Ayo nglestarekno Budoyo Jowo ben ora ilang Soko Bumi Nusantoro

Kau Memperhatikan Gerakku — Puisi Tentang Kesetiaan yang Dijaga dalam Diam [Puisi 2015]

📜 KISAH DI BALIK PUISI INI (Catatan Penulis, Agustus 2026):
Puisi ini kutulis tahun 2015, pada sebuah masa ketika aku sedang merasa dicurigai oleh seseorang yang sangat berarti. Ia sedang marah, sedang diam, sedang menjauh. Dan alih-alih membela diri dengan banyak kata, aku memilih menuliskannya. Karena kadang, kata-kata yang diucapkan lisan justru terdengar seperti pembelaan.
Aku tidak pernah menyangka tulisan kecil ini akan dibaca lebih dari 132.000 orang. Aku menulisnya untuk satu orang. Tapi ternyata, banyak hati lain yang diam-diam juga sedang berdiri di posisi yang sama — sedang menunggu dipercaya, sedang menjaga perasaan seseorang yang menjauh.
Aku tidak mengubah satu baris pun dari puisi ini. Karena ia adalah persis seperti saat ia lahir dulu. Yang kutambahkan hanyalah catatan ini — supaya kau tahu, bahwa di balik baris-baris ini, ada orang biasa yang juga pernah merasa dicurigai, tapi memilih untuk tetap setia.
Terima kasih sudah singgah. Dan jika hari ini kau sedang di posisi itu — semoga puisi ini memelukmu sebentar. 🤍

Aku tahu
Kau kini sedang memperhatikan
Setiap gerak langkahku

Tanpa mau kau berkata kata
Karena dirimu masih dalam
Amarah mu





Sayang, aku tak pernah
mengkhianatimu
apalagi menduakanmu
aku selalu ada buatmu
walau kini menjauh






Sayang, kau tak perlu
curiga akan lakuku
karena ku akan selalu
menjaga rasamu
yang kau titipkan kepadaku
dengan setiaku

💭 Sebuah Renungan Kecil Tentang Puisi Ini
Puisi ini bisa dibaca dengan dua cara, dan keduanya sama-sama benar.
Sebagai cinta pada manusia: Ini adalah suara seseorang yang tetap tenang meski dicurigai. Ia tidak marah balik. Ia tidak mengemis. Ia hanya berkata: "Aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku akan menjaga perasaanmu." Sebuah cinta yang dewasa, yang tidak perlu dibuktikan dengan drama.
Sebagai cinta pada Sang Pencipta: Banyak pembaca yang membacanya sebagai percakapan dengan Tuhan — "Aku tahu Kau sedang memperhatikan setiap gerak langkahku." Dan di sanalah puisinya menjadi doa: seorang hamba yang merasa sedang diuji, tapi tetap memilih setia, tetap menjaga "rasa" yang dititipkan Tuhan kepadanya.
Apapun caramu membacanya, pesan intinya satu: kesetiaan tidak selalu harus diteriakkan. Kadang, ia cukup dijaga dalam diam.
Dan baris "rasamu yang kau titipkan kepadaku" mengingatkan kita: perasaan orang lain adalah titipan, bukan milik kita. Ia harus dijaga, bukan dipermainkan. Semoga kita semua mampu menjaga titipan itu. 🤍
Tag : Ngomong
Back To Top