Suatu malam yang hujan, seorang bapak tua pelanggan warung saya duduk termenung sambil memutar-mutar gelas kopinya. Ia baru saja kembali dari layatan kerabatnya. Tiba-tiba ia bergumam pelan, quoting sebuah pepatah Jawa kuno:
"Mas, orang tua dulu bilang: Gunung jungkruk, segoro sat. Gunung bisa runtuh, lautan bisa mengering. Tapi perbuatan baik dan doa untuk mereka yang sudah pergi, itu yang abadi."
| "Gunung bisa runtuh, lautan bisa mengering. Tapi ada hal-hal di dunia ini yang tak akan pernah musnah. 🏔️🌊" |
Saya tertegun. Bos, frasa "Gunung Jungkruk Segoro Sat" (atau yang dalam ejaan baku krama/kawi sering ditulis Gunung Jugrug Segara Asat) adalah salah satu kalimat paling magis, puitis, dan mistis dalam khazanah budaya Jawa.
Ia bukan sekadar peribahasa biasa. Ia punya dua wajah: di satu sisi ia adalah sumpah cinta yang melampaui waktu, di sisi lain ia adalah ilmu Primbon/Kejawen yang berkaitan dengan misteri kematian dan peleburan dosa. Mari kita selami maknanya.
📖 1. Makna Harfiah & Puitis: Sumpah yang Melampaui Waktu
Secara bahasa, frasa ini terdiri dari empat kata:
- Gunung = Gunung
- Jungkruk / Jugrug = Runtuh, longsor, hancur
- Segoro / Segara = Lautan, samudra
- Sat / Asat = Kering, surut, habis airnya
Jadi secara harfiah artinya: "Gunung runtuh, lautan mengering."
Dalam sastra tembang, mantra asmara, atau sumpah setia zaman dulu, kalimat ini digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang mustahil terjadi, atau sebuah janji yang tak akan pernah ingkar sampai akhir zaman.
Mirip dengan ungkapan Barat "Until the end of time" atau idiom Tiongkok "Hai ku shi lan" (Lautan mengering dan batu karang hancur).
Contoh penggunaannya dalam sumpah:
"Aku bakal tetep setyo, sanajan gunung jugrug segara asat." (Aku akan tetap setia, meskipun gunung runtuh dan lautan mengering — artinya: sampai kiamat / selamanya).
gunung
jungkruk
segoro
sat.
Apaan itu artinya.
Itu adalah ilmu kejawen, warisan leluhurmu wahai orang jawa semuanya.
Orang jawa pasti tahu artinya terutama orang-orang yang sudah tua.
Aku dapat ilmu pengertiannya dari ibuku dari nenekku.
Gunung jungkruk segoro sat itu adalah tanda hari baik buruknya orang yang meninggal dunia.
Lalu gimana menghitungnya, semoga akan saya lanjutkan kapan-kapan.
Sekarang ketahui dulu artinya.
Gunung = baik
jungkruk = jelek
segoro = baik
sat = jelek
gunung itu artinya ya gunung, bukit yang menjulang tinggi.
Kalau matinya seseorang di hari gunung setelah dihitung, pertanda baik dan akan menempati tempat tertinggi.
Jungkruk artinya didorong, jatuh, pertanda jelek.
Segoro artinya laut.
Pertanda baik, orang yang meninggal akan mendapatkan keluasan seperti luasnya samudra atau laut.
Sat atau asat artinya tidak ada air atau airnya sedikit sekali.
Orang yang meninggal di hari itu maka orang yang ditinggal akan sempit rejekinya.
SECRET KEJAWEN WETAN by ADMIN.
Kuharap jangan disebarluaskan, apapun alasannya demi kebaikan sesama.
💭 Renungan Penjaga Warung: Ilusi tentang Kekekalan
Sebagai penjaga warung, saya sering merenungkan kata-kata bapak tua tadi malam.
Kita, manusia, sering kali mencari sesuatu yang "kekal" untuk kita sandarkan. Kita membangun rumah dari beton supaya tahan ratusan tahun. Kita mengukir nama di batu nisan agar tidak terlupakan. Kita mengucapkan sumpah "sampai gunung runtuh dan laut mengering" karena kita takut pada perpisahan.
Tapi leluhur Jawa, dengan kearifannya, justru menampar kita dengan kenyataan: Gunung saja bisa runtuh (jugrug). Lautan saja bisa mengering (asat).
Bumi yang kita pijak ini tidak ada yang abadi. Fisik kita akan menua. Harta yang kita tumpuk akan ditinggal. Bahkan ingatan orang-orang tentang kita, lambat laun akan memudar ditelan waktu.
Lalu, jika gunung dan lautan saja bisa musnah, apa yang sebenarnya abadi?
Jawabannya tidak ada di luar sana. Jawabannya ada di apa yang kita pancarkan dari dalam diri kita.
- Kebaikan yang kita tanam tanpa pamrih.
- Cinta yang kita berikan tanpa syarat.
- Doa yang kita langitkan untuk mereka yang telah pergi.
- Dan anak-anak shaleh yang kita didik, yang akan terus mendoakan kita meski jasad kita sudah tiada.
Frasa Gunung Jungkruk Segoro Sat bukanlah ancaman tentang kiamat. Ia adalah pengingat yang lembut bahwa karena segala sesuatu di dunia fana ini pada akhirnya akan "runtuh dan mengering", maka jangan habiskan waktumu untuk mengejar hal-hal yang sifatnya sementara.
Kejarlah hal-hal yang tidak bisa dihancurkan oleh waktu. Kejarlah cinta, kejarlah ilmu, kejarlah kedekatan dengan Sang Pencipta.
💡 Penutup: Merawat yang Abadi di Tengah yang Fana
Bos, entah Anda menemukan frasa ini dalam sebuah tembang cinta, dalam hitungan Primbon weton, atau dalam untaian doa para sesepuh, intinya tetap sama: Keagungan Tuhan melampaui segala ciptaan-Nya yang paling megah sekalipun.
Mari kita rawat hubungan kita dengan sesama dan dengan Sang Pencipta. Karena pada hari di mana "gunung runtuh dan lautan mengering", hanya amal dan cinta kitalah yang akan menjadi jembatan penyeberangan kita.
Semoga kita semua diberi umur yang berkah, dan hati yang siap menghadapi segala musim kehidupan. 🏔️🌊🤍
🙏 Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan ahli spiritual, kyai, maupun pakar Primbon. Tulisan ini adalah perenungan budaya dari berbagai sumber sastra dan kejawen. Untuk pengamalan doa/asma atau petungan weton yang spesifik, sangat disarankan untuk berguru langsung pada sesepuh yang mumpuni. Matur nuwun!
📖 KAMUS KECIL
- Jugrug / Jungkruk — Runtuh, longsor (biasanya untuk gunung atau bangunan besar).
- Asat / Sat — Kering, surut, habis airnya (untuk lautan, sungai, atau sumur).
- Segara — Lautan / Samudra (Bahasa Jawa Krama/Kawi).
- Petungan — Sistem perhitungan tradisional Jawa (berdasarkan weton/neptu) untuk menentukan hari baik atau membaca tanda alam.
- Asma — Doa, wirid, atau mantra spiritual dalam tradisi Kejawen/Islam Nusantara.
Tag :
Kamus Jawa