Sore itu, seorang anak SMP mampir ke warung dengan buku pelajaran Bahasa Jawa di tangan. Wajahnya bingung setengah mati.
"Mas, saya disuruh cari arti peribahasa 'suwe mijet wohing ranti'. Tapi kok aneh ya, Mas? Katanya 'suwe' itu 'lama', tapi artinya kok 'cepat banget'? Logikanya gimana sih?"
| "Satu pijitan pada buah kecil — dan dalam sekejap, leluhur Jawa menciptakan peribahasa yang bertahan berabad-abad. 🍅" |
Saya tertawa kecil, lalu menuangkan teh hangat untuknya. "Itulah indahnya bahasa Jawa, Le. Leluhur kita tidak selalu bicara lurus — kadang mereka bicara terbalik supaya kita berhenti dan berpikir. Mari saya jelaskan."
Malam ini, mari kita bedah peribahasa yang sering muncul di pelajaran Bahasa Jawa kelas 8 ini — bukan hanya artinya, tapi logika puitis di baliknya. 🌿
🍅 Jawaban Singkat: Suwe Mijet Wohing Ranti Tegese...
Dalam khazanah sastra Jawa, suwe mijet wohing ranti termasuk dalam kategori sanepa — peribahasa yang menggunakan perbandingan ironis atau bertolak belakang.
Artinya:
Cepet banget — sangat cepat, sebentar sekali, atau pekerjaan yang sangat mudah diselesaikan.
Bedah kata harfiahnya:
Jadi secara harfiah, artinya: "Lama memijat buah ranti."
🤔 Kok Logikanya Terbalik? Inilah Seni Sanepa!
Nah, ini bagian yang paling sering bikin bingung, Bos. Kalau artinya "lama memijat buah ranti", kok jadinya "cepat sekali"?
Rahasianya ada pada buah ranti itu sendiri. Buah ranti adalah sejenis tomat kecil yang sangat lunak.
Untuk memijitnya sampai pecah, hanya butuh sekejap mata — tidak mungkin butuh waktu lama.
Maka ketika orang Jawa bilang "suwe mijet wohing ranti" (lama memijit buah ranti), yang mereka maksud sebenarnya adalah: "Wah, kalau ini sih lebih lama dari memijit buah ranti — yang artinya nggak lama sama sekali!"
Inilah seni sanepa dalam bahasa Jawa: memakai gambaran yang bertolak belakang dengan kenyataan untuk menekankan sesuatu. Contoh sanepa lain yang sering kita dengar:
- Cahya bleng (cahaya buta) = gelap sekali
- Wujude agal glepung (rupanya kasar seperti tepung) = halus sekali
- Legi bratawali (manis seperti bratawali) = pahit sekali
Jadi suwe mijet wohing ranti sebenarnya sedang berkata: "Ini lebih lama dari memijit buah ranti — yang artinya ini sangat cepat sekali!" Logika puitis yang jenius, bukan? 🍅
📝 Contoh Penggunaan dalam Kalimat
Contoh 1 (pekerjaan mudah):
"Nyapu latar kuwi mung suwe mijet wohing ranti, limang menit wis rampung." (Menyapu halaman itu sangat cepat, lima menit sudah selesai.)
Contoh 2 (waktu singkat):
"Wektune mung suwe mijet wohing ranti, durung ana sakjam wis tutug." (Waktunya sangat singkat, belum sejam sudah sampai.)
Contoh 3 (tugas mudah):
"PR matematika kuwi suwe mijet wohing ranti gawene, gampang banget." (PR matematika itu sangat mudah dikerjakan.)
🌾 Buah Ranti: Tanaman Kecil di Pekarangan Dulu
Banyak anak muda zaman sekarang tidak tahu buah ranti. Padahal dulu, tanaman ini tumbuh liar di hampir setiap pekarangan rumah Jawa.
Ranti (Solanum nigrum, juga disebut terong glathik atau leunca) adalah tanaman kecil dengan buah bulat seukuran kelereng. Saat masih muda berwarna hijau, dan ketika matang berubah menjadi hitam mengkilap. Buah yang masih muda sering dipijit-pijit anak-anak untuk bermain, atau dimakan sebagai lalapan bersama sambal.
Karena kulitnya tipis dan isinya lunak, sekali dipijit langsung pecah — itulah kenapa buah ini dijadikan gambaran untuk "hal yang sangat cepat selesai".
Sayangnya, di zaman modern ini, ranti sudah makin jarang ditemukan di pekarangan. Tapi namanya tetap abadi dalam peribahasa — bukti bahwa leluhur Jawa sangat dekat dengan alam di sekeliling mereka. 🌱
💭 Renungan Penjaga Warung: Menghargai Hal-Hal yang "Mudah"
Sebagai penjaga warung, saya sering merenung: kenapa leluhur Jawa memilih buah ranti yang kecil dan mudah sebagai gambaran, bukan sesuatu yang besar dan sulit?
Karena ada kebijaksanaan tersembunyi di baliknya.
Di dunia yang sering memuja hal-hal besar — pencapaian besar, kekayaan besar, kesuksesan besar — peribahasa ini justru mengingatkan kita bahwa ada keindahan dalam hal-hal yang mudah dan sederhana.
Menyapu halaman itu suwe mijet wohing ranti. Memasak nasi itu suwe mijet wohing ranti. Memberi salam pada tetangga itu suwe mijet wohing ranti. Semua hal kecil yang sering kita remehkan, sebenarnya adalah kesempatan-kesempatan kecil untuk berbuat baik.
Banyak orang menunggu "momen besar" untuk berubah hidup: menunggu gaji besar untuk bersedekah, menunggu libur panjang untuk beribadah, menunggu pensiun untuk menghabiskan waktu dengan keluarga. Padahal, hal-hal kecil yang suwe mijet wohing ranti itu justru yang paling sering kita tunda — dan yang paling sering kita sesali saat sudah tidak bisa dilakukan lagi.
Maka malam ini, mari kita renungkan: hal "mudah" apa yang sudah lama kita tunda?
- Satu telepon ke orang tua — suwe mijet wohing ranti.
- Satu senyum tulus untuk pasangan — suwe mijet wohing ranti.
- Satu ayat Al-Qur'an sebelum tidur — suwe mijet wohing ranti.
- Satu kata maaf untuk teman lama — suwe mijet wohing ranti.
Leluhur Jawa sudah memberi kita kodenya: yang mudah itu justru yang paling berharga. Jangan sampai kita baru sadar setelah "buah ranti" itu tidak bisa dipijit lagi. 🍅🤍
- Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan ahli sastra Jawa. Arti dirangkum dari buku peribahasa Jawa (Adi Triyono), portal budaya, serta penjelasan para guru Bahasa Jawa. Jika para pinisepuh memiliki versi lain, kami senang belajar di kolom komentar. Matur nuwun!*
📖 KAMUS KECIL
Tag :
Kamus Jawa