Sore itu, hujan turun rintik-rintik. Seorang ibu muda mampir ke warung untuk berteduh sambil menggendong anaknya. Ia menghela napas panjang dan bercerita kepada saya betapa sulitnya mencari pembantu di zaman sekarang.
"Mas, cari ART sekarang susah banget. Baru kerja dua bulan, tiba-tiba pamit pulang kampung, lalu nggak balik lagi. Ganti lagi, ganti lagi. Zaman nenek saya dulu, pembantunya bisa ikut keluarga sampai puluhan tahun, sudah dianggap kayak saudara sendiri. Kok sekarang rasanya beda ya, Mas?"
| "Mereka yang menyapu halaman dan memasak makanan kita bukan sekadar pekerja. Mereka adalah orang-orang yang mewakafkan tenaganya untuk memudahkan hidup kita. ððĪ" |
Saya menuangkan teh hangat untuknya dan tersenyum tipis. *"Bu, beda zaman memang beda cara kita memandang sesuatu. Dulu, kita menyebut mereka 'Parekan'. Sekarang, kita menyebut mereka 'ART'. Perubahannya bukan sekadar pada sebutan, tapi pada rasa dan ikatan batin di dalamnya."*
Malam ini, mari kita duduk sejenak, mengenang kembali arti "Parekan", dan merenungkan apakah kemajuan zaman telah membuat rumah kita menjadi terlalu kaku dan transaksional. ððĄ
ð Bagian 1: Arti "Parekan" — Sang Penjaga yang Selalu "Dekat"
Dalam Bahasa Jawa, kata Parekan (ęĶĨęĶŦꦺęĶęĶĪ꧀) secara harfiah berarti pembantu, pelayan, atau abdi.
Namun, kalau kita bedah dari asal katanya, parekan berasal dari kata dasar "parek" yang artinya dekat atau mendekat. Jadi, secara filosofis, parekan adalah "orang yang selalu berada di dekat kita" untuk membantu, melayani, dan meringankan beban hidup majikannya sehari-hari.
Di masa lalu, seorang parekan jarang dianggap sebagai "karyawan" yang dibayar putus setiap bulan. Mereka sering kali tinggal di dalam rumah (live-in), makan dari dapur yang sama, dan tidur di kamar yang berdampingan dengan penghuni rumah.
Karena selalu parek (dekat), timbulah ikatan emosional. Anak-anak majikan sering kali memanggil mereka dengan sebutan hormat dan penuh kasih sayang, seperti "Mbah", "Bulik", atau "Paklik". Ketika parekan itu tua dan tidak lagi kuat bekerja, majikan yang baik tidak akan membuangnya. Mereka akan tetap merawatnya sampai akhir hayat sebagai bentuk balas budi. Ada rasa kekeluargaan yang mengikat mereka.
ðĪ Bagian 2: Parekan vs. Rewang (Gotong Royong vs. Pengabdian)
Banyak orang luar Jawa sering tertukar antara parekan dan rewang. Mari kita luruskan:
- Parekan: Adalah orang yang profesinya membantu mengurus rumah tangga majikan secara harian. Hubungan ini bersifat jangka panjang dan mengikat secara batin.
- Rewang (atau Sambatan): Adalah tetangga atau kerabat yang datang membantu secara sukarela (gotong royong) ketika ada hajatan besar, seperti pernikahan atau membangun rumah. Mereka membantu di dapur umum, lalu pulang ke rumah masing-masing setelah acara selesai. Rewang adalah wujud kerukunan bertetangga, sedangkan parekan adalah wujud pengabdian kerja.
ðĒ Bagian 3: Pergeseran Makna di Era Modern (Menjadi ART)
Hari ini, istilah parekan mulai terdengar kuno. Kita menggantinya dengan istilah yang lebih profesional dan menghargai hak asasi manusia: ART (Asisten Rumah Tangga).
Secara hukum dan profesionalisme, ini adalah kemajuan yang luar biasa. ART kini memiliki kontrak kerja yang jelas, jam istirahat yang manusiawi, hari libur, dan hak-hak yang dilindungi oleh negara. Mereka tidak lagi dianggap sebagai "harta milik" majikan, melainkan sebagai pekerja profesional.
Namun, di balik kemajuan ini, ada sesuatu yang perlahan luntur: Ikatan kekeluargaan.
Karena semuanya kini didasarkan pada "kontrak" dan "gaji bulanan", hubungan majikan dan ART sering kali terasa sangat kaku. Ketika ART merasa kurang nyaman sedikit saja, atau mendapat tawaran gaji lebih tinggi lima puluh ribu rupiah di rumah sebelah, mereka bisa pergi kapan saja tanpa rasa sungkan.
Di sisi lain, tak jarang majikan memperlakukan ART murni sebagai "mesin pembersih rumah". Kalau kerjanya lambat, langsung diganti. Kita lupa bahwa di balik seragam kerja mereka, ada seorang ibu yang merindukan anaknya di kampung, atau ada seorang ayah yang sedang berjuang menyekolahkan keluarganya. Kita kehilangan rasa "parek" (kedekatan) itu.
ðĄ Bagian 4: Filosofi "Ngawula" dan Cara Memperlakukan Mereka
Di sinilah kearifan lokal Jawa tentang "Ngawula" (melayani) dan "Andhap Asor" (kerendahan hati) menjadi sangat relevan bagi kita yang mungkin hari ini berposisi sebagai majikan atau atasan.
Orang Jawa zaman dulu percaya bahwa sehebat-hebatnya kita, kita tetap butuh orang lain. Rumah kita tidak akan bersih, makanan kita tidak akan tersaji, dan bisnis kita tidak akan jalan tanpa tangan-tangan mereka yang bekerja di belakang layar.
Bagaimana seharusnya kita memperlakukan mereka di era modern ini?
- Gunakan Kata Ajaib: "Tolong" dan "Terima Kasih". Jangan pernah memberi perintah dengan nada membentak. Meminta tolong dan berterima kasih atas masakan mereka tidak akan menurunkan gengsi kita, justru mengangkat derajat kemanusiaan kita.
- Berikan Haknya dengan Tepat Waktu. Jangan menunda gaji mereka, karena dari uang itulah anak-anak mereka bisa makan dan bersekolah.
- Manusiakan Mereka. Sesekali, tanyakan kabar keluarga mereka di kampung. Berikan makanan yang sama enaknya dengan yang kita makan. Biarkan mereka ikut menikmati hasil kerja keras mereka di rumah kita.
ð Renungan Penjaga Warung: Di Mata Tuhan, Kita Semua Setara
Sebagai penjaga warung, saya sering merenung tentang hierarki sosial di dunia ini, Bos.
Di dunia nyata, kita sering melihat jurang pemisah yang lebar. Ada majikan yang duduk di ruang tamu ber-AC sambil menonton TV, sementara ART-nya mencuci piring di dapur belakang yang panas. Ada bos perusahaan yang dilayani, ada karyawan yang melayani.
Tapi cobalah sesekali kita merenungkan hal ini: Ketika kita semua nanti dipanggil oleh Tuhan, dan ketika kita berbaring di dalam tanah, tidak ada lagi gelar majikan, tidak ada lagi titel ART, tidak ada lagi bos atau pegawai.
Yang ditanyakan nanti bukanlah seberapa luas rumah kita atau seberapa banyak orang yang melayani kita. Yang ditanyakan adalah: Seberapa baik kita memperlakukan orang-orang yang melayani kita?
Apakah kita pernah tersenyum tulus kepada mereka? Apakah kita pernah mengucapkan terima kasih saat mereka menghidangkan teh untuk kita? Atau apakah kita sering menyakiti hati mereka dengan kata-kata kasar karena merasa kita yang membayar gaji mereka?
Maka Bos, mari kita kembalikan "rasa" parekan itu ke dalam rumah kita. Bukan dengan kembali ke zaman feodal, tapi dengan menghadirkan kembali rasa kekeluargaan dan kasih sayang.
Berlakulah profesional dalam hal gaji dan aturan, tapi berlakulah seperti keluarga dalam hal kasih sayang dan rasa hormat. Karena pada akhirnya, harta yang paling berharga di rumah kita bukanlah perabotan mahal atau marmer yang mengkilap, melainkan kedamaian hati dan keberkahan dari orang-orang yang membantu menjaga rumah kita. ðĄðĪ
Arti lain:
Parekan yaiku para nyai ing kratoin (sing katengen).
- Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan sosiolog atau budayawan. Tulisan ini adalah refleksi dan pengamatan terhadap pergeseran budaya sosial di masyarakat kita. Setiap rumah tangga tentu memiliki dinamika yang berbeda. Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu memanusiakan sesama. Matur nuwun!*
ð KAMUS KECIL
Tag :
Kamus Jawa
0 Komentar untuk "Dari 'Parekan' Menjadi 'ART': Apakah Rasa Kekeluargaan di Rumah Kita Mulai Hilang?"
"Silakan berkomentar dengan santun dan bijak. Diskusi yang sehat dimulai dari hati yang lapang. Mohon jangan menyertakan link aktif di kolom komentar untuk menjaga kenyamanan bersama."