Ayo nglestarekno Budoyo Jowo ben ora ilang Soko Bumi Nusantoro

Merasa Tertinggal dari Orang Lain? Tenang, Hidup Bukan Lomba Lari

Surabaya, 7 Agustus 2026
Malam itu aku scroll media sosial cukup lama. Biasa, kan? Tapi entah kenapa malam itu rasanya beda.
Ilustrasi cat air seseorang duduk tenang di dekat jendela pada malam hari sambil memegang secangkir teh hangat, menatap langit berbintang, dengan buku jurnal terbuka di sampingnya.
Kadang yang kita butuhkan bukan mengejar orang lain, tapi duduk sebentar dan berdamai dengan diri sendiri. 🌙
Ada teman kantor yang baru saja promosi. Ada kenalan lama yang sudah menikah. Ada yang pamer rumah pertama, ada yang wisuda S2, ada yang bisnisnya tiba-tiba viral dan pengikutnya ratusan ribu.
Lalu ada aku: rebahan di kasur, memeluk guling, dengan hidup yang rasanya begini-begini saja.
Kalau kamu pernah ada di posisi yang sama, tenang. Tulisan ini bukan untuk menggurui. Anggap saja ini obrolan dua teman lama yang sama-sama sedang belajar menerima diri sendiri—karena rasa tertinggal itu nyata, dan kamu nggak sendirian merasakannya.

Kenapa Rasa Tertinggal Itu Mudah Sekali Muncul?

Sejujurnya, membandingkan diri itu bukan aib. Kata para ahli psikologi, social comparison adalah cara manusia "mengukur" dirinya sendiri—sesuatu yang dulu mungkin membantu nenek moyang kita bertahan hidup.
Masalahnya, dulu kita hanya membandingkan diri dengan orang sekampung. Sekarang? Kita membandingkan diri dengan seluruh dunia, 24 jam nonstop, langsung dari layar HP di genggaman.
Wajar kalau dadamu terasa sesak. Yang nggak wajar adalah kalau kita menganggap rasa sesak itu sebagai bukti bahwa hidup kita gagal. Padahal bukan.

Ingat, Media Sosial Itu Etalase, Bukan Gudang

Coba pikir sebentar: kapan terakhir kamu melihat orang memposting gagal lolos interview? Memposting tangisan setelah bertengkar dengan pasangan? Memposting isi rekening di tanggal tua?
Hampir tidak ada. Media sosial adalah etalase—orang hanya menaruh barang terbaiknya di sana. Sementara kita? Kita melihat etalase orang lain, lalu membandingkannya dengan gudang kita sendiri: lengkap dengan berantakan, debu, dan barang rusak yang belum sempat dibuang.
Perbandingan seperti itu ya pasti kalah. Sejak awal memang tidak adil.

Hidup Bukan Lomba, Tapi Perjalanan dengan Zona Waktu Masing-Masing

Ada orang yang lulus kuliah di usia 22 tapi baru menemukan jalannya di usia 30. Ada yang menikah muda tapi lelah, ada yang menikah terlambat tapi tumbuh bersama pasangannya dengan sehat. Ada yang sukses di 25 tapi burnout di 30, ada yang baru "mulai hidup" di 40 dan bahagia sampai tua.
Bunga saja mekar di waktunya masing-masing. Bunga matahari tidak pernah iri pada bunga malam. Kenapa kita begitu keras pada diri sendiri?
Kamu tidak terlambat. Kamu hanya berada di zona waktumu sendiri.

Hal-Hal Kecil yang Membantuku Berdamai dengan Garis Waktu Sendiri

Aku tidak akan bilang "berhenti membandingkan diri!"—karena itu perintah yang mustahil. Yang bisa kulakukan (dan mungkin bisa kamu coba) adalah hal-hal kecil ini:
  1. Mute atau unfollow akun yang bikin insecure. Bukan karena benci, tapi karena kamu berhak menjaga rumahmu sendiri: pikiranmu.
  2. Tulis tiga hal kecil yang kamu syukuri setiap malam. Bukan pencapaian besar—cukup "teh hangat tadi sore enak banget" juga boleh.
  3. Ganti pertanyaan "kenapa dia bisa?" menjadi "apa yang aku butuhkan hari ini?" Energi yang tadinya untuk iri, pelan-pelan pindah ke diri sendiri.
  4. Rayakan kemenangan kecil. Bereskan kamar, berani bilang tidak, bangun lebih pagi—semuanya layak dirayakan.
  5. Ingat: kamu hanya melihat panggung orang lain, bukan latihan di belakang layarnya.

Penutup: Kamu Tidak Tertinggal, Kamu Sedang Berjalan

Kalau malam ini kamu menutup artikel ini dengan perasaan yang sama—masih agak sesak, masih agak gelisah—tidak apa-apa. Berdamai dengan diri sendiri memang bukan pekerjaan semalam. Itu perjalanan panjang, dan kamu boleh berjalan pelan.
Yang penting, kamu tetap berjalan. Dengan langkahmu sendiri. Dengan waktumu sendiri.
Karena hidup bukan lomba lari. Tidak ada garis finis yang sama untuk semua orang. Dan satu-satunya orang yang perlu kamu jadikan teman seperjalanan adalah dirimu sendiri.
Peluk jauh untuk kamu yang sedang berusaha. 🤍
Pernah merasa tertinggal juga? Ceritakan di kolom komentar, ya. Siapa tahu ceritamu jadi pelukan untuk pembaca lain yang malam ini sedang gelisah.
Tag : Ngomong

Iki Seru- Seruan

Back To Top