Sore itu, warung saya kedatangan Mas Yanto. Wajahnya kusut, matanya sembab, dan ia terus-terusan mengecek HP-nya dengan panik.
"Kenapa, Mas? Tumben tegang begitu?" tanya saya sambil menyodorkan kopi hangat.
| "Tongkat itu diam di tanah. Tapi kitalah yang memutuskan apakah ingin mendekat atau menjauh. 🪵" |
Ia menghela napas panjang. "Pusing, Mas. Saya kena teror debt collector. Kemarin saya iseng pinjam di aplikasi pinjol ilegal buat beli HP baru. Saya tahu tetangga saya bulan lalu diteror sampai ganti nomor karena pinjam di aplikasi yang sama. Tapi saya pikir, 'Ah, aku pasti bisa bayar tepat waktu, nggak akan kena denda'. Eh, ternyata sistemnya memang dijebak."
Saya tersenyum kecut, ikut prihatin tapi juga ingin menegur. "Mas Yanto... maaf kalau saya lancang. Tapi apa yang Mas Yanto lakukan kemarin itu, dalam bahasa Jawa disebut asu marani gepuk."
Ia mengerutkan kening. "Maksudnya apa, Mas?"
Malam ini, mari kita bedah peribahasa yang terdengar kasar ini, tapi sejatinya adalah tamparan kasih sayang dari leluhur kita agar kita tidak hancur oleh ulah kita sendiri. 🪵
🪵 Jawaban Singkat: Asu Marani Gepuk Tegese...
Dalam khazanah paribasan (peribahasa) Jawa, asu marani gepuk memiliki arti:
Njarag marani bebaya — Sengaja mendatangi marabahaya, atau dengan sadar mencari gara-gara / masalah.
Mari kita bedah kata per katanya supaya gambarnya lebih hidup:
Secara harfiah, peribahasa ini menggambarkan seekor anjing yang tahu ada kayu pemukul, tapi malah sengaja menghampirinya.
Anjing secara naluriah takut pada tongkat. Tapi dalam peribahasa ini, si anjing (sebagai kiasan untuk manusia) mengabaikan naluri dan akal sehatnya, lalu berjalan lurus ke arah benda yang pasti akan menyakitinya.
📝 Tuladha Ukara (Contoh Kalimat):
"Wis ngerti yen wonge kuwi seneng ngapusi, kok isih gelem diajak kerja bareng. Kuwi jenenge asu marani gepuk." (Sudah tahu kalau orang itu suka menipu, kok masih mau diajak kerja bareng. Itu namanya sengaja mencari gara-gara.)
📱 "Gepuk" di Zaman Modern: Bukan Lagi Tongkat Kayu
Leluhur Jawa zaman dulu memakai gambar tongkat kayu karena itu adalah benda sehari-hari. Tapi di zaman sekarang, "gepuk" sudah berubah wujud. Ia tidak lagi terbuat dari kayu, tapi terbuat dari keputusan-keputusan buruk yang kita sadari bahayanya, tapi tetap kita ambil.
Beberapa contoh asu marani gepuk di era modern:
- Jebakan Pinjol Ilegal & Judi Online: Tahu bahwa bunga mencekik dan sistemnya curang, tapi tetap meminjam atau bertaruh karena tergiur "cepat kaya" atau gaya hidup.
- Hubungan Toxic: Tahu bahwa pasangan atau teman tersebut manipulatif dan selalu menyakiti hati, tapi terus kembali dengan alasan "cinta" atau "kasihan".
- Ugal-ugalan di Jalan: Tahu bahwa jalan sedang licin atau ramai, tapi tetap mengebut dan melawan arah karena merasa "jago" atau "terburu-buru".
- Menuruti Hoaks & Penipuan: Sudah ada label "peringatan penipuan" dari bank atau polisi, tapi tetap mentransfer uang karena dijanjikan hadiah jutaan rupiah.
Semua ini punya satu kesamaan: kita sudah melihat "kayu pemukul"-nya, tapi kita tetap berjalan mendekat.
🧠 Kenapa Manusia Sering Melakukan "Asu Marani Gepuk"?
Sebagai penjaga warung yang sering mendengar keluh kesah pelanggan, saya merenung: kenapa orang pintar dan waras bisa melakukan hal yang jelas-jelas membahayakan dirinya sendiri?
Ternyata, ada tiga "penyakit hati" yang sering menipu kita:
- Arogansi ("Ah, Aku Bisa Ngatur"): Seperti Mas Yanto tadi. Ia pikir ia lebih pintar dari sistem, lebih kuat dari tetangganya yang gagal. Arogansi membuat kita merasa kebal terhadap hukum sebab-akibat.
- Ilusi "Kali Ini Berbeda": Kita sering menipu diri sendiri dengan berpikir, "Mungkin kali ini aku nggak akan ketahuan," atau "Mungkin kali ini dia akan berubah." Ini adalah bisikan setan yang paling manis.
- Keputusasaan & Keserakahan: Ketika orang terdesak (butuh uang cepat) atau terlalu serakah (ingin untung besar tanpa kerja keras), logikanya mati. Matanya hanya melihat "umpan", bukan "perangkap"-nya.
💭 Renungan Penjaga Warung: Seni Berjalan Menjauh
Ada satu pepatah lain yang sangat bijak: "Ojo nganti gething, nanging ojo nganti cedhak" (Jangan sampai membenci, tapi jangan juga sampai terlalu dekat). Ini adalah seni menjaga jarak.
Leluhur Jawa menciptakan peribahasa asu marani gepuk bukan untuk menghina kita sebagai anjing. Mereka memakai anjing karena anjing adalah hewan yang punya insting bertahan hidup yang tajam. Kalau anjing saja tahu harus lari dari tongkat, masa manusia yang diberi akal budi malah memeluk tongkat itu?
Kebijaksanaan tertinggi dalam hidup bukanlah keberanian untuk melawan bahaya. Kadang, keberanian terbesar adalah keberanian untuk BERJALAN MENJAUH.
- Berani berkata "tidak" pada ajakan bisnis yang tidak masuk akal.
- Berani memblokir nomor mantan yang toxic.
- Berani menutup HP dan tidur, daripada terjebak scroll judi online.
- Berani kehilangan "kesempatan palsu" demi mempertahankan "kedamaian sejati".
Malam ini, Bos, coba tanyakan pada hati sendiri dengan jujur:
Adakah "gepuk" dalam hidupku yang selama ini kudekati, padahal aku tahu itu akan melukaiku?
Kalau ada, tidak usah malu. Berhenti melangkah. Putar arah. Karena menjauh dari bahaya bukanlah tanda pengecut — itu adalah tanda orang yang mulai menghargai hidupnya sendiri. 🪵🤍
- Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan ahli bahasa maupun psikolog. Arti paribasan dirangkum dari kamus Basa Jawa dan literatur budaya. Matur nuwun!*
📖 KAMUS KECIL
Tag :
Kamus Jawa