Sby, Minggu 5 Juli 2026 - Kejawen Wetan
Kalender Jawa memiliki keunikan tersendiri dibandingkan kalender lain yang ada di dunia. Selain sistem perhitungan yang menggabungkan unsur lunar (bulan) dan budaya lokal, nama-nama bulan dalam Kalender Jawa juga menyimpan makna filosofis yang mendalam. Setiap bulan memiliki karakter, nilai spiritual, dan tradisi khusus yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Jawa.
Mari kita telusuri satu per satu ke-12 bulan dalam Kalender Jawa beserta makna dan tradisinya yang menarik.
1. Sura (Muharram)
Asal Nama:
Sura berasal dari kata "Asyura" dalam bahasa Arab yang berarti "kesepuluh", merujuk pada hari ke-10 bulan Muharram. Dalam bahasa Jawa, Sura juga diartikan sebagai "sura" (berani) atau "asu" (anjing) yang melambangkan kesetiaan.
Makna Filosofis:
Bulan Sura dianggap sebagai bulan suci dan sakral dalam tradisi Jawa. Ini adalah waktu yang tepat untuk introspeksi diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan melakukan tirakat (semadi). Masyarakat Jawa percaya bahwa bulan ini membawa keberkahan dan ketenangan.
Tradisi Khusus:
- 1 Sura: Diperingati sebagai Tahun Baru Jawa dengan berbagai upacara adat
- Grebeg Sura: Upacara di keraton-keraton Jawa
- Malam 1 Sura: Banyak orang melakukan tirakat, ziarah kubur, atau mandi di sumber air suci
- Pasar Malam 1 Sura: Diadakan di berbagai daerah dengan berbagai pertunjukan budaya
Pantangan:
Masyarakat Jawa tradisional biasanya menghindari mengadakan pernikahan atau hajatan besar di bulan Sura.
2. Sapar (Safar)
Asal Nama:
Sapar berasal dari kata "Safar" dalam bahasa Arab yang berarti "perjalanan" atau "kosong".
Makna Filosofis:
Sapar melambangkan perjalanan dan perubahan. Bulan ini dianggap sebagai waktu yang tepat untuk memulai perjalanan, baik fisik maupun spiritual. Ada juga yang mengartikan Sapar sebagai bulan untuk "meninggalkan" kebiasaan buruk.
Tradisi Khusus:
- Ruwatan Sapar: Upacara ruwatan untuk menolak bala
- Mulih Kampung: Tradisi pulang ke kampung halaman
- Sedekah Bumi: Di beberapa daerah, bulan Sapar digunakan untuk syukuran hasil bumi
Kepercayaan:
Beberapa masyarakat Jawa percaya bahwa bulan Sapar membawa sial, sehingga perlu diperbanyak doa dan sedekah.
3. Mulud (Rabiul Awal)
Asal Nama:
Mulud berasal dari kata "Maulid" yang berarti "kelahiran", merujuk pada kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Makna Filosofis:
Bulan Mulud adalah bulan yang penuh berkah dan kegembiraan karena memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ini adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak shalawat, mempelajari sirah (sejarah) Nabi, dan meneladani akhlaknya.
Tradisi Khusus:
- Grebeg Maulud: Upacara besar di keraton Yogyakarta dan Surakarta
- Maulidan: Peringatan kelahiran Nabi di masjid-masjid dan musholla
- Barzanji: Pembacaan shalawat dan riwayat Nabi
- Sekaten: Pasar malam dan perayaan di alun-alun keraton
- Pembagian Gunungan: Makanan tradisional dibagikan kepada masyarakat
Makanan Khas:
- Apem, lemper, dan berbagai kue tradisional
- Nasi gunungan dengan lauk-pauk lengkap
4. Bakdamulud (Rabiul Akhir)
Asal Nama:
Bakdamulud berasal dari kata "Ba'da" (setelah) dan "Mulud", yang berarti "setelah Mulud".
Makna Filosofis:
Bulan ini merupakan penyempurnaan dari bulan Mulud. Jika di bulan Mulud kita merayakan kelahiran Nabi, maka di bulan Bakdamulud kita diharapkan terus mengamalkan ajaran-ajarannya.
Tradisi Khusus:
- Pengajian Akbar: Lanjutan dari perayaan Maulid
- Sedekah: Memperbanyak sedekah sebagai bentuk syukur
- Silaturahmi: Mempererat hubungan dengan keluarga dan tetangga
Aktivitas:
Bulan ini sering digunakan untuk menyelesaikan berbagai urusan yang tertunda di bulan-bulan sebelumnya.
5. Jumadilawal (Jumadil Awal)
Asal Nama:
Jumadilawal berasal dari kata "Jumada" (kering) dan "Awal" (pertama), yang berarti "kekeringan pertama".
Makna Filosofis:
Jumadilawal melambangkan awal dari masa kekeringan atau masa sulit. Secara spiritual, ini adalah waktu untuk menguatkan iman dan kesabaran dalam menghadapi ujian.
Tradisi Khusus:
- Doa Bersama: Memohon keberkahan dan kemudahan
- Puasa Sunnah: Memperbanyak puasa sunnah
- Zikir: Memperbanyak dzikir dan istighfar
Kepercayaan:
Masyarakat Jawa percaya bahwa bulan ini adalah waktu yang tepat untuk bertafakur dan merenungkan makna kehidupan.
6. Jumadilakir (Jumadil Akhir)
Asal Nama:
Jumadilakir berasal dari kata "Jumada" (kering) dan "Akhir" (terakhir), yang berarti "kekeringan terakhir".
Makna Filosofis:
Bulan ini melambangkan akhir dari masa sulit dan awal dari harapan baru. Ini adalah waktu untuk bersabar menunggu datangnya pertolongan Allah.
Tradisi Khusus:
- Nyadran: Ziarah kubur dan doa untuk leluhur (di beberapa daerah)
- Sedekah Leluhur: Mengirim doa untuk orang tua yang telah meninggal
- Persiapan Puasa: Mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadhan
Aktivitas:
Bulan Jumadilakir sering digunakan untuk membersihkan makam leluhur dan melakukan perbaikan di rumah.
7. Rejeb (Rajab)
Asal Nama:
Rejeb berasal dari kata "Rajab" yang berarti "mulia" atau "agung".
Makna Filosofis:
Rejeb adalah bulan yang mulia, salah satu dari empat bulan haram (suci) dalam Islam. Bulan ini sangat baik untuk meningkatkan ibadah dan spiritualitas.
Tradisi Khusus:
- Puasa Rajab: Puasa sunnah di bulan Rajab
- Isra Mi'raj: Peringatan peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW (biasanya tanggal 27 Rajab)
- Pengajian Khusus: Kajian tentang keutamaan bulan Rajab
- Perbanyak Ibadah: Shalat malam, dzikir, dan baca Al-Qur'an
Keutamaan:
Masyarakat Jawa percaya bahwa amal ibadah di bulan Rejeb dilipatgandakan pahalanya.
8. Ruwah (Sya'ban)
Asal Nama:
Ruwah berasal dari kata "Arwah" yang berarti "roh" atau "jiwa".
Makna Filosofis:
Ruwah adalah bulan untuk membersihkan jiwa dan raga sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Ini adalah waktu yang tepat untuk memohon ampun dan membersihkan hati dari dosa.
Tradisi Khusus:
- Nyadran/Ruwahan: Ziarah kubur massal untuk mendoakan leluhur
- Padusan: Mandi suci atau bersih-bersih diri
- Sedekah Ruwah: Memberi makan fakir miskin
- Pengajian Akbar: Kajian tentang persiapan menyambut Ramadhan
- Mutih: Puasa dengan hanya makan nasi dan minum air putih
Makanan Khas:
- Apem (simbol permohonan maaf)
- Berbagai kue tradisional untuk sedekah
Waktu Spesial:
- Nisfu Sya'ban (pertengahan bulan Ruwah) dianggap sebagai waktu yang mustajab untuk berdoa.
9. Pasa (Ramadhan)
Asal Nama:
Pasa berasal dari kata "Puasa" atau "Shaum" dalam bahasa Arab.
Makna Filosofis:
Pasa adalah bulan suci dimana umat Islam menunaikan ibadah puasa. Ini adalah bulan penuh berkah, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.
Tradisi Khusus:
- Puasa Wajib: Menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenam matahari
- Tarawih: Shalat malam berjamaah
- Tadarus: Membaca dan mengkhatamkan Al-Qur'an
- Sedekah: Memperbanyak sedekah dan amal shaleh
- Ngabuburit: Menunggu waktu berbuka dengan berbagai aktivitas
- Sahur: Makan sebelum fajar dengan keluarga
Budaya Khas:
- Pasar Ramadhan: Menjual berbagai makanan untuk berbuka
- Bedug: Ditabuh untuk menandai waktu sahur dan berbuka
- Buka Bersama: Silaturahmi dengan keluarga, teman, dan tetangga
Puncak Ibadah:
- Lailatul Qadar: Malam yang lebih baik dari seribu bulan (biasanya di 10 malam terakhir)
10. Sawal (Syawal)
Asal Nama:
Sawal berasal dari kata "Syawal" yang berarti "meningkat" atau "naik", merujuk pada peningkatan derajat setelah Ramadhan.
Makna Filosofis:
Sawal adalah bulan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Ini adalah waktu untuk merayakan keberhasilan dan kembali pada kesucian.
Tradisi Khusus:
- Idul Fitri: Hari raya pada tanggal 1 Sawal
- Shalat Ied: Shalat berjamaah di lapangan atau masjid
- Zakat Fitrah: Membayar zakat sebelum shalat Ied
- Halal bi Halal: Silaturahmi dan saling memaafkan
- Mudik: Pulang ke kampung halaman
- Sungkeman: Memohon restu kepada orang tua
- Kue Kering: Menyajikan berbagai kue untuk tamu
Makanan Khas:
- Ketupat dengan opor ayam
- Rendang, sambal goreng ati
- Berbagai kue kering (nastar, kastengel, dll)
Ungkapan Populer:
"Minal Aidin Wal Faizin" - mohon maaf lahir dan batin
11. Sela (Dzulqaidah)
Asal Nama:
Sela berasal dari kata "Qa'dah" yang berarti "duduk" atau "istirahat".
Makna Filosofis:
Sela adalah bulan untuk beristirahat dan bersiap-siap menyambut bulan haji. Ini adalah bulan suci (haram) dimana umat Islam dilarang berperang.
Tradisi Khusus:
- Persiapan Haji: Doa untuk jamaah haji yang akan berangkat
- Puasa Sunnah: Memperbanyak puasa sunnah
- Istirahat Spiritual: Mengurangi aktivitas duniawi dan meningkatkan ibadah
- Pengajian: Kajian tentang makna haji dan qurban
Keutamaan:
Sela adalah salah satu bulan haram yang dimuliakan dalam Islam.
12. Besar (Dzulhijjah)
Asal Nama:
Besar berasal dari kata "Dzulhijjah" yang berarti "pemilik haji", karena di bulan inilah ibadah haji dilaksanakan.
Makna Filosofis:
Besar adalah bulan puncak ibadah haji dan pengorbanan. Ini adalah bulan yang sangat mulia dengan berbagai keutamaan.
Tradisi Khusus:
- Ibadah Haji: Rukun Islam kelima bagi yang mampu
- Idul Adha: Hari raya qurban pada tanggal 10 Besar
- Qurban: Menyembelih hewan qurban (sapi, kambing, unta)
- Puasa Arafah: Puasa sunnah tanggal 9 Besar bagi yang tidak haji
- Takbiran: Mengumandangkan takbir malam Idul Adha
- Distribusi Daging Qurban: Dibagikan kepada fakir miskin
Hari-Hari Spesial:
- 1-10 Besar: Hari-hari utama untuk beramal shaleh
- 9 Besar (Arafah): Hari wukuf jamaah haji di Arafah
- 10 Besar (Idul Adha): Hari raya qurban
- 11-13 Besar (Hari Tasyrik): Hari untuk makan, minum, dan berdzikir
Makanan Khas:
- Berbagai olahan daging qurban (sate, gulai, rendang)
- Ketupat dan sayur
Siklus Tahunan Kalender Jawa
Ke-12 bulan ini membentuk siklus tahunan yang tidak hanya mengatur waktu, tetapi juga membimbing kehidupan spiritual, sosial, dan budaya masyarakat Jawa. Setiap bulan memiliki:
- Karakter Khusus: Suasana dan energi yang berbeda
- Amalan Spesifik: Ibadah dan tradisi yang dianjurkan
- Nilai Filosofis: Pelajaran hidup yang dapat dipetik
- Tradisi Budaya: Warisan leluhur yang tetap lestari
Pelestarian di Era Modern
Meski kalender Masehi dan Hijriyah lebih dominan digunakan, nama-nama bulan Kalender Jawa tetap lestari karena:
- Integrasi dengan Islam: Nama-nama bulan yang selaras dengan kalender Hijriyah
- Tradisi yang Kuat: Upacara adat yang masih dilaksanakan
- Pendidikan Budaya: Diajarkan di sekolah-sekolah
- Digitalisasi: Tersedia dalam aplikasi dan kalender digital
Penutup
Nama-nama bulan dalam Kalender Jawa bukan sekadar penanda waktu, tetapi merupakan panduan hidup yang kaya akan nilai spiritual dan budaya. Dari Sura hingga Besar, setiap bulan mengajarkan kita tentang introspeksi, kesabaran, pengorbanan, dan syukur.
Mari kita lestarikan warisan leluhur ini dengan tetap menggunakan dan memahami makna di balik setiap bulannya. Dengan demikian, Kalender Jawa akan terus hidup dan menginspirasi generasi-generasi mendatang.
"Memahami Kalender Jawa adalah memahami jati diri bangsa, melestarikannya adalah menjaga identitas budaya Nusantara."
Semoga artikel ini bermanfaat untuk memahami kekayaan budaya Jawa! Selamat melestarikan warisan leluhur!
Tag :
Kamus Jawa