Sby, Juli 2026
Di era media sosial di mana pencitraan menjadi budaya, masyarakat Jawa sebenarnya telah lama memiliki peringatan bijak melalui ungkapan "Yuyu Rumpung Mbarong Ronge". Paribasan (peribahasa) Jawa ini mengandung kritik sosial yang mendalam tentang bahaya hidup yang lebih mementingkan penampilan luar daripada substansi.
Makna Filosofis
"Yuyu Rumpung Mbarong Ronge" adalah paribasan (peribahasa) Jawa yang menggambarkan seseorang yang tampil megah dan mewah di luar, tetapi sebenarnya dalam kondisi rusak atau kekurangan.
Arti harfiah:
- Yuyu = Kepiting
- Rumpung = Patah/rusak
- Mbarong = Seperti barong (megah)
- Ronge = Hiasan daun
Secara harfiah berarti: "Kepiting yang kakinya patah tetapi dihiasi daun-daunan megah"
Makna Tersirat
Ungkapan ini mengkritik orang yang:
- Hidup di atas kemampuan
- Suka pamer (show off) untuk menutupi kekurangan
- Lebih mementingkan gengsi daripada substansi
- Tampil kaya di luar, tapi kesulitan di dalam
Relevansi di Era Modern
Filosofi ini sangat relevan dengan fenomena masa kini:
- Pencitraan di media sosial
- Gaya hidup hedonis demi validasi
- Beli barang mewah dengan hutang
- "Rumah mewah tapi minta bansos"
Pelajaran Bijak
Leluhur Jawa mengajarkan:
✅ Hiduplah sesuai kemampuan
✅ Jangan tutupi kekurangan dengan kemewahan palsu
✅ Fokus pada substansi, bukan penampilan
✅ Kejujuran lebih mulia daripada pencitraan
✅ Jangan tutupi kekurangan dengan kemewahan palsu
✅ Fokus pada substansi, bukan penampilan
✅ Kejujuran lebih mulia daripada pencitraan
"Becik ketitik, ala ketara"
(Yang baik akan terlihat, yang buruk akan ketahuan)
(Yang baik akan terlihat, yang buruk akan ketahuan)
© 2026 - Kejawen Wetan
Tag :
Ngomong