🔥 CATATAN PENTING DARI ADMIN (Update Agustus 2026):Artikel ini pertama kali saya tulis bertahun-tahun lalu dan alhamdulillah sudah membantu lebih dari 383.000 pelajar, guru, dan pecinta Basa Jawa. Matur nuwun sanget!Supaya materi ini tetap menjadi referensi paling lengkap dan paling gampang dipahami di internet, saya telah merombak dan memperbaruinya. Sekarang dilengkapi dengan puluhan contoh kata, tabel perubahan, tuladha ukara (contoh kalimat), dan aturan emas yang sering menjebak murid saat ujian. Monggo disimak!
| "Basa Jawa itu logis. Sekali paham polanya, ribuan kata jadi gampang. 📚" |
📖 Segarkan Ingatan: Apa itu Tripurusa?
Sebelum masuk ke contoh, kita bedah dulu namanya biar gampang hafal:
- Tembung Tanggap = Kata kerja pasif (yang dikenai pekerjaan).
- Ater-ater = Awalan (prefix).
- Tripurusa = Berasal dari kata Tri (tiga) dan Purusa (orang/pribadi).
Jadi, Ater-ater Tripurusa adalah 3 macam awalan yang menunjukkan siapa (orang ke berapa) yang melakukan pekerjaan itu dalam kalimat pasif. Tiga awalan itu adalah: Dak- (Aku), Kok- (Kowe), dan Di- (Dheweke/Wong liya).
🟢 1. Ater-ater "Dak-" (Orang Pertama / Aku)
Awalan Dak- digunakan ketika pekerjaan itu dilakukan oleh saya (aku). Dalam bahasa Indonesia, ini setara dengan akhiran -ku atau kata ku-.
Rumus: Dak + Tembung Tanduk (Kata Dasar)
Tuladha Ukara (Contoh Kalimat):
- "Sega goreng iki dakpangan mau esuk." (Nasi goreng ini kumakan tadi pagi.)
- "Buku crita iki lagi wae daktuku ing pasar." (Buku cerita ini baru saja kubeli di pasar.)
🟡 2. Ater-ater "Kok-" (Orang Kedua / Kowe)
Awalan Kok- digunakan ketika pekerjaan itu dilakukan oleh kamu (kowe/sampeyan). Dalam bahasa Indonesia, ini setara dengan akhiran -mu atau kata kau-.
Rumus: Kok + Tembung Tanduk (Kata Dasar)
Tuladha Ukara (Contoh Kalimat):
- "Kue sing ing meja kokpangan mau bengi, ya?" (Kue yang di meja itu kaumakan tadi malam, ya?)
- "Lawang iki kokbukak saka njaba apa saka njero?" (Pintu ini kaubuka dari luar atau dari dalam?)
🔴 3. Ater-ater "Di-" (Orang Ketiga / Dheweke)
Awalan Di- digunakan ketika pekerjaan itu dilakukan oleh dia, mereka, atau orang lain. Ini adalah bentuk yang paling umum dipakai dan setara dengan awalan di- dalam bahasa Indonesia.
Rumus: Di + Tembung Tanduk (Kata Dasar)
Tuladha Ukara (Contoh Kalimat):
- "Omah peninggalan simbah wis didol wingi." (Rumah peninggalan kakek sudah dijual kemarin.)
- "Klambi seragam iki dikumbah ibu saben dina Setu." (Baju seragam ini dicuci ibu setiap hari Sabtu.)
⚠️ Aturan Emas (Sering Menjebak Saat Ujian!)
Ini bagian yang jarang dibahas buku paket, tapi penting banget supaya Basa Jawa kita tetap sopan (unggah-ungguh):
1. Dak- dan Kok- HANYA untuk Ngoko!
Awalan Dak- dan Kok- umumnya hanya dipakai dalam Basa Ngoko (bahasa santai/akrab). Kalau kita bicara dengan orang yang lebih tua atau dihormati (Basa Krama), kita TIDAK BOLEH memakai Dak- dan Kok-.
- ❌ Salah: "Pangandikanipun Bapak sampun kocrerapi." (Krama Inggil tapi pakai Kok-).
- ✅ Benar (Krama): "Pangandikanipun Bapak sampun kula aturi." (Pakai kata ganti "Kula" terpisah, bukan ditempel).
2. Posisi Subjek (Pelaku)
Dalam Tembung Tanggap, pelakunya boleh diletakkan di belakang kata kerja tanpa spasi (disambung) khusus untuk orang ketiga tertentu, tapi lebih aman dan baku kalau dipisah.
- Buku diwaca Budi. (Buku dibaca Budi) -> Benar.
- Buku dibaca Budi. (Campur Indo) -> Salah.
3. Jangan Tertukar dengan Awalan "Ka-"
Ka- (seperti katulis, kabawa) juga termasuk ater-ater tanggap, tapi BUKAN tripurusa. Ka- itu awalan pasif murni tanpa menunjukkan siapa pelakunya secara spesifik (ter-).
💡 Penutup: Belajar Basa Jawa Itu Logis
Basa Jawa itu sebenarnya sangat logis dan rapi. Kalau kita sudah paham pola Dak-, Kok-, Di-, kita bisa mengubah ribuan kata kerja aktif menjadi pasif dengan mudah.
Semoga rangkuman ini membantu adik-adik yang sedang persiapan ulangan, atau bapak/ibu guru yang sedang mencari bahan ajar. Sugeng sinau, dan tetap lestarikan Basa Jawa! 🤍
🙏 Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan guru bahasa Jawa, bukan ahli sastra, dan bukan budayawan. Saya hanyalah penjaga toko yang mencoba merangkum materi ini dari buku-buku paket lama dan obrolan dengan sesepuh. Jika para guru, sesepuh, atau teman-teman yang lebih paham menemukan kekeliruan atau dialek daerah yang berbeda, mohon sudi mengoreksi dengan lembut di kolom komentar. Matur nuwun!
Tiga ater-ater yang biasanya menyertai tembung tanggap adalah:
1. Dak.
2. Ko.
3. Di.
Ater-ater tersebut dinamakan dengan ater-ater tripurusa.
Contoh tembung tanggap yang mendapat ater-ater tripurusa adalah:
1. Dakombe = dak + ombe.
2. Koombe = ko + ombe.
3. Diombe = di + ombe.
Dakombe sering diutarakan dengan tak ombe oleh orang Jawa dalam komunikasi sehari-hari. Tembung tanggap memang biasanya menjdapat ater-ater tripurusa.
Itulah kata pasif dalam basa Jawa, semoga menambah pengetahuan kita semuanya.
Tag :
Kamus Jawa

3 Komentar untuk "3 Macam Contoh Tembung Tanggap Ater-ater Tripurusa Terlengkap [UPDATE 2026 + Tabel & Aturan Emas]"
Yang sering kudengar di percakapan keseharian 'diombe', mas.
Artikelnya bagus, bermanfaat menambah pengetahuan bahasa Jawa untuk kita semua.
kalau di etan
dak jadi tak
ko jadi mbok
di tetep di
puhunge tak emplok
puhunge mbok emplok
puhunge diemplok
XD
Haha... seperti biasa gua kurang ngerti, tapi baca aja dulu hehe
"Silakan berkomentar dengan santun dan bijak. Diskusi yang sehat dimulai dari hati yang lapang. Mohon jangan menyertakan link aktif di kolom komentar untuk menjaga kenyamanan bersama."