Ayo nglestarekno Budoyo Jowo ben ora ilang Soko Bumi Nusantoro

10 Contoh Gladhen Ubah Ukara Tanggap Dadi Ukara Tanduk - Panduan Lengkap Belajar Basa Jawa

Sby, Juli 2026

10 Contoh Gladhen Ubah Ukara Tanggap Dadi Ukara Tanduk: Panduan Lengkap Belajar Basa Jawa

Di bawah ini adalah 10 contoh gladhen ubah ukara tanggap dadi ukara tanduk lengkap dengan penjelasan. Panduan belajar basa Jawa tentang transformasi kalimat pasif ke aktif.

Keywords: ukara tanggap, ukara tanduk, gladhen basa Jawa, contoh ukara tanggap, contoh ukara tanduk, mengubah kalimat pasif Jawa, tata bahasa Jawa, basa Jawa, transformasi kalimat Jawa, latihan ukara tanggap 

Pendahuluan: Memahami Konsep Ukara Tanggap dan Ukara Tanduk

Basa Jawa memiliki tata bahasa yang kaya dan unik, salah satunya adalah perbedaan antara ukara tanggap (kalimat pasif) dan ukara tanduk (kalimat aktif). Bagi siswa yang belajar bahasa Jawa, kemampuan mengubah ukara tanggap dadi ukara tanduk merupakan keterampilan penting yang harus dikuasai.
Ukara tanggap adalah kalimat di mana subjek dikenai pekerjaan atau tindakan, sedangkan ukara tanduk adalah kalimat di mana subjek melakukan pekerjaan atau tindakan. Pemahaman yang baik tentang kedua jenis kalimat ini sangat penting untuk menguasai tata bahasa Jawa dengan baik.
Artikel ini akan memberikan 10 contoh latihan (gladhen) lengkap dengan penjelasan tentang cara mengubah ukara tanggap menjadi ukara tanduk, sehingga Anda dapat belajar dengan lebih efektif dan mudah dipahami.

Perbedaan Ukara Tanggap dan Ukara Tanduk

Ciri-Ciri Ukara Tanggap (Kalimat Pasif):

  • Subjek dikenai tindakan
  • Kata kerja menggunakan awalan di-, ka-, atau ter-
  • Pelaku tindakan biasanya ditandai dengan kata "dening" (oleh)
  • Pola kalimat: Objek + Kata Kerja Pasif + Pelaku
Contoh: Buku kuwi diwaca dening Budi. (Buku itu dibaca oleh Budi)

Ciri-Ciri Ukara Tanduk (Kalimat Aktif):

  • Subjek melakukan tindakan
  • Kata kerja menggunakan awalan n-, m-, ny-, atau tanpa awalan
  • Objek dikenai tindakan
  • Pola kalimat: Subjek + Kata Kerja Aktif + Objek
Contoh: Budi maca buku kuwi. (Budi membaca buku itu)

Langkah-Langkah Mengubah Ukara Tanggap Dadi Ukara Tanduk

Sebelum masuk ke contoh latihan, penting untuk memahami langkah-langkah transformasi:
  1. Identifikasi pelaku (yang melakukan tindakan) - biasanya setelah kata "dening"
  2. Ubah kata kerja pasif (di-, ka-, ter-) menjadi kata kerja aktif (n-, m-, ny-)
  3. Jadikan pelaku sebagai subjek di awal kalimat
  4. Pindahkan objek ke posisi setelah kata kerja
  5. Hilangkan kata "dening" karena sudah tidak diperlukan

10 Contoh Gladhen Ubah Ukara Tanggap Dadi Ukara Tanduk

Contoh 1:

Ukara Tanggap: Sega goreng kuwi dipangan dening adhik. (Nasi goreng itu dimakan oleh adik)
Ukara Tanduk: Adhik mangan sega goreng kuwi. (Adik makan nasi goreng itu)
Penjelasan:
  • Pelaku: adhik (adik)
  • Kata kerja pasif "dipangan" diubah menjadi aktif "mangan"
  • Adhik menjadi subjek di awal kalimat

Contoh 2:

Ukara Tanggap: Omah anyar kuwi dibangun dening bapak kontraktor. (Rumah baru itu dibangun oleh bapak kontraktor)
Ukara Tanduk: Bapak kontraktor mbangun omah anyar kuwi. (Bapak kontraktor membangun rumah baru itu)
Penjelasan:
  • Pelaku: bapak kontraktor
  • "Dibangun" menjadi "mbangun" (awalan di- berubah menjadi m-)
  • Struktur kalimat dibalik

Contoh 3:

Ukara Tanggap: Klambi kuwi diumbahi dening ibu ing kali. (Pakaian itu dicuci oleh ibu di sungai)
Ukara Tanduk: Ibu ngumbahi klambi kuwi ing kali. (Ibu mencuci pakaian itu di sungai)
Penjelasan:
  • Pelaku: ibu
  • "Diumbahi" menjadi "ngumbahi" (di- berubah menjadi ng-)
  • Keterangan tempat "ing kali" tetap di posisi akhir

Contoh 4:

Ukara Tanggap: Pitik-pitik kuwi diwenehi pangan dening simbah. (Ayam-ayam itu diberi makan oleh nenek)
Ukara Tanduk: Simbah maringi pangan pitik-pitik kuwi. (Nenek memberi makan ayam-ayam itu)
Penjelasan:
  • Pelaku: simbah (nenek)
  • "Diwenehi" menjadi "maringi" (perubahan tidak beraturan)
  • Objek "pangan" dan "pitik-pitik kuwi" disesuaikan posisinya

Contoh 5:

Ukara Tanggap: Tugas sekolah kuwi dikumpulake dening para siswa. (Tugas sekolah itu dikumpulkan oleh para siswa)
Ukara Tanduk: Para siswa ngumpulake tugas sekolah kuwi. (Para siswa mengumpulkan tugas sekolah itu)
Penjelasan:
  • Pelaku: para siswa
  • "Dikumpulake" menjadi "ngumpulake" (di- berubah menjadi ng-)
  • Subjek jamatan "para siswa" tetap dipertahankan

Contoh 6:

Ukara Tanggap: Kue ulang tahun kuwi dipotong dening anakku. (Kue ulang tahun itu dipotong oleh anakku)
Ukara Tanduk: Anakku motong kue ulang tahun kuwi. (Anakku memotong kue ulang tahun itu)
Penjelasan:
  • Pelaku: anakku
  • "Dipotong" menjadi "motong" (di- berubah menjadi m-)
  • Kalimat menjadi lebih sederhana dan langsung

Contoh 7:

Ukara Tanggap: Mobil kuwi didol dening pakdhe amarga wis rusak. (Mobil itu dijual oleh paman karena sudah rusak)
Ukara Tanduk: Pakdhe ngedol mobil kuwi amarga wis rusak. (Paman menjual mobil itu karena sudah rusak)
Penjelasan:
  • Pelaku: pakdhe (paman)
  • "Didol" menjadi "ngedol" (di- berubah menjadi ng-)
  • Keterangan sebab "amarga wis rusak" tetap di posisi akhir

Contoh 8:

Ukara Tanggap: Layang kuwi ditulis dening adhikku nganggo tinta biru. (Surat itu ditulis oleh adikku dengan tinta biru)
Ukara Tanduk: Adhikku nulis layang kuwi nganggo tinta biru. (Adikku menulis surat itu dengan tinta biru)
Penjelasan:
  • Pelaku: adhikku
  • "Ditulis" menjadi "nulis" (di- berubah menjadi n-)
  • Keterangan alat "nganggo tinta biru" tetap dipertahankan

Contoh 9:

Ukara Tanggap: Sawah kuwi digarap dening para petani saben dina. (Sawah itu digarap oleh para petani setiap hari)
Ukara Tanduk: Para petani nggarap sawah kuwi saben dina. (Para petani menggarap sawah itu setiap hari)
Penjelasan:
  • Pelaku: para petani
  • "Digarap" menjadi "nggarap" (di- berubah menjadi ng-)
  • Keterangan waktu "saben dina" tetap di akhir

Contoh 10:

Ukara Tanggap: Lagu kuwi dinyanyikake dening penyanyi terkenal ing panggung. (Lagu itu dinyanyikan oleh penyanyi terkenal di panggung)
Ukara Tanduk: Penyanyi terkenal nyanyikake lagu kuwi ing panggung. (Penyanyi terkenal menyanyikan lagu itu di panggung)
Penjelasan:
  • Pelaku: penyanyi terkenal
  • "Dinyanyikake" menjadi "nyanyikake" (di- berubah menjadi ny-)
  • Keterangan tempat "ing panggung" tetap di posisi akhir

Tips dan Trik Menguasai Transformasi Kalimat

1. Pahami Pola Awalan

  • di- → n-, m-, ng-, ny- (tergantung huruf pertama kata dasar)
  • ka- → biasanya berubah menjadi ke- atau hilang
  • ter- → tetap atau berubah sesuai konteks

2. Perhatikan Huruf Pertama Kata Dasar

  • Kata dasar dimulai dengan huruf vokal → awalan ng-
  • Kata dasar dimulai dengan b, d, j → awalan m-
  • Kata dasar dimulai dengan p, t, k → awalan n-
  • Kata dasar dimulai dengan s → awalan ny-

3. Latihan Rutin

Kunci menguasai transformasi kalimat adalah latihan yang konsisten. Cobalah buat kalimat sendiri dan ubah dari tanggap ke tanduk atau sebaliknya.

4. Baca Teks Basa Jawa

Membaca cerita, artikel, atau buku berbahasa Jawa akan membantu Anda terbiasa dengan struktur kalimat tanggap dan tanduk.

5. Gunakan Kamus

Jika bingung dengan perubahan awalan, gunakan kamus basa Jawa untuk memastikan bentuk aktif dari kata kerja pasif.

Kesimpulan

Mengubah ukara tanggap dadi ukara tanduk merupakan keterampilan dasar yang penting dalam belajar basa Jawa. Dengan memahami pola perubahan awalan, struktur kalimat, dan rutin berlatih, Anda akan semakin mahir dalam transformasi kalimat ini.
Kesepuluh contoh gladhen di atas memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana cara mengubah kalimat pasif menjadi aktif dalam bahasa Jawa. Ingatlah untuk selalu:
  • Identifikasi pelaku dengan tepat
  • Ubah awalan kata kerja sesuai aturan
  • Susun kembali struktur kalimat
  • Pertahankan keterangan waktu, tempat, dan cara
Semakin sering Anda berlatih, semakin mudah dan natural proses transformasi ini akan terasa. Selamat belajar dan semoga sukses menguasai tata bahasa Jawa!
Semoga bermanfaat.
Tag : Kamus Jawa
Back To Top