Ayo nglestarekno Budoyo Jowo ben ora ilang Soko Bumi Nusantoro

-------

Arti "Durung Pecus Keselak Besus": Sindiran Keras Leluhur Jawa untuk Budaya "Flexing" Zaman Now

Sore itu, warung saya kedatangan seorang pemuda. Penampilannya wah sekali, Bos. Jaket outdoor bermerek mahal, sepatu hiking yang masih kinclong, jam tangan digital canggih, dan kacamata hitam. Ia duduk dengan gagah, memesan kopi paling mahal di menu, lalu bercerita dengan suara lantang tentang rencananya mendaki gunung tertinggi di Eropa bulan depan.
Beberapa pelanggan tua di sudut warung hanya tersenyum tipis sambil menyeruput tehnya.
Ilustrasi seorang pemuda yang memakai pakaian dan perlengkapan sangat mewah serta jam tangan mahal, sedang berpose gagah, namun di belakangnya terdapat sepeda ontel yang bannya kempes, menggambarkan gaya yang tidak sesuai dengan kenyataan.
"Padi yang berisi akan merunduk. Hanya jerami kosong yang mendongak sombong tertiup angin. 🌾"
Tak lama kemudian, pemuda itu merogoh saku celananya, wajahnya berubah pucat, lalu dengan malu-malu bertanya pada saya, "Mas... maaf, boleh nggak saya bayar kopinya besok saja? Atau... ada uang receh buat bayar parkir di depan? Dompet saya ketinggalan di mobil teman."
Salah satu bapak tua di sudut warung tertawa kecil dan berbisik pada saya, "Mas, itu namanya durung pecus, keselak besus."
Malam ini, mari kita bedah peribahasa Jawa yang sangat tajam ini. Sebuah sindiran yang diciptakan leluhur kita ratusan tahun lalu, tapi rasanya sangat pas untuk menampar budaya pamer (flexing) di zaman sekarang. 🍡

πŸ” Bedah Kata: Apa Artinya?

Secara penulisan baku, peribahasa ini berbunyi: "Durung pecus, keselak besus." (Kadang diucapkan durus karena logat daerah). Mari kita bedah satu per satu:
Kata
Makna Harfiah (Bahasa Jawa)
Durung
Belum
Pecus
Bisa, mahir, pintar, atau selesai (tuntas)
Keselak
Terburu-buru, keburu, kedahuluan
Besus
Rapi, berdandan necis, bergaya, atau sombong
Arti Utuhnya:
"Belum bisa apa-apa (belum mahir/belum berhasil), tapi sudah terburu-buru bergaya selangit, berdandan necis, atau bersikap sombong."
Peribahasa ini adalah sindiran pedas untuk orang yang gaya dan omongannya jauh melampaui kemampuan atau isi dompetnya yang sebenarnya.

πŸ“± Wajah "Keselak Besus" di Zaman Modern

Leluhur Jawa zaman dulu mungkin melihat orang yang baru belajar memanjat pohon kelapa tapi sudah pakai ikat kepala ala ksatria. Tapi di zaman sekarang, "durung pecus keselak besus" bermetamorfosis dalam banyak bentuk yang sangat sering kita lihat di media sosial:
  1. Hobi "Sultan" tapi Nol Besar: Baru mau mulai hobi fotografi atau sepedaan, langsung beli kamera lensa puluhan juta atau sepeda carbon harga ratusan juta. Tapi belum paham cara mengatur exposure atau cara mengoper gigi. Giliran diajak motret atau gowes, baru 5 menit sudah ngos-ngosan dan mengeluh.
  2. Gaya "Crazy Rich" di Media Sosial: Tiap hari story di kafe mahal, sewa mobil sport buat konten, pakai baju branded dari atas sampai bawah. Tapi aslinya utang paylater menumpuk, dan tiap akhir bulan makan mie instan demi bayar cicilan gaya hidup.
  3. Bos-Bosan di Kantor: Karyawan baru atau baru naik jabatan sedikit, tapi gayanya sudah seperti pemilik perusahaan. Suka memerintah, sok tahu, dan meremehkan senior, padahal baru memegang satu proyek saja sudah berantakan.
Itulah durung pecus, keselak besus. Kemasan luarnya berkilau, tapi isinya masih kosong.

🌾 Filosofi Ilmu Padi: Kenapa Orang Hebat Justru Sederhana?

Dalam budaya Jawa (dan banyak budaya Timur lainnya), ada filosofi yang sangat terkenal: Ilmu Padi.
"Semakin berisi, semakin merunduk."
Coba perhatikan tanaman padi, Bos. Saat batangnya masih kosong (hampa), ia akan berdiri tegak mendongak ke langit, tertiup angin sedikit saja sudah bergoyang sombong. Tapi ketika bulirnya mulai berisi dan berat dengan beras yang menghidupi jutaan manusia, ia akan merunduk ke bawah dengan rendah hati.
Orang yang benar-benar pecus (mahir/sukses) tidak perlu berteriak ke seluruh dunia bahwa dia hebat.
  • Master bela diri sejati tidak pernah memamerkan ototnya di jalanan; ia justru menghindari perkelahian.
  • Orang yang benar-benar kaya raya biasanya memakai kaos oblong yang nyaman dan tidak peduli pada merek; ia sibuk memikirkan investasi dan amal.
  • Ahli spiritual yang tinggi tidak butuh pengikut jutaan di media sosial; ia sibuk memperbaiki sujudnya di sepertiga malam.
Kesombongan dan pamer (besus) adalah mekanisme pertahanan diri dari orang yang merasa "kurang". Mereka memakai kemewahan dan gaya sombong sebagai topeng, agar dunia tidak tahu bahwa di dalamnya mereka sedang ketakutan, kosong, atau belum mampu.

πŸ’­ Renungan Penjaga Warung: Hargai Proses, Jangan Melompat ke Garis Finish

Sebagai penjaga warung, saya selalu menikmati mengamati proses orang-orang yang sukses dari nol. Mereka yang merintis dari bawah biasanya punya "karisma" yang berbeda. Saat mereka berbicara, ada bobotnya. Saat mereka berpakaian, ada kesederhanaan yang berwibawa.
Kenapa? Karena mereka sudah melewati fase durung pecus (belum bisa) dengan keringat, air mata, dan rasa malu. Mereka tahu persis betapa beratnya meraih sesuatu, sehingga saat mereka berhasil, mereka tidak punya waktu untuk pamer.
Peribahasa durung pecus keselak besus sebenarnya bukan sekadar ejekan. Ini adalah teguran kasih sayang dari leluhur agar kita tidak kehilangan arah.
Leluhur kita ingin berpesan: "Le, Nduk... Fokuslah dulu pada isinya, bukan pada kemasannya. Tajamkan dulu ilmumu, kuatkan dulu mentalmu, penuhi dulu isi dompetmu dengan kerja keras. Nanti, kalau kamu sudah benar-benar 'pecus' (mahir), kamu tidak perlu 'besus' (bergaya). Dunia akan dengan sendirinya menunduk hormat padamu."
Maka malam ini, Bos, mari kita berkaca. Apakah ada bidang dalam hidup kita di mana kita sedang terburu-buru ingin diakui, sampai-sampai kita memakai "topeng" yang kebesaran? Kalau ada, lepaskan topeng itu. Kembali ke dapur, asah pisau kita, dan biarkan proses yang bekerja. Karena pada akhirnya, kualitas tidak pernah butuh validasi, dan emas asli tidak perlu berteriak bahwa ia adalah emas. 🌾🀍

  • Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan pakar bahasa Jawa. Tulisan ini adalah renungan dan tafsir budaya yang dirangkum dari berbagai literatur sastra Jawa. Jika para pinisepuh memiliki pandangan lain, kami sangat terbuka untuk belajar di kolom komentar. Matur nuwun!*

πŸ“– KAMUS KECIL

Istilah
Makna
Durung
Belum (baku). Kadang diucapkan durus di beberapa daerah.
Pecus
Mahir, bisa, tuntas, atau beres.
Keselak
Terburu-buru, tidak sabar, kedahuluan.
Besus
Berdandan rapi, necis, bergaya berlebihan, atau sombong.
Flexing
Istilah modern untuk pamer kekayaan atau pencapaian.
Ilmu Padi
Filosofi tentang kerendahan hati (semakin berisi semakin merunduk).
Tag : Kamus Jawa
Back To Top