terdengar Sehari-hari
Kata seperti "lantam" memang ada di KBBI, tapi jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari. Ketika tiba-tiba muncul di medsos, orang mengira itu kata asing atau bahasa daerah.
3. Konteks Budaya
Banyak konten kreator Jawa yang pakai kata-kata ini dalam video mereka. Otomatis, penonton yang bukan orang Jawa langsung mengira semua kata yang keluar dari mulut orang Jawa adalah bahasa Jawa.
4. Generasi yang Terputus
Banyak anak muda yang tidak lagi belajar bahasa Jawa secara formal di sekolah. Akibatnya, mereka tidak bisa membedakan mana bahasa Jawa asli, mana bahasa Indonesia, dan mana bahasa gaul.
πΏ Filosofi: Jangan Sampai Kita Kehilangan Bahasa Sendiri
Sebagai penjaga warung, saya sering merenungi fenomena ini.
Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa daerah terkaya di Indonesia. Punya tingkatan ngoko, krama, krama inggil. Punya ratusan paribasan, bebasan, saloka. Punya tembung-tembung indah seperti gumedhe, kesengsem, lara branta yang tidak bisa ditemukan dalam bahasa lain.
Tapi perlahan-lahan, kita mulai melupakannya. Anak-anak muda lebih kenal "lantam" daripada "gumedhe". Lebih kenal "bucin" daripada "kesengsem". Lebih kenal "mager" daripada "kesed".
Bukan berarti kita tidak boleh pakai bahasa gaul. Boleh-boleh saja. Tapi jangan sampai kita lupa bahasa asli kita. Jangan sampai suatu hari nanti, bahasa Jawa hanya tinggal kenangan di buku-buku tua, sementara anak cucu kita hanya tahu bahasa gaul yang umurnya tidak sampai setahun.
Mari kita jaga. Mari kita pakai. Mari kita wariskan.
π Renungan Penjaga Warung: Bahasa Adalah Jiwa
Bos, setiap bahasa adalah cermin jiwa sebuah bangsa.
Ketika orang Jawa bilang "gumedhe" untuk sombong, ada rasa greget di sana. Ketika bilang "kesengsem" untuk terlalu cinta, ada rasa getar di hati. Ketika bilang "kesed" untuk malas, ada rasa berat di badan.
Bahasa gaul seperti "lantam", "bucin", "mager" memang lucu dan mudah diingat. Tapi mereka tidak punya rasa. Mereka tidak punya jiwa. Mereka muncul hari ini, viral besok, dan dilupakan minggu depan.
Sementara bahasa Jawa? Ia sudah hidup ratusan tahun. Ia bertahan karena ia punya jiwa. Ia punya rasa. Ia punya filosofi di balik setiap katanya.
Maka, Bos, pakai bahasa gaul boleh. Tapi jangan lupakan bahasa asli kita. Karena ketika bahasa itu hilang, yang hilang bukan cuma kata-kata. Yang hilang adalah cara kita memandang dunia.
Dan cara kita memandang dunia itulah yang membuat kita menjadi kita.
π‘ Penutup: Jadilah Generasi yang Tahu Akar
Artikel ini bukan untuk menghina bahasa gaul. Bahasa gaul itu asyik, kreatif, dan menunjukkan dinamika bahasa Indonesia yang hidup.
Tapi jangan sampai kita mengira bahasa gaul itu bahasa daerah. Jangan sampai kita menyebut "lantam" sebagai bahasa Jawa, padahal itu bahasa Indonesia baku yang ada di KBBI.
Jadilah generasi yang tahu akar. Yang bisa bilang "santuy" di medsos, tapi juga tahu bahwa bahasa Jawa aslinya adalah "alon-alon waton kelakon". Yang bisa bilang "bucin" ke teman, tapi juga tahu bahwa bahasa Jawa aslinya adalah "kesengsem" atau "lara branta".
Semoga kita semua bisa menjadi penjaga bahasa, bukan hanya pengguna bahasa. πΏπ€
π Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan ahli bahasa. Artikel ini dirangkum dari KBBI, kamus bahasa Jawa, dan pengamatan budaya pop di media sosial. Jika ada kekeliruan, mohon koreksi dengan lembut di kolom komentar. Matur nuwun!
π KAMUS KECIL
- Lantam — (Bhs. Indonesia) Keras sekali; angkuh/sombong
- Gumedhe — (Bhs. Jawa) Sombong, besar kepala
- Kesengsem — (Bhs. Jawa) Terlalu cinta, tergila-gila
- Lara branta — (Bhs. Jawa) Sakit karena tergila-gila cinta
- Kesed — (Bhs. Jawa) Malas
- Mangkel — (Bhs. Jawa) Kesal, gemas
- Ndeso — (Bhs. Jawa) Kampungan, berasal dari desa
Tag :
Kamus Jawa