Sby, 2 Juli 2026 - Kejawen Wetan
Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah yang kaya akan kosakata dan tata bahasa yang unik. Salah satu keunikan tersebut dapat ditemukan dalam Tembung Rangkep atau yang dikenal sebagai kata ulang. Pemahaman tentang tembung rangkep sangat penting bagi siapa saja yang ingin mendalami bahasa Jawa, baik untuk keperluan akademis maupun komunikasi sehari-hari.
Apa Itu Tembung Rangkep?
Tembung Rangkep adalah kata yang mengalami proses pengulangan, baik secara utuh maupun sebagian, dengan atau tanpa perubahan bunyi. Dalam linguistik, fenomena ini dikenal sebagai reduplikasi. Tembung rangkep memiliki fungsi untuk memperjelas makna, menunjukkan jumlah jamak, memberikan penekanan, atau menciptakan nuansa makna tertentu.
Tembung rangkep terbagi menjadi tiga jenis utama: Dwilingga, Dwipurwa, dan Dwiwasana. Mari kita bahas satu per satu beserta contohnya.
1. DWILINGGA (Pengulangan Penuh)
Dwilingga berasal dari kata "dwi" yang berarti dua dan "lingga" yang berarti bentuk dasar. Jenis ini merupakan pengulangan kata secara utuh tanpa ada perubahan. Dwilingga adalah jenis tembung rangkep yang paling umum digunakan dalam bahasa Jawa sehari-hari.
A. Dwilingga Padha Swara
Pengulangan kata dasar yang sama persis tanpa perubahan bunyi.
Contoh:
- Bapak-bapak (para bapak)
- Ibu-ibu (para ibu)
- Anak-anak (para anak)
- Rumah-rumah (banyak rumah)
- Buku-buku (banyak buku)
- Kucing-kucing (banyak kucing)
- Mobil-mobil (banyak mobil)
- Pohon-pohon (banyak pohon)
- Meja-meja (banyak meja)
- Kursi-kursi (banyak kursi)
Contoh dalam kalimat:
- "Bapak-bapak lagi rapat ing balai desa." (Bapak-bapak sedang rapat di balai desa)
- "Anak-anak dolanan sepak bola ing lapangan." (Anak-anak bermain sepak bola di lapangan)
- "Ibu-ibu PKK ngadani kerja bakti." (Ibu-ibu PKK mengadakan kerja bakti)
B. Dwilingga Salin Swara
Pengulangan kata dasar dengan perubahan huruf vokal pada pengulangannya. Jenis ini sering digunakan untuk menunjukkan kegiatan yang dilakukan berulang-ulang atau bolak-balik.
Contoh:
- Bolak-balik (berulang-ulang)
- Bengak-bengok (berteriak-teriak)
- Mondar-mandir (berjalan kian kemari)
- Sayur-mayur (berbagai jenis sayur)
- Lauk-pauk (berbagai jenis lauk)
- Sayur-sayuran (berbagai sayur)
- Buah-buahan (berbagai buah)
- Kue-kuean (berbagai kue)
Contoh dalam kalimat:
- "Dheweke bolak-balik menyang pasar saben dina." (Dia bolak-balik ke pasar setiap hari)
- "Anak kuwi bengak-bengok njaluk ditukokake mainan." (Anak itu berteriak-teriak minta dibelikan mainan)
- "Pedagang kuwi dodolan sayur-mayur." (Pedagang itu menjual berbagai jenis sayur)
2. DWIPURWA (Pengulangan Awal)
Dwipurwa berasal dari kata "dwi" (dua) dan "purwa" (awal/depan). Ini adalah jenis pengulangan yang terjadi pada suku kata awal dari kata dasar. Dwipurwa sering digunakan untuk membentuk kata yang menunjukkan kelompok, sifat umum, atau keberadaan sesuatu.
Contoh:
- Leluhur (dari kata "luhur") - nenek moyang
- Tetangga (dari kata "tangga") - orang yang tinggal di sekitar
- Pepohonan (dari kata "pohon") - kumpulan pohon
- Rerumputan (dari kata "rumput") - kumpulan rumput
- Bebatuan (dari kata "batu") - kumpulan batu
- Jejamu (dari kata "jamu") - berbagai jenis jamu
- Tetuku (dari kata "tuku") - berbelanja
- Geguyu (dari kata "guyu") - tertawa
- Lelaku (dari kata "laku") - perjalanan/perilaku
- Dedunung (dari kata "dunung") - bertempat tinggal
- Pepanthan (dari kata "panthan") - kumpulan
- Tetanduran (dari kata "tanduran") - tanaman
Contoh dalam kalimat:
- "Pepohonan ing alas kudu dijaga supaya ora gundhul." (Pepohonan di hutan harus dijaga agar tidak gundul)
- "Rerumputan ing taman wis ditekuk wingi sore." (Rerumputan di taman sudah dipotong kemarin sore)
- "Leluhur kita ninggalake warisan budaya sing luhur." (Leluhur kita meninggalkan warisan budaya yang luhur)
- "Tetangga kuwi padha guyub rukun." (Tetangga itu hidup rukun dan harmonis)
- "Ibu tuku jejamu ing pasar tradisional." (Ibu membeli berbagai jamu di pasar tradisional)
3. DWIWASANA (Pengulangan Akhir)
Dwiwasana berasal dari kata "dwi" (dua) dan "wasana" (akhir). Ini adalah pengulangan yang terjadi pada bagian akhir kata dasar. Jenis tembung rangkep ini lebih jarang digunakan dibanding dwilingga dan dwipurwa, namun tetap penting untuk dipahami.
Contoh:
- Celuluk (dari kata "celuk") - memanggil-manggil
- Jelalat (dari kata "jalat") - menjilat-jilat
- Cengenges (dari kata "cengeng") - menangis-nangis
- Cekikik (dari kata "kikik") - tertawa cekikikan
- Gegagap (dari kata "gap") - tergesa-gesa
- Tetatap (dari kata "tatap") - menatap-natap
- Gegemer (dari kata "gemer") - gemetar
- Belalak (dari kata "balak") - melotot
Contoh dalam kalimat:
- "Dheweke celuluk-celuluk nalika weruh kanca-kanca." (Dia memanggil-manggil ketika melihat teman-teman)
- "Bocah kuwi cekikik terus tanpa ana sebab." (Anak itu tertawa cekikikan terus tanpa ada sebab)
- "Asu kuwi jelalat-jelalat njilat tangan sing menehi panganan." (Anjing itu menjilat-jilat tangan yang memberi makanan)
- "Dheweke gegagap-gagap merga kebelet lunga." (Dia tergesa-gesa karena terburu-buru pergi)
Fungsi dan Makna Tembung Rangkep
Tembung rangkep memiliki berbagai fungsi penting dalam bahasa Jawa:
1. Menunjukkan Jamak/Kumpulan
- Bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak
- Pepohonan, rerumputan, bebatuan
2. Meniru Bunyi (Onomatope)
- Cekikik (tawa)
- Cengenges (tangis)
- Bengak-bengok (teriak)
3. Menunjukkan Intensitas atau Pengulangan
- Bolak-balik (berulang-ulang)
- Mondar-mandir (berjalan kian kemari)
- Tetatap (menatap terus)
4. Memberikan Makna 'Serupa' atau 'Berbagai Macam'
- Sayur-mayur (berbagai sayur)
- Lauk-pauk (berbagai lauk)
- Jejamu (berbagai jamu)
5. Menekankan Makna
- Terus-menerus
- Berulang-ulang
- Sangat/sekali
Perbedaan dengan Bahasa Indonesia
Meskipun konsep reduplikasi juga ada dalam bahasa Indonesia, tembung rangkep dalam bahasa Jawa memiliki karakteristik tersendiri:
- Dwipurwa dalam bahasa Jawa lebih variatif dan sering digunakan
- Dwiwasana hampir tidak ditemukan dalam bahasa Indonesia modern
- Beberapa dwilingga salin swara memiliki bentuk yang khas dan tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia
Tips Belajar Tembung Rangkep
Bagi Anda yang ingin menguasai tembung rangkep, berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:
- Perbanyak Membaca - Baca karya sastra Jawa seperti cerkak (cerita cekak), novel, atau artikel berbahasa Jawa
- Praktik Langsung - Gunakan tembung rangkep dalam percakapan sehari-hari
- Dengarkan Penutur Asli - Perhatikan bagaimana penutur asli bahasa Jawa menggunakan tembung rangkep
- Catat dan Hafalkan - Buat catatan khusus tentang contoh-contoh tembung rangkep
- Latihan Membuat Kalimat - Buat kalimat menggunakan tembung rangkep yang sudah dipelajari
Kesimpulan
Tembung Rangkep merupakan salah satu kekayaan linguistik bahasa Jawa yang patut kita lestarikan. Dengan memahami Dwilingga, Dwipurwa, dan Dwiwasana, kita dapat berkomunikasi dalam bahasa Jawa dengan lebih baik, tepat, dan natural.
Ketiga jenis tembung rangkep ini tidak hanya memperkaya kosakata, tetapi juga memberikan nuansa makna yang lebih dalam dan ekspresif dalam setiap ungkapan. Penguasaan tembung rangkep akan membuat kemampuan berbahasa Jawa Anda menjadi lebih baik dan autentik.
Mari kita terus belajar, menggunakan, dan melestarikan bahasa Jawa agar tidak punah tergerus arus globalisasi. Bahasa Jawa adalah warisan leluhur yang harus kita jaga untuk generasi mendatang.
Sugeng sinau basa Jawa! Mugi-mugi migunani. 🙏
(Selamat belajar bahasa Jawa! Semoga bermanfaat.)
Referensi:
- Artikel ini disusun berdasarkan kajian linguistik bahasa Jawa tentang tembung rangkep dan reduplikasi
- Contoh-contoh diambil dari penggunaan bahasa Jawa dalam komunikasi sehari-hari dan karya sastra Jawa
Tag :
Kamus Jawa