Sby, Sabtu 4 Juli 2026 - Kejawen Wetan
Apakah Anda pernah mendengar tentang "pasaran" dalam budaya Jawa? Berbeda dengan sistem minggu 7 hari yang umum kita kenal, masyarakat Jawa tradisional memiliki sistem penanggalan unik yang terdiri dari 5 hari. Sistem yang disebut Pasaran Jawa ini bukan sekadar cara menghitung hari, melainkan sebuah kearifan lokal yang sarat dengan filosofi hidup dan nilai-nilai spiritual.
Mari kita kupas tuntas apa itu Pasaran Jawa, sejarah, makna, dan relevansinya di era modern ini.
Pengertian Pasaran Jawa
Pasaran Jawa adalah siklus 5 hari dalam sistem penanggalan Jawa tradisional yang berjalan paralel dengan siklus 7 hari (Saptawara). Kelima hari dalam pasaran ini adalah:
- Legi (atau Manis)
- Pahing
- Pon
- Wage
- Kliwon (atau Kasih)
Sistem ini merupakan warisan leluhur Nusantara yang telah ada sejak sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha dan Islam ke tanah Jawa.
Sejarah dan Asal Usul Pasaran Jawa
Akar Budaya Kuno
Pasaran Jawa diperkirakan sudah ada sejak masa peradaban Jawa kuno, jauh sebelum kalender Hijriyah dan Masehi dikenal di Nusantara. Beberapa teori menyebutkan:
1. Pengaruh Kepercayaan Animisme-Dinamisme
Sistem 5 hari ini diduga kuat berasal dari kepercayaan asli masyarakat Nusantara yang menganut animisme-dinamisme. Lima hari ini mungkin melambangkan lima elemen alam atau lima arah mata angin (utara, selatan, timur, barat, dan tengah).
2. Sistem Pertanian Kuno
Ada pula yang berpendapat bahwa siklus 5 hari digunakan untuk mengatur aktivitas pertanian, seperti waktu tanam, pemeliharaan, dan panen.
3. Pengaruh Kalender Saka
Ketika budaya Hindu-Buddha masuk ke Jawa, sistem pasaran ini berakulturasi dengan Kalender Saka dari India, namun tetap mempertahankan identitas lokalnya.
Integrasi dengan Islam
Ketika Islam menyebar di Jawa pada abad ke-15 dan 16, para wali dan ulama tidak menghapus sistem pasaran yang sudah mengakar. Sebaliknya, mereka mengintegrasikannya dengan sistem penanggalan Islam.
Puncaknya terjadi pada masa Sultan Agung (1613-1645) dari Kesultanan Mataram, yang melakukan reformasi kalender dengan menggabungkan unsur-unsur lokal (termasuk pasaran) dengan Kalender Hijriyah, menciptakan apa yang kini kita kenal sebagai Kalender Jawa.
Makna Filosofis Kelima Hari Pasaran
Setiap hari dalam pasaran Jawa memiliki makna dan karakter tersendiri. Berikut penjelasan mendalam tentang kelima hari tersebut:
1. Legi (Manis)
Arti Nama:
Legi berarti "manis" dalam bahasa Jawa. Hari ini juga disebut "Manis."
Makna Filosofis:
- Melambangkan kebaikan, keindahan, dan harmoni
- Diasosiasikan dengan rasa manis yang menyenangkan
- Simbol dari kasih sayang dan kelembutan
Karakter Energi:
- Energi yang positif dan menyenangkan
- Waktu yang baik untuk memulai hubungan baru
- Cocok untuk kegiatan yang bersifat sosial dan artistik
Sifat dan Watak:
Orang yang lahir pada hari Legi dipercaya memiliki sifat:
- Ramah dan menyenangkan
- Mudah bergaul dan disukai banyak orang
- Kreatif dan memiliki selera seni tinggi
- Optimis dan ceria
- Namun, terkadang terlalu mudah percaya pada orang lain
Unsur: Kayu
Warna: Hijau
Arah Mata Angin: Timur
2. Pahing
Arti Nama:
Kata "Pahing" diduga berasal dari kata yang berarti "fokus" atau "terpusat."
Makna Filosofis:
- Melambangkan keteguhan, fokus, dan determinasi
- Simbol dari kekuatan dan ketahanan
- Representasi dari bumi yang kokoh
Karakter Energi:
- Energi yang stabil dan membumi
- Waktu yang tepat untuk bekerja keras dan fokus pada tujuan
- Baik untuk kegiatan yang membutuhkan ketekunan
Sifat dan Watak:
Orang yang lahir pada hari Pahing cenderung memiliki:
- Tekad yang kuat dan tidak mudah menyerah
- Praktis dan realistis dalam menghadapi kehidupan
- Bertanggung jawab dan dapat diandalkan
- Pandai mengelola sumber daya
- Namun, bisa keras kepala dan kurang fleksibel
Unsur: Tanah
Warna: Kuning kecoklatan
Arah Mata Angin: Barat Daya
3. Pon
Arti Nama:
"Pon" berarti "tegas" atau "kuat" dalam filosofi Jawa.
Makna Filosofis:
- Melambangkan keberanian, ketegasan, dan kekuatan
- Simbol dari api yang menyala dan memberi cahaya
- Representasi dari kepemimpinan
Karakter Energi:
- Energi yang kuat dan dinamis
- Waktu yang baik untuk mengambil keputusan penting
- Cocok untuk kegiatan yang membutuhkan keberanian
Sifat dan Watak:
Orang yang lahir pada hari Pon biasanya:
- Berani dan tegas dalam bertindak
- Memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat
- Mandiri dan tidak mudah terpengaruh
- Protektif terhadap orang yang dicintai
- Namun, bisa terlalu dominan dan emosional
Unsur: Api
Warna: Merah
Arah Mata Angin: Selatan
4. Wage
Arti Nama:
"Wage" bermakna "tegas" atau "berani."
Makna Filosofis:
- Melambangkan semangat juang dan keberanian
- Simbol dari logam yang kuat dan tajam
- Representasi dari kekuatan yang terfokus
Karakter Energi:
- Energi yang tajam dan terarah
- Waktu yang baik untuk menghadapi tantangan
- Cocok untuk kegiatan yang membutuhkan ketepatan
Sifat dan Watak:
Orang yang lahir pada hari Wage memiliki karakteristik:
- Berani menghadapi risiko dan tantangan
- Loyal dan setia kawan
- Energik dan dinamis
- Blak-blakan dan apa adanya
- Namun, cenderung ceroboh dan kurang sabar
Unsur: Logam
Warna: Putih atau Emas
Arah Mata Angin: Barat
5. Kliwon (Kasih)
Arti Nama:
"Kliwon" berasal dari kata yang berarti "kumpul" atau "berkumpul." Juga disebut "Kasih" yang berarti "cinta" atau "kasih sayang."
Makna Filosofis:
- Melambangkan spiritualitas, kebijaksanaan, dan kasih sayang
- Simbol dari air yang mengalir dan memberi kehidupan
- Representasi dari introspeksi dan renungan
Karakter Energi:
- Energi yang spiritual dan mistis
- Waktu yang sakral untuk beribadah dan bertafakur
- Baik untuk kegiatan spiritual dan meditasi
Sifat dan Watak:
Orang yang lahir pada hari Kliwon cenderung:
- Spiritual dan memiliki intuisi yang kuat
- Bijaksana dan penuh pertimbangan
- Sabar dan pemaaf
- Penuh kasih sayang
- Namun, bisa terlalu sensitif dan tertutup
Unsur: Air
Warna: Hitam atau Biru Tua
Arah Mata Angin: Utara
Siklus Pancawara: Bagaimana Pasaran Bekerja
Sistem 5 Hari
Pasaran Jawa bekerja dalam siklus yang disebut Pancawara (lima hari). Berbeda dengan sistem minggu 7 hari (Saptawara) yang kita kenal, siklus 5 hari ini berjalan terus-menerus tanpa henti.
Urutan Pasaran:
Legi → Pahing → Pon → Wage → Kliwon → Legi → dan seterusnya...
Kombinasi dengan Saptawara
Yang membuat sistem ini unik adalah kombinasi antara:
- Saptawara (7 hari): Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu
- Pancawara (5 hari): Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon
Kombinasi ini menghasilkan 35 hari unik (7 × 5 = 35) sebelum pola yang sama terulang. Inilah yang disebut siklus Wetonan.
Contoh Kombinasi:
- Minggu Legi
- Senin Pahing
- Selasa Pon
- Rabu Wage
- Kamis Kliwon
- Jumat Legi
- Sabtu Pahing
- Dan seterusnya...
Setelah 35 hari, kombinasi yang sama akan terulang. Misalnya, jika hari ini adalah Jumat Legi, maka 35 hari kemudian akan kembali ke Jumat Legi.
Fungsi dan Kegunaan Pasaran Jawa
1. Menentukan Weton
Fungsi paling terkenal dari pasaran adalah untuk menentukan weton seseorang, yaitu kombinasi hari dan pasaran saat kelahiran. Weton digunakan untuk:
- Memahami karakter dan kepribadian
- Menentukan kecocokan jodoh
- Meramalkan nasib dan keberuntungan
2. Menentukan Hari Baik
Masyarakat Jawa menggunakan pasaran untuk menentukan hari yang baik untuk berbagai keperluan:
- Pernikahan: Memilih hari baik untuk akad nikah
- Membangun Rumah: Menentukan hari groundbreaking
- Memulai Usaha: Memilih hari buka toko atau bisnis baru
- Perjalanan: Menentukan hari baik untuk bepergian jauh
3. Tradisi dan Upacara Adat
Pasaran digunakan untuk menentukan waktu pelaksanaan berbagai tradisi:
- Selametan: Syukuran pada hari-hari tertentu
- Ruwatan: Upacara tolak bala
- Grebeg: Upacara di keraton
- Ziarah Kubur: Tradisi nyadran
4. Aktivitas Pertanian
Secara tradisional, pasaran digunakan untuk mengatur:
- Waktu tanam padi
- Masa pemeliharaan tanaman
- Waktu panen
- Aktivitas di ladang dan sawah
5. Aktivitas Perdagangan
Istilah "pasaran" sendiri konon berasal dari aktivitas pasar yang diadakan setiap 5 hari sekali di desa-desa Jawa. Pada hari-hari tertentu, pasar diadakan di lokasi berbeda secara bergiliran.
Neptu: Nilai Numerik Pasaran
Dalam perhitungan Jawa, setiap hari pasaran memiliki nilai numerik yang disebut neptu. Nilai ini digunakan untuk berbagai perhitungan tradisional.
Nilai Neptu Pasaran:
Nilai Neptu Hari (Saptawara):
Cara Menghitung Neptu Weton:
Contoh:
Seseorang lahir pada hari Jumat Kliwon
- Jumat = 6
- Kliwon = 8
- Total Neptu = 14
Neptu ini kemudian digunakan untuk berbagai perhitungan seperti kecocokan jodoh, hari baik, dan lain-lain.
Pasaran Jawa dalam Kehidupan Modern
Tetap Lestari di Era Digital
Meski teknologi modern telah mendominasi kehidupan, Pasaran Jawa tetap eksis karena:
1. Aplikasi Digital
Banyak aplikasi smartphone yang menyertakan Kalender Jawa dan pasaran, memudahkan generasi muda untuk mengakses informasi ini.
2. Kalender Dinding
Sebagian besar kalender dinding di Indonesia masih mencantumkan pasaran Jawa di samping tanggal Masehi dan Hijriyah.
3. Media Sosial
Informasi tentang weton dan pasaran banyak dibagikan di media sosial, menjaga relevansinya di kalangan generasi muda.
4. Pendidikan Budaya
Pasaran Jawa diajarkan di sekolah-sekolah sebagai bagian dari muatan lokal budaya Jawa.
Penggunaan Kontemporer
Tradisi yang Masih Hidup:
- Selametan Wetonan: Banyak orang Jawa masih melakukan syukuran setiap wetonannya (setiap 35 hari)
- Pernikahan: Perhitungan weton masih menjadi pertimbangan dalam pernikahan adat Jawa
- Hari Raya: Penentuan hari-hari penting seperti 1 Sura masih menggunakan Kalender Jawa
Adaptasi Modern:
- Bisnis: Beberapa pengusaha masih memilih hari baik untuk membuka usaha
- Nama Anak: Sebagian orang memberi nama anak berdasarkan weton kelahiran
- Kesehatan: Beberapa praktik kesehatan tradisional masih mempertimbangkan pasaran
Fakta Menarik tentang Pasaran Jawa
1. Salah Satu Sistem Kalender Tertua
Pasaran Jawa adalah salah satu sistem penanggalan tertua yang masih digunakan hingga kini, membuktikan ketahanan budaya Nusantara.
2. Unik di Dunia
Hanya sedikit budaya di dunia yang memiliki sistem minggu 5 hari. Ini membuat Pasaran Jawa menjadi sangat unik.
3. Akulturasi Sempurna
Pasaran Jawa adalah contoh sempurna bagaimana budaya lokal bisa berakulturasi dengan budaya asing (Hindu, Buddha, Islam) tanpa kehilangan identitasnya.
4. Pengaruh terhadap Bahasa
Istilah "pasaran" masuk ke dalam kosakata bahasa Indonesia, meski maknanya meluas menjadi "tempat berjualan."
5. Siklus yang Presisi
Sistem 35 hari (wetonan) menunjukkan pemahaman leluhur Jawa tentang matematika dan astronomi yang canggih untuk zamannya.
Hari-Hari Spesial dalam Pasaran
Beberapa kombinasi hari dan pasaran dianggap memiliki makna khusus:
Jumat Kliwon
- Dianggap sebagai hari yang sakral dan mistis
- Banyak orang melakukan tirakat dan puasa
- Dipercaya sebagai hari yang baik untuk spiritualitas
- Sering dikaitkan dengan hal-hal mistis
Selasa Kliwon
- Baik untuk kegiatan spiritual
- Waktu yang tepat untuk ziarah kubur
- Dipercaya memiliki energi yang kuat
Kamis Legi
- Dianggap baik untuk memulai usaha baru
- Waktu yang tepat untuk pernikahan
- Membawa energi positif dan keberkahan
Sabtu Pahing
- Baik untuk introspeksi diri
- Waktu yang tepat untuk bertapa
- Memiliki energi yang stabil
Cara Mengetahui Pasaran Hari Ini
Metode Tradisional:
- Gunakan primbon atau buku penanggalan Jawa
- Tanyakan pada orang yang memahami Kalender Jawa
- Lihat pada kalender yang mencantumkan pasaran
Metode Modern:
- Aplikasi Smartphone: Download aplikasi Kalender Jawa
- Website: Kunjungi situs konversi tanggal
- Google: Cari "pasaran hari ini" di mesin pencari
- Media Sosial: Follow akun yang berbagi informasi Kalender Jawa
Menjaga Warisan Leluhur
Mengapa Kita Harus Melestarikan Pasaran Jawa?
1. Identitas Budaya
Pasaran Jawa adalah bagian dari identitas bangsa Indonesia, khususnya Jawa. Melestarikannya berarti menjaga jati diri bangsa.
2. Kearifan Lokal
Sistem ini mengandung nilai-nilai filosofis yang dalam tentang harmoni, spiritualitas, dan kehidupan.
3. Warisan untuk Generasi Mendatang
Jika tidak dilestarikan, pengetahuan ini bisa punah dan hilang dari peradaban.
4. Keberagaman Budaya Dunia
Pasaran Jawa menambah kekayaan budaya dunia dengan sistem penanggalan yang unik.
Cara Melestarikan Pasaran Jawa:
Individu:
- Pelajari dan pahami makna pasaran
- Gunakan dalam kehidupan sehari-hari
- Ajarkan kepada anak dan cucu
- Rayakan wetonan sebagai bentuk syukur
Komunitas:
- Adakan kajian tentang Kalender Jawa
- Lestarikan tradisi yang menggunakan pasaran
- Dokumentasikan pengetahuan tentang pasaran
Pemerintah:
- Masukkan dalam kurikulum pendidikan
- Dukung penelitian tentang Kalender Jawa
- Promosikan sebagai warisan budaya
Sikap Bijak Terhadap Pasaran Jawa
Yang Sebaiknya Dilakukan:
✅ Ambil Nilai Positifnya
Gunakan pasaran sebagai panduan untuk introspeksi diri dan memahami karakter, bukan untuk menghakimi.
✅ Tetap Berusaha dan Berdoa
Jangan bergantung sepenuhnya pada weton. Usaha, doa, dan ikhtiar tetap yang utama.
✅ Hargai sebagai Budaya
Lihat pasaran sebagai warisan budaya yang berharga, bukan sebagai takhayul.
✅ Sikap Terbuka
Terus pelajari dan kaji dengan pikiran terbuka, namun tetap kritis.
Yang Sebaiknya Dihindari:
❌ Percaya Buta
Jangan percaya sepenuhnya tanpa pertimbangan rasional.
❌ Menentukan Nasib
Jangan menggunakan pasaran untuk menentukan nasib secara mutlak.
❌ Menghakimi Orang
Jangan menilai atau menghakimi orang hanya berdasarkan wetonnya.
❌ Mengabaikan Usaha
Jangan mengabaikan kerja keras dan usaha hanya karena menunggu "hari baik."
Kesimpulan
Pasaran Jawa adalah sistem penanggalan unik yang terdiri dari 5 hari (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) yang telah menjadi bagian integral dari budaya Jawa selama berabad-abad. Lebih dari sekadar cara menghitung hari, pasaran mengandung:
- Filosofi Hidup yang dalam tentang karakter dan energi
- Nilai Spiritual yang membimbing kehidupan beribadah
- Kearifan Lokal dalam mengatur aktivitas sehari-hari
- Identitas Budaya yang membedakan Nusantara dari bangsa lain
Dari Legi yang manis hingga Kliwon yang spiritual, setiap hari pasaran membawa makna dan energi tersendiri yang dapat menjadi panduan untuk memahami diri sendiri dan alam semesta.
Di era modern ini, Pasaran Jawa tetap relevan dan eksis, membuktikan ketahanan budaya warisan leluhur. Namun, penting untuk menyikapinya dengan bijak: mengambil nilai-nilai positifnya, melestarikannya sebagai warisan budaya, namun tetap mengedepankan usaha, doa, dan pemikiran rasional.
"Ngudi kasampurnan urip kanthi ngerti pasaran" (Mencari kesempurnaan hidup dengan memahami pasaran)
Mari kita lestarikan Pasaran Jawa bukan sebagai takhayul usang, tetapi sebagai living culture yang terus hidup, bernapas, dan menginspirasi kehidupan kita sehari-hari. Dengan memahami pasaran, kita bukan hanya mengenal warisan leluhur, tetapi juga mengenal jati diri kita sebagai bangsa Indonesia.
Referensi untuk Belajar Lebih Lanjut:
- Buku-buku Primbon Jawa kuno
- Kajian tentang Kalender Jawa di universitas
- Komunitas pencinta budaya Jawa
- Museum dan pusat dokumentasi budaya
Semoga artikel ini bermanfaat untuk memahami kekayaan budaya Nusantara! Mari lestarikan warisan leluhur untuk generasi mendatang.
Tag :
Kamus Jawa