Ayo nglestarekno Budoyo Jowo ben ora ilang Soko Bumi Nusantoro

Pengertian, Jenis, dan Contoh Tembung Camboran

Belajar Bahasa Jawa itu ibarat menyelami lautan budaya yang sangat luas. Selain mempelajari Unggah-Ungguh Basa (tingkatan bahasa), kita juga wajib mengenal tata bahasa atau Wirama. Salah satu materi yang sering muncul di sekolah dan ujian adalah Tembung Camboran.
Apa sih Tembung Camboran itu? Kenapa disebut "camboran" (campuran)? Dan apa saja jenis-jenisnya?
Jangan khawatir! Di artikel ini, kita akan bedas tuntas materi Tembung Camboran beserta macam-macam dan contohnya. Yuk, simak sampai habis!

Apa Itu Tembung Camboran?

Secara harfiah, tembung berarti kata, dan camboran berarti campuran atau gabungan.
Jadi, Tembung Camboran adalah gabungan dari dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan makna baru. Dalam tata bahasa Indonesia, ini setara dengan "Kata Majemuk".
Namun, tidak semua gabungan kata bisa disebut Tembung Camboran. Ada aturan dan ciri-ciri khusus yang membedakannya. Berdasarkan bentuk dan maknanya, Tembung Camboran dibagi menjadi empat jenis utama.


1. Tembung Camboran Wutuh (Kata Majemuk Utuh)

Pengertian: Tembung Camboran Wutuh adalah gabungan dua kata atau lebih di mana tidak ada satu pun kata yang disingkat atau diubah. Makna dari gabungan kata ini masih sangat berkaitan dengan makna kata-kata aslinya (makna harfiah).
Ciri-ciri:
  • Bentuk kata aslinya utuh, tidak ada yang dipotong.
  • Maknanya masih bisa ditebak dari kata-kata penyusunnya.
Contoh:
  • Omah sakit (Rumah sakit)
  • Meja tulis (Meja tulis)
  • Kacamata (Kaca + mata)
  • Sepatu bot (Sepatu bot)
  • Guru besar (Guru besar / Profesor)
Contoh dalam kalimat:
"Bapak lagi nunggu ing omah sakit amarga simbah lagi lara." (Bapak sedang menunggu di rumah sakit karena nenek sedang sakit.)

2. Tembung Camboran Wancahan (Kata Majemuk Singkatan/Gabungan)

Pengertian: Tembung Camboran Wancahan adalah gabungan dua kata atau lebih di mana salah satu atau seluruh katanya mengalami penyingkatan atau pemadatan. Tujuannya agar pengucapannya lebih ringkas dan efisien.
Ciri-ciri:
  • Ada suku kata atau huruf dari kata asli yang dihilangkan/disingkat.
  • Sering digunakan untuk nama lembaga, kegiatan, atau konsep tertentu.
Contoh:
  • Darmawisata (Darma + wisata)
  • Mancanegara (Manca + negara)
  • Darmabakti (Darma + bakti)
  • Caturtunggal (Catur + tunggal)
  • Pramuka (Praja + muda + karana)
Contoh dalam kalimat:
"Siswa kelas 6 lagi nganakake kegiatan darmawisata menyang Yogyakarta." (Siswa kelas 6 sedang mengadakan kegiatan darmawisata ke Yogyakarta.)

3. Tembung Camboran Rangkai (Kata Majemuk Idiomatik)

Pengertian: Ini adalah jenis yang paling menarik! Tembung Camboran Rangkai adalah gabungan dua kata atau lebih yang maknanya sudah berubah total dan tidak bisa diartikan secara harfiah per kata. Dalam linguistik, ini disebut sebagai Idiom.
Ciri-ciri:
  • Jika diartikan kata per kata, maknanya akan menjadi aneh atau tidak nyambung.
  • Memiliki makna kiasan (konotatif) yang sudah disepakati bersama.
Contoh:
  • Dhuwit panas (Uang panas = Uang suap / uang haram)
  • Meja ijo (Meja hijau = Pengadilan)
  • Kembang desa (Kembang desa = Gadis paling cantik di desa)
  • Banting balung (Banting tulang = Kerja keras)
  • Tangan kopong (Tangan kosong = Tidak membawa apa-apa / gagal)
Contoh dalam kalimat:
"Aja seneng nampa dhuwit panas, mengko uripmu ora tentrem." (Jangan suka menerima uang suap, nanti hidupmu tidak tenang.)


4. Tembung Camboran Swara (Kata Majemuk Salin Bunyi)

Pengertian: Tembung Camboran Swara adalah gabungan kata yang salah satu unsurnya mengalami perubahan bunyi (vokal atau konsonan) agar terdengar lebih indah, ritmis, atau untuk penekanan makna.
Ciri-ciri:
  • Terdiri dari dua kata yang hampir sama, tapi ada perubahan huruf vokal atau konsonannya.
  • Sering digunakan untuk menggambarkan suatu gerakan, keadaan, atau sifat yang berulang.
Contoh:
  • Bolak-balik (Berulang-ulang ke arah yang berlawanan)
  • Mondar-mandir (Berjalan ke sana kemari dengan gelisah)
  • Turun-temurun (Dari generasi ke generasi)
  • Sayuk-sayuk (Bersatu padu / rukun)
Contoh dalam kalimat:
"Wong-wong desa kudu sayuk-sayuk ngresiki kali sing lagi kotor." (Warga desa harus bersatu padu membersihkan sungai yang sedang kotor.)

oleh: Kejawen Wetan 

Tag : Kamus Jawa
Back To Top