Ayo nglestarekno Budoyo Jowo ben ora ilang Soko Bumi Nusantoro

Arti "Diwenehi Ati Ngrogoh Rempela" - Basa Jawa

Sby, 
Diwenehi ati ngrogoh rempela - peribahasa Jawa tentang sifat serakah. Pelajari makna filosofis, contoh, dan pelajaran hidup dari kearifan lokal Jawa ini.
"Diwenehi ati ngrogoh rempela" adalah salah satu peribahasa Jawa yang sangat populer dan sarat dengan makna filosofis. Secara harfiah, ungkapan ini berarti "diberi hati, meraih empela" - menggambarkan seseorang yang ketika diberi sedikit, justru menginginkan lebih banyak lagi tanpa rasa syukur.
 Orang Jawa sering bilang wis diwenehi ati ngrogoh rempelo. Sudah diberi sedikit, harusnya bersyukur. Kok minta tambah lagi dan minta banyak.

Ini paribasan, bebasan, sanepan, saloka yang mengibaratkan sambil sedikit mengejek ke lawan bicaranya secara halus. Dengan tujuan lawan bicaranya menjadi sadar akan perbuatannya.


Peribahasa ini mengajarkan tentang pentingnya sikap qana'ah (merasa cukup) dan syukur atas apa yang telah diberikan. Orang yang bersifat "diwenehi ati ngrogoh rempela" adalah mereka yang:
  • Tidak tahu berterima kasih - Ketika mendapat bantuan atau pemberian, bukannya bersyukur malah menuntut lebih
  • Serakah dan tamak - Selalu ingin memiliki lebih tanpa merasa puas
  • Melampaui batas - Tidak menghargai apa yang sudah diberikan dan mengambil lebih dari seharusnya
Jadi, arti dari bebasan "Diwenehi Ati ngrogoh rempela" adalah:
Wis diwenehi sethithik, malah njaluk kang akeh.
( Sudah diberi Sedikit, malah minta lebih banyak (ind)

Sikap seperti ini bertentangan dengan prinsip tepa selira (tenggang rasa) dan andhap asor (rendah hati). Sebaliknya, kita diajarkan untuk selalu memayu hayuning bawana - menjaga keharmonisan dunia dengan sikap yang seimbang dan tidak berlebihan.
Jangan sampai kita menjadi orang yang demikian.
Amiiin.

Artikel lain:
Tag : Kamus Jawa
Back To Top