Ayo nglestarekno Budoyo Jowo ben ora ilang Soko Bumi Nusantoro

-------

13 Tembung Basa Kawi Awalan Huruf B: Arti, Filosofi, dan Jejaknya di Bahasa Modern

(Catatan Admin: Artikel ini diperbarui September 2026. Basa Kawi bukan sekadar bahasa mati di atas daun lontar. Ia adalah akar dari semboyan negara kita, puisi-puisi epik, dan kata-kata indah yang masih kita ucapkan hari ini. Simak 13 kata berawalan huruf 'B' yang akan mengubah cara pandangmu terhadap bahasa leluhur.)

Sore itu, seorang mahasiswa sastra mampir ke warung saya sambil membawa buku tebal Kakawin Sutasoma. Ia menghela napas panjang.
Ilustrasi watercolor sebuah lontar kuno yang terbuka dengan aksara Jawa Kuno (Kawi) yang memudar, di sebelahnya terdapat cangkir kopi dan bunga melati, menggambarkan keindahan dan kelestarian kosakata Basa Kawi yang tetap harum hingga zaman modern.
"Kata-kata kuno tidak pernah benar-benar mati. Mereka hanya bersembunyi di dalam doa, puisi, dan percakapan kita sehari-hari." πŸ“œπŸŒΏ

"Mas, saya lagi nerjemahin teks Kawi. Banyak banget kata berawalan huruf 'B' yang artinya dalam dan nggak ada padanannya di bahasa Jawa ngoko sehari-hari. Kayak 'Brata', 'Bhagawan', 'Boga'. Kenapa ya orang zaman dulu bikin kata seindah ini?"
Saya tersenyum sambil menyeduh kopi tubruk. "Le, Basa Kawi itu ibarat rempah di warung saya. Kamu mungkin tidak memakannya langsung, tapi tanpa dia, masakan tidak akan punya rasa. Kata-kata Kawi berawalan 'B' ini bukan sekadar kosa kata; mereka adalah doa, sumpah, dan cara leluhur kita memandang alam semesta. Malam ini, mari kita bedah 13 di antaranya." πŸ“œπŸŒΏ

πŸ—„️ ══════ [ ARSIP LAMA — CATATAN SEJARAH ] ══════ πŸ—„️

πŸ“œ 13 TEMBUNG BASA KAWI AWALAH HURUF B SERTA ARTINYA

Bagian ini adalah tulisan asli saya dari tahun-tahun silam. Intinya: daftar singkat kosakata Basa Kawi (Jawa Kuno) yang dimulai dengan huruf B beserta terjemahan kasarnya.

Basa Kawi adalah bahasa Jawa Kuno yang sering digunakan oleh Pak Dalang untuk memceritakan kisah wayangnya.

Kalau kemarin tembung Basa Kawi yang berawalah huruf A, sekarang lanjut lagi ke awalan huruf B.

1. badhama = gaman.
2. badra = rembulan.
3. bantala = lemah.
4. baruna = segara.
5. basuki = slamet.
6. bathara = dewa.
7. bayu = angin.
8. birawa = gagah.
9. brama = geni.
10. bramantya = nesu.
11. brangta = kasmaran.
12. boga = pangan.
13. bomantara = langit.

Logo Cakra Birawa

Ada nama Brama Kumbara yang artinya kurang lebih geni yang menyala-nyala.
Ada juga cakra birawa yang artinya roda yang gagah.

πŸ—„️ ══════ [ AKHIR ARSIP LAMA ] ══════ πŸ—„️


πŸ“– Bagian 1: 13 Tembung Basa Kawi Awalan "B" (Kamus & Filosofi)

Berikut adalah 13 kata Kawi berawalan huruf B, lengkap dengan makna harfiah dan jejaknya yang masih hidup hingga hari ini:
No
Tembung Kawi
Arti Harfiah
Filosofi & Jejak di Bahasa Modern
1
Babad
Hutan yang dibuka / Cerita sejarah
Membuka hutan untuk peradaban (babad alas). Kini bermakna "sejarah" (Babad Tanah Jawi).
2
Bala
Pasukan, kekuatan, pertolongan
Kekuatan yang datang membantu. Masih hidup dalam kata "Bala tentara" atau "Bala bantuan".
3
Bantala
Tanah, bumi, dasar
Tempat berpijak. Sering muncul di kakawin: "Tumiba ing bantala" (Jatuh ke tanah).
4
Baskara
Matahari, sang pencerah
Matahari yang memberi kehidupan. Sering disandingkan dengan bulan (Chandra dan Baskara).
5
Bathara
Dewa, yang dipertuan
Sebutan untuk dewa atau raja yang dianggap titisan dewa (contoh: Bathara Guru).
6
Bayu
Angin, udara, napas
Kekuatan yang tak terlihat tapi menghidupkan. Juga nama tokoh pewayangan (Dewa angin).
7
Bhagawan
Orang suci, resi, guru
Orang yang telah mencapai kebijaksanaan tertinggi dan membimbing orang lain.
8
Bhakti
Pengabdian, kesetiaan, cinta
Penyerahan diri secara total. Masih kita pakai setiap hari: "Bakti sosial" atau "Berbakti pada orang tua".
9
Bhinneka
Beraneka ragam, berbeda-beda
Dari Kakawin Sutasoma: Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda-beda tetapi tetap satu jua). Semboyan negara kita!
10
Boga
Makanan, hidangan, rezeki
Segala yang memberi nutrisi pada tubuh. Masih hidup dalam istilah "Kuliner/Boga" dan "Sandang, pangan (boga), papan".
11
Brata
Tapa, mengekang hawa nafsu
Laku prihatin untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta (contoh: Catur Brata).
12
Buana
Dunia, alam semesta
Ruang tempat makhluk hidup. Sering disebut dalam konsep Tri Buana (Tiga dunia).
13
Busana
Pakaian, sandang
Penutup tubuh yang juga melambangkan identitas dan kehormatan. Masih dipakai di butik dan fashion modern.

πŸ” Bagian 2: Mengapa Kata-Kata Ini Terasa Sangat "Mahal"?

Pernahkah Bos menyadari bahwa bahasa Indonesia sering meminjam kata Kawi untuk situasi yang formal, sakral, atau puitis?
  • Kita tidak bilang "Makanan tradisional", kita bilang "Kuliner Boga Nusantara".
  • Kita tidak bilang "Pakaian adat", kita bilang "Busana Tradisional".
  • Kita tidak bilang "Berbeda-beda tapi satu", kita pakai sumpah kuno Mpu Tantular: "Bhinneka Tunggal Ika".
Basa Kawi berawalan huruf 'B' ini membuktikan satu hal: Leluhur kita tidak hanya menciptakan kata untuk "berkomunikasi", mereka menciptakan kata untuk "mengagungkan".
Ketika seorang penyair Kawi menyebut matahari, ia tidak sekadar bilang srengenge (matahari), ia menyebutnya Baskara — sang pencerah yang membawa kehidupan. Ketika ia menyebut tanah, ia menyebutnya Bantala — ibu yang menopang segala beban.

✍️ Bagian 3: Contoh Penggunaan dalam Kalimat (Ukara)

Agar tidak hanya jadi hafalan mati, mari kita lihat bagaimana kata-kata ini dirangkai dalam keindahan sastra:
  1. Baskara & Bayu
    "Sang Baskara ngilo ing segara, katiyup Bayu kang alon."
    (Sang matahari memantul di lautan, tertiup angin yang pelan.)
  2. Bhagawan & Brata
    "Sang Bhagawan nglakoni brata ing redi kang sepi."
    (Sang orang suci melakukan tapa di gunung yang sunyi.)
  3. Bhakti & Boga
    "Atur boga marang guru minangka tandha bhakti."
    (Mempersembahkan makanan kepada guru sebagai tanda pengabdian.)
  4. Buana & Bantala
    "Saben tumitah ing buana bakal bali tumiba ing bantala."
    (Setiap makhluk di dunia pada akhirnya akan kembali jatuh ke tanah/mati.)

πŸ’­ Renungan Penjaga Warung: Rempah Tua yang Menyedapkan Lidah Modern

Sebagai penjaga warung, saya sering merenung tentang Basa Kawi ini, Bos.
Di warung saya, ada toples kecil berisi kayu manis dan cengkeh tua. Rempah itu bentuknya keras, kering, danηœ‹θ΅·ζ₯ (terlihat) seperti kayu mati. Tapi begitu ia dicelupkan ke dalam rebusan kopi atau gulai, ia mengeluarkan aroma yang membuat seluruh warung terasa hangat dan hidup.
Basa Kawi adalah rempah tua milik bangsa kita.
Mungkin kita tidak lagi berbicara menggunakan bahasa Kawi saat menawar harga di pasar atau mengobrol di warung kopi. Tapi tanpa kita sadari, setiap kali kita mengucapkan kata "Bhakti" kepada orang tua, setiap kali kita mengagumi "Busana" pengantin adat, setiap kali kita menunduk hormat pada "Bhagawan" (guru/ulama), dan setiap kali kita menatap Garuda Pancasila dengan tulisan "Bhinneka Tunggal Ika"...
Kita sedang mengunyah rempah tua itu. Kita sedang membiarkan lidah kita dikecap oleh kebijaksanaan leluhur dari abad ke-14.
Kata-kata Kawi mengajarkan kita bahwa keindahan itu abadi. Tubuh para empu dan pujangga yang merangkai Kakawin mungkin sudah lama menyatu dengan Bantala (tanah). Tapi jiwa mereka masih bernapas lewat Bayu (angin), dan pikiran mereka masih menerangi kita seperti Baskara (matahari).
Maka Bos, kalau hari ini Bos atau anak-anak Bos sedang menghafal Basa Kawi untuk ujian:
  • Jangan hafalkan sebagai "bahasa mati".
  • Hafalkan sebagai warisan rasa.
  • Ucapkan kata-kata itu dengan hormat, karena di balik setiap hurufnya, ada doa dari masa lalu yang berharap kita tidak kehilangan jati diri di masa depan. πŸ“œπŸ€

  • Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan ahli filologi atau sejarawan resmi. Makna tembung Kawi disarikan dari Kamus Kawi-Indonesia (Wojowasito) dan berbagai teks Kakawin. Untuk keperluan akademis mendalam, silakan rujuk kitab aslinya. Matur nuwun!*

πŸ“– KAMUS KECIL

Istilah
Makna
Basa Kawi
Bahasa Jawa Kuno yang banyak dipengaruhi bahasa Sanskerta, digunakan dalam karya sastra (Kakawin).
Kakawin
Puisi epik Jawa Kuno yang terikat aturan guru-lagu (metrum) dari India.
Tembung
Kata.
Mpu Tantular
Pujangga agung Majapahit yang menulis Kakawin Sutasoma (sumber Bhinneka Tunggal Ika).
Guru-Lagu
Aturan jumlah suku kata dan bunyi vokal akhir dalam setiap baris tembang/puisi Kawi.
Tag : Kamus Jawa
0 Komentar untuk "13 Tembung Basa Kawi Awalan Huruf B: Arti, Filosofi, dan Jejaknya di Bahasa Modern"

"Silakan berkomentar dengan santun dan bijak. Diskusi yang sehat dimulai dari hati yang lapang. Mohon jangan menyertakan link aktif di kolom komentar untuk menjaga kenyamanan bersama."

Back To Top ------------ ------------