Pernah gak sih ngalami momen di mana simbok atau bokap lagi ceramah, terus ngomongnya kepanjangan, ngos-ngosan, tapi kita cuma bisa duduk manis dan manggut-manggut doang? Lha, tanpa sadar, mereka lagi praktekin yang namanya Ukara Lamba!
Buat kalian yang mungkin udah lupa pelajaran Bahasa Jawa waktu SD/SMP, yuk kita segar-inget lagi. Secara harfiah, ukara itu artinya kalimat, sedangkan lamba itu panjang atau majemuk. Jadi, Ukara Lamba itu adalah kalimat yang isinya lebih dari satu klausa. Kalau di Bahasa Indonesia, ini sama dengan Kalimat Majemuk.
Terus, kenapa sih kita kudu pusing-pusing ngapalin ukara lamba? Jawabane: Biar kalau kalian nulis cerpen, artikel, atau bahkan nulis caption IG yang aesthetic, strukturnya bener dan gak bikin pembaca salah paham. Apalagi kalau lagi ujian, dijamin nilai Bahasa Jawa kalian auto A!
Nah, biar gak makin * mumet*, kita bedah jenis-jenis ukara lamba pakai contoh yang relate banget sama kehidupan kita sehari-hari. Check this out!
1. Ukara Lamba Padhanan (Kalimat Majemuk Setara)
Ini adalah ukara lamba yang klausa-klausanya itu setara atau sejajar. Biasanya digabungin pakai kata hubung (konjungsi) kayak lan (dan), utawa (atau), atau nanging (tapi).
- Contoh gaul: "Aku sebenere pengen banget nonton konser, nanging tiket-e wis sold out lan dompetku lagi kritis."
- Penjelasan: Ada dua kejadian yang setara. Pengen nonton (klausa 1) nanging tiket habis (klausa 2). Gak ada yang lebih dominan.
2. Ukara Lamba Tumpuk (Kalimat Majemuk Bertingkat)
Nah, kalau yang ini beda cerita. Ukara lamba tumpuk itu klausanya gak setara. Ada yang jadi induk kalimat (inti cerita) dan ada yang jadi anak kalimat (keterangan tambahan). Biasanya pakai kata hubung amarga (karena), karena (karena), supaya (supaya), atau nalika (ketika).
- Contoh gaul: "Aku kudu begadang ngerjain tugas, supaya besok gak di-spit dosen pas presentasi."
- Penjelasan: Inti ceritanya ada di "Aku kudu begadang" (Induk kalimat). Sisanya, "supaya besok gak di-spit dosen" cuma anak kalimat yang jadi alasan. Kalau bagian belakangnya dihapus, kalimatnya masih make sense.
3. Ukara Lamba Campuran (Kalimat Majemuk Campuran)
Ini adalah raja-nya ukara lamba. Gabungan antara padhanan dan tumpuk. Kalimatnya panjaaaang banget, biasanya dipakai kalau kalian lagi overthinking atau curhat di twitter.
- Contoh gaul: "Meskipun aku lagi pusing mikirin skripsi, tetep aja aku scroll TikTok, lan lali yen wis jam 2 esuk."
- Penjelasan:
- Anak kalimat: Meskipun aku lagi pusing mikirin skripsi.
- Induk kalimat: Tetap aja aku scroll TikTok.
- Klausa setara tambahan: Lan lali yen wis jam 2 esuk.
- Kesimpulan: Kalimatnya komplit, padat, dan berisi penderitaan mahasiswa!
Tips Biar Gak Salah Kaprah!
Banyak yang sering ketuker antara ukara lamba tumpuk dan padhanan. Trik gampangnya gini:
Coba hapus salah satu bagian kalimatnya. Kalau kalimatnya masih ngerti maknanya, berarti itu Padhanan (Setara). Tapi kalau dihapus jadi nggantung dan gak ada konteksnya, berarti itu Tumpuk (Bertingkat). Gampang kan?
---------
Gimana? Gak terlalu ribet kan sebenernya ukara lamba itu? Intine, ukara lamba itu seni ngerangkai kata biar ceritane lebih daging dan ngena di hati pembaca.
Yuk, mulai biasa nggunakake ukara lamba ing kehidupan sehari-hari atau pas nulis tugas (tapi tetep ingat porsi napas dan tanda baca ya!).
Oleh: Kejawen Wetan
Tag :
Kamus Jawa