Sore itu, hujan turun rintik-rintik membasahi atap warung. Seorang pelanggan setia, Pak Karsono, duduk menyeruput kopinya dengan tatapan kosong. Ia baru saja pulang dari pemakaman tetangga sekaligus sahabat karibnya.
"Dia pergi dengan tenang, Mas," ucap Pak Karsono pelan, memecah keheningan. "Orang baik seperti dia itu, rasanya nggak mati. Kayak orang moksa saja. Badanya memang sudah di kubur, tapi rasanya dia masih ada di sini, ngopi bareng saya."
Kata "moksa" yang terucap dari lisan seorang bapak tua di warung itu membuat saya terhenti. Di zaman modern yang serba logis ini, kata itu terdengar seperti dongeng. Tapi bagi leluhur kita, moksa bukanlah dongeng. Ia adalah puncak dari seluruh pencarian hidup manusia.
Malam ini, mari kita duduk sebentar, melupakan hiruk-pikuk dunia, dan merenungkan sebuah konsep tua yang bisa mengajarkan kita cara hidup—dan cara mati—dengan lebih indah.
🕉️ Roda Raksasa dan Pintu Keluar
Untuk memahami Moksa, kita harus memahami dulu bagaimana leluhur Timur memandang kehidupan.
Dalam filsafat Hindu dan Buddha, alam semesta ini digerakkan oleh sebuah roda raksasa bernama Samsara. Roda ini adalah siklus kelahiran, kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali. Apa yang menggerakkan rodanya? Karma dan Nafsu/Ego.
Selama kita masih memiliki keterikatan pada dunia—masih marah, masih serakah, masih dendam, masih takut kehilangan—maka jiwa kita akan terus "terlempar" kembali ke dunia ini. Lahir lagi, menderita lagi, belajar lagi, mati lagi.
Lalu, apa itu Moksa?
Moksa adalah saat di mana Anda berhasil "melompat keluar" dari roda raksasa itu.
Ketika batin sudah benar-benar jernih, ketika ego sudah lebur, dan ketika tidak ada lagi karma yang mengikat Anda ke bumi, maka jiwa Anda bebas. Ia tidak perlu lahir lagi. Ia pulang dan menyatu kembali dengan Sang Pencipta, atau mencapai kekosongan yang sempurna (Nirwana). Moksa adalah kelulusan tertinggi dari sekolah bernama "Dunia".
🌿 Sirna Tanpa Tilas: Mistisisme Tanah Jawa
Ketika konsep Moksa ini sampai ke Nusantara, para leluhur Jawa dan Sunda memberinya warna yang lebih magis dan puitis. Dalam tradisi Kejawen, Moksa sering disandingkan dengan frasa yang sangat indah: Sirna Tanpa Tilas.
- Sirna = Musnah, hilang, lebur bersama alam semesta.
- Tanpa Tilas = Tidak meninggalkan bekas fisik (jasad, tulang belulang, atau makam).
Leluhur kita percaya bahwa tidak sembarang orang bisa sirna tanpa tilas. Hanya mereka yang tingkat spiritualnya sudah mencapai puncaknya, yang tugas duniawinya sudah tuntas 100%, yang jasad fisiknya tidak akan membusuk di dalam tanah. Jasad itu berubah menjadi cahaya, menjadi energi, menyatu dengan angin dan pepohonan.
Itulah sebabnya dalam legenda, tokoh-tokoh besar seperti Mahapatih Gajah Mada (setelah Sumpah Palapa-nya terwujud) atau Prabu Siliwangi (saat ia menolak berperang melawan anaknya sendiri) dikisahkan moksa atau ngahiang (menghilang). Mereka dianggap terlalu suci untuk dikubur. Tanah tidak pantas menampung raga yang sudah sepenuhnya berisi cahaya.
🍂 "Moksa"-nya Wong Cilik (Manusia Biasa)
Mungkin Bos akan bertanya: "Lha kita ini cuma orang biasa, Qwen. Mana mungkin kita bisa moksa sampai jasad kita hilang tanpa bekas?"
Benar, Bos. Secara fisik, hukum alam menuntut jasad kita untuk kembali menjadi tanah. Tapi, ada satu jenis "Moksa" yang bisa dan harus kita praktikkan setiap hari, bahkan saat kita masih hidup: Moksa dari Ego.
Berapa banyak dari kita yang "terpenjara" oleh masa lalu?
Kita memelihara dendam pada teman yang pernah menghianati kita. Kita memelihara amarah pada pasangan yang melakukan kesalahan. Kita memelihara keserakahan, ingin selalu menang, ingin selalu dipuji. Itu semua adalah beban yang membuat jiwa kita berat, yang membuat kita terus berputar di roda penderitaan.
Memaafkan adalah bentuk Moksa.
Saat Anda memutuskan untuk memaafkan seseorang yang bahkan tidak minta maaf, saat Anda merelakan sesuatu yang bukan hak Anda, saat Anda melepaskan keinginan untuk selalu terlihat benar... di detik itu, ego Anda sirna. Batin Anda moksa. Anda menjadi ringan. Anda bebas.
🐾 Paradoks "Tilas": Jejak yang Tak Akan Pernah Hilang
Ada satu paradoks indah dari frasa Sirna Tanpa Tilas.
Jika tujuan akhirnya adalah "tanpa tilas" (tanpa jejak), kenapa manusia sibuk membangun monumen, menulis buku, atau menumpuk harta?
Jawabannya, Bos, karena kita sering salah paham tentang apa itu "jejak". Jejak yang sejati bukanlah batu nisan yang dipahat dari marmer mahal. Jejak yang sejati bukanlah nama yang diukir di dinding gedung.
Jejak yang sejati adalah kehangatan yang kita tinggalkan di hati orang lain.
Saya teringat pada Koko, kucing penjaga warung saya yang wafat ditabrak mobil beberapa waktu lalu. Secara fisik, Koko memang sirna. Jasadnya sudah kembali ke tanah, tidak ada makam megah untuknya. Tapi apakah dia tanpa tilas?
Sama sekali tidak.
Tilas (jejak) Koko ada di sudut dapur yang dulu selalu ia jaga dari tikus. Tilas-nya ada di dengkuran halusnya yang masih sering saya rindu di malam hari. Tilas-nya ada di artikel blog ini, yang dibaca oleh ribuan orang yang juga pernah kehilangan sahabat berbulunya.
Koko tidak butuh makam. Ia moksa di dalam kenangan dan cinta. Dan cinta, Bos, adalah satu-satunya hal di alam semesta ini yang kebal terhadap waktu.
💭 Penutup: Pulang dengan Ringan
Sebagai penjaga warung yang setiap hari melihat orang datang dan pergi, saya belajar satu hal: kita tidak perlu menunggu mati untuk berlatih moksa.
Berlatihlah setiap hari.
Lepaskan amarah hari ini sebelum tidur.
Iklaskan rezeki yang hari ini tidak jadi milik kita.
Sayangi orang-orang di sekitar kita selagi mereka ada di depan mata.
Agar nanti, ketika waktu kita di warung dunia ini habis, kita tidak pergi dengan membawa beban yang berat. Kita bisa tersenyum, menutup mata, dan berkata pada Semesta:
"Tugasku sudah selesai. Aku pamit. Sirna... namun meninggalkan cinta sebagai tilas." 🍂🤍
- Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan rohaniwan atau ahli filsafat. Tulisan ini adalah renungan personal yang dirangkum dari berbagai literasi budaya Timur, Kejawen, dan pengamatan kehidupan sehari-hari. Matur nuwun!*
📖 KAMUS KECIL
Tag :
Ngomong