Malam itu, warung saya kedatangan seorang pemuda yang wajahnya kusut seperti kertas diremas. Ia baru saja di-PHK, dan bulan depan anaknya masuk sekolah. Ia memesan teh tawar — pertanda dompetnya sedang tidak baik-baik saja — lalu menatap kosong ke arah hujan.
"Mas, saya ini kadang tidak bisa tidur. Mikirin besok makan apa, mikirin SPP anak, mikirin hutang. Rasanya dada saya sesak, Mas..."
Belum sempat saya menjawab, Mbah Karmin di sudut warung — yang sejak tadi asyik dengan radionya — berkata pelan tanpa menoleh:
"Ojo sumelang, Le..."
Pemuda itu menoleh. Mbah Karmin melanjutkan, kali ini sambil tersenyum: "Sing penting kowe wis cancut taliwanda — wis nyingsingake lengen, wis usaha. Urusan hasil... wis ana Sing Ngatur."
Malam itu, di warung sederhana ini, dua warisan terbesar orang Jawa duduk berdampingan: semangat untuk berusaha, dan ketenangan untuk berserah. Dan kata yang kedua itulah yang ingin saya bedah malam ini: ojo sumelang.
🍃 Jawaban Singkat: Ojo Sumelang Tegese...
Dalam bahasa Jawa:
Ojo sumelang (juga ditulis aja sumelang) berarti "jangan khawatir" atau "jangan cemas".
Bedah katanya sederhana:
Sumelang bukan sekadar "khawatir" biasa. Ia adalah rasa was-was yang mengganjal di dada — perasaan tidak tenang tentang sesuatu yang belum terjadi, yang membuat orang sulit tidur dan sulit makan.
Dalam khazanah rasa orang Jawa, sumelang bersaudara dengan getun (penyesalan) dan cuwa (kekecewaan) — trio perasaan yang paling sering menggerogoti hati manusia.
Maka ketika seorang sesepuh berkata "ojo sumelang", beliau tidak sedang basa-basi. Beliau sedang meminta kita meletakkan beban yang sebenarnya tidak perlu kita pikul sendirian.
🎼 Frasa yang Menjadi Lagu: Ninabobo untuk Hati Dewasa
Ada satu hal yang membuat saya merinding setiap kali memikirkannya: frasa ojo sumelang ini begitu dicintai orang Jawa, sampai ia diabadikan menjadi lagu.
Ada langgam dan campursari berjudul "Ojo Sumelang" yang dinyanyikan lintas generasi
. Ada lagu "Sumelang" dari Ngatmombilung yang liriknya menggambarkan kerisauan tentang perjalanan hidup
. Ada pula lirik "ojo sumelang, ono dino liyane" — jangan khawatir, akan ada hari lain — yang belakangan viral dan dinyanyikan jutaan orang.
Coba Bos renungkan: kenapa orang Jawa merasa perlu menyanyikan "jangan khawatir"?
Karena mereka tahu, nasihat "jangan khawatir" yang hanya diucapkan biasa akan masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Tapi ketika ia dinyanyikan — dengan cengkok yang lembut, dengan gamelan yang pelan — ia meresap ke tempat yang lebih dalam: ke hati.
Ojo sumelang adalah ninabobo untuk orang dewasa. Karena ternyata, hati orang dewasa pun sama gelisahnya dengan hati anak kecil yang takut gelap — hanya saja, orang dewasa tidak punya siapa-siapa lagi untuk meninabobokan mereka. Maka mereka meninabobokan diri sendiri, lewat tembang. 🎼
⚖️ Tapi Ingat: Ojo Sumelang BUKAN Berarti Ojo Usaha!
Di sinilah letak kesalahpahaman terbesar. Banyak orang mengira ojo sumelang adalah ajaran untuk pasrah tanpa usaha — "Ah, jangan khawatir, biarlah mengalir, tidak usah ngoyo."
Itu keliru, Bos. Orang Jawa tidak pernah memisahkan ojo sumelang dari ikhtiar. Itulah kenapa Mbah Karmin menyambungkannya dengan cancut taliwanda:
- Cancut taliwanda = singsingkan lenganmu, bekerjalah dengan sungguh-sungguh.
- Ojo sumelang = setelah engkau berusaha, jangan biarkan kecemasan mencuri tidurmu.
Urutannya tidak boleh terbalik. Orang yang berkata "ojo sumelang" tapi tidak pernah berusaha, itu bukan orang bijak — itu orang malas. Tapi orang yang sudah cancut taliwanda lalu masih juga sumelang sampai tidak bisa tidur, itu sedang menyiksa diri dengan beban yang bukan miliknya.
Dalam istilah agama, pasangan ini bernama ikhtiar dan tawakal. Dalam istilah psikologi modern, ia bernama usaha maksimal dan penerimaan (acceptance). Orang Jawa, seperti biasa, sudah merangkumnya dalam dua frasa pendek yang bisa diucapkan sambil lalu di pinggir sawah.
🧠 Sains Modern Mengangguk: Sebagian Besar yang Kita Khawatirkan Tidak Pernah Terjadi
Penelitian-penelitian psikologi modern menemukan hal yang mengejutkan: sebagian besar hal yang kita khawatirkan tidak pernah benar-benar terjadi. Kecemasan kita lebih sering adalah "tagihan" untuk bencana imajiner yang tidak pernah datang.
Leluhur Jawa tampaknya sudah tahu ini ratusan tahun lebih awal. Sumelang dianggap sebagai penyakit hati yang harus diobati, bukan kewajaran yang harus dipelihara. Maka mereka menciptakan obatnya: ucapan "ojo sumelang" yang diwariskan dari mulut ke mulut, dari sesepuh ke cucu, dari radio tua ke lagu-lagu campursari.
Setiap kali seorang ibu Jawa berkata pada anaknya yang merantau: "Ojo sumelang, Le. Ibu nang kene sehat..." — sebenarnya beliau sedang melakukan terapi kognitif paling tua di dunia: mengalihkan pikiran dari bencana imajiner, kembali ke kenyataan yang baik-baik saja.
💭 Renungan Penjaga Warung: Untuk Hati yang Begadang
Sebagai penjaga warung, saya tahu betul wajah-wajah yang sumelang: pedagang yang cemas dagangannya tidak laku, bapak yang cemas cicilannya, ibu yang cemas anaknya, anak muda yang cemas masa depannya. Dan jujur saja, Bos — kadang saya sendiri juga.
Maka malam ini, izinkan saya meminjam suara Mbah Karmin, dan berkata kepada Bos — dan kepada diri saya sendiri:
Ojo sumelang.
Bukan karena hidup ini mudah. Bukan karena masalah Bos tidak nyata. Tapi karena mengkhawatirkan hujan tidak akan menghentikan hujan — yang menghentikan hujan hanyalah waktunya sendiri. Tugas kita hanya satu: cancut taliwanda — lakukan bagian kita sebaik-baiknya. Sisanya... percayakan pada Sang Pemilik Sisa.
Karena pada akhirnya, hati yang tenang bukanlah hati yang tidak punya masalah. Hati yang tenang adalah hati yang sudah meletakkan masalahnya di tempat yang tepat: di tangan yang tidak pernah tidur menjaga kita. 🍃🤍
Ojo sumelang, Bos. Sing penting wis usaha. Turua sing penak.
- Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan ahli linguistik maupun psikolog. Arti dirangkum dari rujukan bahasa Jawa, kamus daring, serta tutur para sesepuh. Jika para pinisepuh memiliki versi lain, kami senang belajar di kolom komentar. Matur nuwun!*
📖 KAMUS KECIL
Tag :
Kamus Jawa