Ayo nglestarekno Budoyo Jowo ben ora ilang Soko Bumi Nusantoro

Mengenal Bahasa Jawanya "Kejar": Ngoyak, Mburu, Nguber, Mbujeng dan Makna Filosofis di Baliknya

Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa daerah yang kaya akan kosakata dan nuansa makna. Ketika kita ingin mengungkapkan kata "kejar" dalam bahasa Indonesia, ternyata dalam bahasa Jawa terdapat beberapa pilihan kata yang masing-masing memiliki konteks dan makna filosofis yang berbeda. Artikel ini akan mengupas tuntas bahasa Jawanya "kejar" beserta penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bahasa Jawanya "Kejar"

Dalam bahasa Jawa, kata "kejar" dapat diterjemahkan ke dalam beberapa kata, tergantung pada konteks penggunaannya:

1. Ngoyak (ꦔꦺꦴꦪꦏ꧀)

Kata "ngoyak" adalah bentuk krama madya yang paling umum digunakan untuk menyatakan aksi mengejar sesuatu atau seseorang. Kata ini berasal dari kata dasar "oyak" yang mendapat imbuhan "ng-".
Contoh penggunaan:
  • "Dheweke lagi ngoyak wedhus sing mlayu" (Dia sedang mengejar kambing yang lari)
  • "Aja ngoyak donya kelalen akhirat" (Jangan mengejar dunia sampai lupa akhirat)

2. Mburu (ꦩ꧀ꦧꦸꦫꦸ)

Kata "mburu" memiliki makna yang lebih spesifik, biasanya digunakan untuk mengejar dengan tujuan menangkap atau mendapatkan sesuatu. Kata ini sering digunakan dalam konteks berburu.
Contoh penggunaan:
  • "Bapak mburu manuk ing alas" (Ayah berburu burung di hutan)
  • "Mburu rejeki sing halal" (Mengejar rezeki yang halal)

3. Oyak-oyakan (ꦲꦺꦴꦪꦏ꧀ꦲꦺꦴꦪꦏꦤ꧀)

Bentuk ini adalah kata kerja berulang yang menggambarkan aktivitas saling mengejar atau bermain kejar-kejaran, biasanya digunakan dalam konteks permainan anak-anak.
Contoh penggunaan:
  • "Bocah-bocah padha oyak-oyakan ing lapangan" (Anak-anak saling kejar-kejaran di lapangan)
4. Bujeng
5. Uber

Perbedaan Tingkatan Bahasa

Bahasa Jawa dikenal dengan tingkatan bahasanya yang kompleks. Berikut perbedaan penggunaan kata "kejar" dalam berbagai tingkatan:
Tingkatan
Kata
Penggunaan
Ngoko
Oyak
Percakapan santai dengan teman sebaya
Krama Madya
Ngoyak
Percakapan semi-formal
Krama Inggil
Nguber
Percakapan formal/hormat

Makna Filosofis "Ngoyak" dalam Budaya Jawa

Masyarakat Jawa tidak hanya memandang kata "ngoyak" sebagai aksi fisik semata, tetapi juga mengandung nilai-nilai filosofis yang mendalam:

1. Konsep "Urip Iku Mung Saderma"

Falsafah Jawa mengajarkan bahwa hidup itu seharusnya tidak terlalu "ngoyak" atau mengejar hal-hal duniawi secara berlebihan. Ada pepatah Jawa yang mengatakan:
"Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti"
(Kekerasan dan ambisi yang berlebihan akan kalah oleh kelembutan)

2. Prinsip "Nrima ing Pandum"

Meskipun diperbolehkan mengejar cita-cita dan rezeki, orang Jawa diajarkan untuk tetap "nrima" (menerima) apa yang sudah menjadi ketentuan Tuhan. Ini bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi berusaha semaksimal mungkin kemudian menyerahkan hasil kepada Yang Maha Kuasa.

3. "Aja Ngoyak Laku"

Dalam spiritualitas Jawa, ada konsep "ngelaku" atau melakukan laku prihatin. Namun, hal ini tidak boleh "diroyak" atau dipaksakan, karena spiritualitas adalah perjalanan yang alami dan tulus dari hati.

Penggunaan dalam Kehidupan Sehari-hari

Berikut beberapa contoh kalimat yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari:
Dalam konteks pekerjaan:
  • "Aku kudu ngoyak target sales sasi iki" (Saya harus mengejar target penjualan bulan ini)
Dalam konteks pendidikan:
  • "Para siswa padha ngoyak prestasi" (Para siswa mengejar prestasi)
Dalam konteks nasihat:
  • "Nak, urip kuwi aja mung ngoyak bandha, nanging ngoyak ilmu lan kabecikan"
    (Nak, hidup itu jangan hanya mengejar harta, tetapi kejarlah ilmu dan kebaikan)

Kesimpulan

Bahasa Jawa untuk kata "kejar" memiliki variasi yang kaya, mulai dari ngoyak, mburu, hingga nguber, masing-masing dengan konteks dan tingkatan kesopanan yang berbeda. Lebih dari sekadar kosakata, konsep "ngoyak" dalam budaya Jawa mengandung nilai-nilai filosofis tentang keseimbangan antara usaha dan kepasrahan, antara ambisi dan kerendahan hati.
Mari kita lestarikan bahasa Jawa tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai wadah untuk memahami kearifan lokal yang luhur.

Kosakata Penting:

  • Ngoyak = Mengejar, ngusir (bisa juga)
  • Mburu = Berburu/mengejar
  • Oyak-oyakan = Kejar-kejaran
  • Nguber = Mengejar (bahasa halus)
  • Nrima = Menerima dengan ikhlas
  • Saderma | Secukupnya

📝 Catatan: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan pelestarian budaya Jawa. Semoga bermanfaat bagi para pembaca yang ingin mendalami bahasa dan filosofi Jawa.
#BudayaJawa #BahasaJawa #Ngoyak #KearifanLokal #FilosofiJawa
Tag : Kamus Jawa
Back To Top