Sby, Juli 2026
Bagi masyarakat Jawa, bulan Safar memiliki makna khusus yang dikelilingi berbagai mitos dan kepercayaan turun-temurun. Dari pantangan menikah hingga ritual tolak bala, bulan kedua dalam kalender Hijriyah ini sering dianggap membawa kesialan. Namun, bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap kepercayaan-kepercayaan ini? Artikel ini akan mengupas tuntas mitos dan fakta bulan Safar dalam perspektif budaya Jawa dan Islam.
Bulan Safar dalam Perspektif Budaya Jawa
Pengertian Bulan Safar
Safar (bahasa Arab: صَفَر) adalah bulan kedua dalam kalender Hijriyah setelah Muharram. Dalam budaya Jawa, bulan ini sering disebut dengan berbagai nama dan dikelilingi banyak kepercayaan.
Asal Usul Nama:
- Safar berarti "kosong" atau "kuning"
- Dalam kalender Jawa, bulan ini tetap menggunakan nama Safar
- Masyarakat Jawa menyebutnya Bulan Sapo (bulan kedua)
Kepercayaan Jawa tentang Safar
Masyarakat Jawa tradisional memiliki pandangan khusus tentang bulan Safar:
1. Bulan Nahas (Sial)
- Dipercaya membawa kesialan dan bencana
- Waktu yang tidak baik untuk memulai pekerjaan
- Banyak penyakit dan musibah
2. Bulan Penuh Bala
- Turunnya berbagai macam bencana
- Waktunya roh-roh halus berkeliaran
- Perlu diantisipasi dengan ritual khusus
3. Bulan yang Ditunggu
- Dinanti-nanti karena akan segera berlalu
- Dianggap sebagai "ujian" sebelum bulan-bulan baik
MITOS-MITOS BULAN SAFAR DALAM BUDAYA JAWA
❌ MITOS 1: Bulan Safar Bulan Sial (Nahas)
Kepercayaan Jawa:
- Orang Jawa percaya bulan Safar adalah bulan nahas
- Segala pekerjaan yang dimulai di bulan ini tidak akan berhasil
- Rumah tangga yang dibangun di bulan ini tidak akan harmonis
Praktik yang Muncul:
- Menghindari pernikahan di bulan Safar
- Menunda pembangunan rumah
- Tidak memulai usaha baru
- Menunda perjalanan jauh
Istilah Jawa:
- "Sasi Sapo iku sasi sing ora becik" (Bulan Safar adalah bulan yang tidak baik)
- "Aja nikah ing sasi Sapo" (Jangan menikah di bulan Safar)
❌ MITOS 2: Rabu Wekasan (Rabu Terakhir) Hari Sial
Kepercayaan Jawa:
Rabu Wekasan (Rabu terakhir bulan Safar) dianggap sebagai hari paling sial dalam setahun.
Praktik Tradisional:
- Mandi Ruwatan/Safar: Mandi di sungai atau sumber air pada Rabu Wekasan
- Tolak Bala: Upacara untuk menolak bencana
- Sedekah Bumi: Memberi sesaji kepada alam
- Doa Bersama: Membaca doa khusus di malam Rabu Wekasan
Ritual yang Dilakukan:
- Siraman (mandi) di tempat keramat
- Kembul Bujana (makan bersama)
- Selamatan dengan sajian khusus
- Membaca mantra atau doa tertentu
❌ MITOS 3: Ada 320.000 Bala Turun di Bulan Safar
Kepercayaan Jawa:
Konon, pada bulan Safar turun 320.000 bala (bencana/musibah) yang siap menyerang manusia.
Angka Simbolis:
- Angka ini dipercaya tanpa dasar yang jelas
- Diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi
- Menimbulkan rasa takut berlebihan
Respons Masyarakat:
- Memperbanyak sedekah
- Membaca doa tolak bala
- Melakukan ritual khusus
- Mengurangi aktivitas di luar rumah
❌ MITOS 4: Pernikahan di Bulan Safar Tidak Akan Langgeng
Kepercayaan Jawa:
Pasangan yang menikah di bulan Safar dipercaya:
- Cepat bercerai atau pisah
- Rumah tangga penuh masalah
- Sering sakit-sakitan
- Rezeki seret
- Banyak pertengkaran
Dampak Sosial:
- Banyak pasangan menunda pernikahan
- Calon mertua menolak lamaran di bulan Safar
- Stigma negatif terhadap pasangan yang nekat menikah
❌ MITOS 5: Tidak Boleh Bepergian Jauh
Kepercayaan Jawa:
Bepergian di bulan Safar dipercaya akan:
- Mengalami kecelakaan
- Tidak sampai tujuan dengan selamat
- Mendapat musibah di jalan
- Usaha gagal
- Hilang atau tersesat
Praktik:
- Menunda perjalanan penting
- Membatalkan rencana bisnis
- Tidak merantau di bulan ini
❌ MITOS 6: Bulan Safar Waktu Terbaik untuk Ruwatan
Kepercayaan Jawa:
Bulan Safar dianggap waktu yang tepat untuk:
- Ruwatan (upacara tolak bala)
- Tirakatan (bertapa/bersemedi)
- Ziarah kubur massal
- Sedekah kepada roh leluhur
Ritual Ruwatan:
- Memotong rambut
- Mandi dengan air kembang setaman
- Membaca mantra khusus
- Memberi sesaji
❌ MITOS 7: Anak yang Lahir di Bulan Safar Akan Sial
Kepercayaan Jawa:
Anak yang lahir di bulan Safar dipercaya:
- Akan sering sakit-sakitan
- Nasibnya sial
- Susah mencari rezeki
- Umurnya pendek
- Membawa kesialan bagi keluarga
Dampak:
- Orang tua merasa cemas
- Memberi nama khusus untuk "menolak bala"
- Melakukan ritual khusus untuk bayi
✅ FAKTA BULAN SAFAR MENURUT ISLAM
FAKTA 1: Bulan Safar Bukan Bulan Sial
Dalil Al-Qur'an:
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu." (QS. At-Taubah: 36)
Penjelasan:
- Hanya empat bulan haram yang dimuliakan (Muharram, Rajab, Dzulqa'dah, Dzulhijjah)
- Safar tidak termasuk bulan haram
- Tidak ada bulan yang diciptakan sebagai bulan sial
Hadits Nabi ﷺ:
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidak ada penyakit menular (yang menular dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (merasa sial), dan tidak ada (keberuntungan karena) bulan Safar." (HR. Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2220)
Makna Hadits:
- Nabi ﷺ menegaskan tidak ada kesialan di bulan Safar
- Thiyarah (merasa sial) adalah perbuatan syirik
- Semua bulan sama, kecuali yang dimuliakan Allah
FAKTA 2: Tidak Ada Keutamaan Khusus Bulan Safar
Penjelasan Ulama:
Imam An-Nawawi berkata:
"Tidak ada keutamaan khusus untuk bulan Safar dan tidak ada amal khusus yang disyariatkan di bulan ini."
Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan:
"Tidak ada keutamaan untuk bulan Safar secara khusus, tidak juga untuk hari-harinya atau waktu-waktunya. Semua yang diriwayatkan tentang keutamaan bulan Safar adalah dusta."
Kesimpulan:
- Safar adalah bulan biasa seperti bulan lainnya
- Tidak ada hari khusus yang lebih mulia
- Tidak ada amalan khusus yang diajarkan
FAKTA 3: Boleh Menikah di Bulan Safar
Dalil dari Sunnah:
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata:
"Rasulullah ﷺ menikahi Zainab binti Jahsy dan aku mengundang orang-orang untuk menghadiri walimah (pesta pernikahan) beliau pada bulan Safar." (HR. Muslim no. 1427)
Penjelasan:
- Pernikahan Nabi ﷺ dan walimahnya terjadi di bulan Safar
- Ini bukti nyata bahwa menikah di Safar adalah boleh
- Tidak ada larangan dari Nabi ﷺ
Fatwa Ulama:
- MUI (Majelis Ulama Indonesia): Menikah di bulan Safar hukumnya boleh
- NU (Nahdlatul Ulama): Tidak ada larangan syar'i
- Muhammadiyah: Keberkahan tidak tergantung bulan
FAKTA 4: Tidak Ada Mandi Safar atau Ruwatan
Penjelasan:
Tidak ada dalil yang mengajarkan:
- Mandi di bulan Safar
- Mandi di Rabu Wekasan
- Ruwatan tolak bala
- Sedekah khusus Safar
Imam Ibnul Qayyim berkata:
"Tidak ada satu hadits pun yang shahih tentang keutamaan bulan Safar atau amalan khusus di bulan ini."
Hukum Ritual:
- Bid'ah (mengada-ada dalam agama)
- Tidak diajarkan oleh Nabi ﷺ
- Tidak perlu dilakukan
FAKTA 5: Boleh Bepergian dan Beraktivitas
Dalil Al-Qur'an:
Allah SWT berfirman:
"Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan." (QS. At-Taubah: 2)
Sejarah Islam:
- Para sahabat tetap bepergian di bulan Safar
- Perdagangan dan aktivitas ekonomi berjalan normal
- Tidak ada larangan dari Nabi ﷺ
Penjelasan:
- Bepergian di bulan Safar boleh
- Aktivitas bisnis tidak terlarang
- Merantau diperbolehkan
FAKTA 6: Penyakit Datang Atas Takdir Allah
Dalil Al-Qur'an:
Allah SWT berfirman:
"Dan tidak ada suatu bencana yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah." (QS. At-Taghabun: 11)
Penjelasan:
- Penyakit datang atas takdir Allah, bukan karena bulan
- Angka "320.000 bala" tidak memiliki dasar
- Keyakinan ini bertentangan dengan tauhid
Hadits Nabi:
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidak ada penyakit yang menular (dengan sendirinya) dan tidak ada thiyarah (merasa sial)." (HR. Bukhari no. 5757)
FAKTA 7: Thiyarah adalah Syirik
Dalil Hadits:
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Thiyarah (merasa sial) adalah syirik, thiyarah adalah syirik." (HR. Abu Daud no. 3910, Tirmidzi no. 1614)
Penjelasan:
- Merasa sial dengan bulan adalah syirik kecil
- Keyakinan ini bertentangan dengan tauhid
- Seorang Muslim harus bertawakkal kepada Allah
Imam Nawawi menjelaskan:
"Thiyarah adalah berburuk sangka kepada Allah dan menyandarkan sesuatu kepada selain Allah."
AKULTURASI BUDAYA JAWA DAN ISLAM
Mengapa Mitos Safar Berkembang di Jawa?
1. Pengaruh Kepercayaan Animisme-Dinamisme
- Sebelum Islam datang, masyarakat Jawa menganut kepercayaan lokal
- Kepercayaan tentang roh, bala, dan kesialan sudah ada
- Islam datang mengakulturasi beberapa tradisi
2. Tradisi Lisan
- Pengetahuan diturunkan secara lisan
- Tidak ada dokumentasi tertulis yang valid
- Mudah tercampur antara mitos dan fakta
3. Ketakutan akan Ketidakpastian
- Manusia cenderung mencari "jaminan" keselamatan
- Ritual dianggap sebagai bentuk perlindungan
- Memberikan rasa aman secara psikologis
Sikap Ulama Jawa terhadap Mitos Safar
1. KH. Hasyim Asy'ari (Pendiri NU)
- Menolak kepercayaan tentang kesialan bulan
- Mengajarkan untuk kembali pada Al-Qur'an dan Hadits
- Namun tetap menghargai tradisi yang tidak bertentangan
2. KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah)
- Tegas menolak semua bentuk thiyarah
- Mengajak umat untuk memurnikan akidah
- Menolak ritual bid'ah
3. Sunan Kalijaga
- Menggunakan pendekatan budaya untuk dakwah
- Mengislamkan tradisi yang ada
- Tidak menghapus budaya, tapi memberi makna baru
SIKAP MUSLIM JAWA YANG TEPAT
1. Memahami dengan Bijak
Yang Boleh Dipertahankan:
✅ Sedekah - Sedekah boleh kapan saja, termasuk di Safar
✅ Doa - Berdoa untuk keselamatan adalah baik
✅ Silaturahmi - Mempererat hubungan keluarga
✅ Kembul Bujana - Makan bersama sebagai bentuk silaturahmi
Yang Harus Ditinggalkan:
❌ Keyakinan kesialan - Bertentangan dengan tauhid
❌ Ritual bid'ah - Tidak ada tuntunan Nabi
❌ Thiyarah - Merasa sial dengan bulan
❌ Mantra-mantra - Syirik kepada Allah
2. Mengganti dengan Amalan Syar'i
Daripada Mandi Safar:
- Perbanyak sedekah - Menolak bala dengan sedekah
- Baca Al-Qur'an - Mendapat keberkahan
- Shalat Tahajud - Mohon perlindungan Allah
Daripada Ruwatan:
- Istighfar - Memohon ampun kepada Allah
- Taubat - Kembali kepada Allah
- Perbanyak dzikir - Mengingat Allah
3. Tetap Menghargai Budaya
Yang Bisa Dipertahankan:
- Nilai gotong royong dalam tradisi
- Silaturahmi antar warga
- Rasa syukur kepada Allah
- Pelestarian budaya yang tidak bertentangan
Cara Mengislamkan:
- Ganti mantra dengan doa Islam
- Ganti sesaji dengan sedekah
- Ganti ritual dengan majelis dzikir
- Beri edukasi kepada masyarakat
PERBANDINGAN MITOS VS FAKTA
TANYA JAWAB SEPUTAR BULAN SAFAR BAGI ORANG JAWA
Q1: Apakah orang Jawa boleh percaya bulan Safar bulan sial?
A: Tidak boleh. Keyakinan ini bertentangan dengan ajaran Islam. Nabi ﷺ telah menegaskan tidak ada kesialan di bulan Safar. Sebagai Muslim, kita harus bertawakkal kepada Allah, bukan percaya pada mitos.
Q2: Bagaimana dengan tradisi Rabu Wekasan yang sudah turun-temurun?
A: Tradisi yang baik seperti silaturahmi dan sedekah boleh dipertahankan. Namun ritual yang bersifat syirik atau bid'ah harus ditinggalkan. Ganti dengan amalan yang diajarkan Islam seperti dzikir dan shalat.
Q3: Bolehkah orang Jawa menikah di bulan Safar?
A: Boleh dan sah. Tidak ada larangan dalam Islam. Keberkahan pernikahan tergantung pada ketakwaan pasangan, bukan bulannya. Banyak pasangan yang menikah di Safar dan hidupnya bahagia.
Q4: Apa hukum mandi safar yang biasa dilakukan di desa-desa?
A: Hukumnya bid'ah (mengada-ada dalam agama) karena tidak ada tuntunan dari Nabi ﷺ. Jika ingin menolak bala, perbanyak sedekah, istighfar, dan berdoa kepada Allah.
Q5: Bagaimana menyikapi orang tua yang masih percaya mitos Safar?
A:
- Berkomunikasi dengan baik dan santun
- Berikan edukasi dengan dalil yang jelas
- Jangan menyalahkan secara keras
- Berikan contoh dengan tidak mengikuti mitos
- Tetap hormat dan berbakti kepada orang tua
Q6: Apakah sedekah di bulan Safar lebih utama?
A: Sedekah boleh dilakukan kapan saja. Tidak ada keutamaan khusus sedekah di Safar. Namun sedekah tetap dianjurkan karena keutamaannya secara umum.
AMALAN YANG DISYARIATKAN DI BULAN SAFAR
Meskipun tidak ada keutamaan khusus, Muslim Jawa tetap bisa beribadah:
✅ 1. Ibadah Rutin
- Shalat lima waktu
- Puasa Senin-Kamis
- Baca Al-Qur'an
- Dzikir pagi-petang
✅ 2. Puasa Sunnah
- Puasa Senin-Kamis
- Puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 bulan Hijriyah)
- Puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak)
✅ 3. Bersedekah
- Sedekah kepada fakir miskin
- Infak untuk pembangunan masjid
- Bantuan untuk tetangga
✅ 4. Silaturahmi
- Mengunjungi keluarga
- Menjenguk tetangga
- Mempererat persaudaraan
✅ 5. Menuntut Ilmu
- Kajian Islam
- Belajar Al-Qur'an
- Menghadiri majelis taklim
KESIMPULAN
Poin-Poin Penting:
✅ Bulan Safar adalah bulan biasa seperti bulan lainnya
✅ Tidak ada kesialan dalam bulan Safar - ini adalah mitos
✅ Boleh menikah, bepergian, dan beraktivitas normal
✅ Tidak ada ritual khusus seperti mandi safar atau ruwatan
✅ Keyakinan kesialan adalah thiyarah yang dilarang Islam
✅ Orang Jawa Muslim harus kembali pada Al-Qur'an dan Sunnah
✅ Budaya yang baik boleh dipertahankan, yang bid'ah harus ditinggalkan
Pesan untuk Masyarakat Jawa:
"Sebagai orang Jawa yang Muslim, kita harus bijak memilah antara budaya dan akidah. Lestarikan budaya yang baik dan tidak bertentangan dengan Islam. Tinggalkan kepercayaan yang merusak tauhid. Bulan Safar adalah bulan seperti bulan lainnya. Yang membedakan adalah amal shaleh kita, bukan mitos tentang bulannya."
"Aja percaya marang mitos, percaya marang Allah. Aja takuti Safar, takuti dosa. Aja ngandelake ritual, ngandelake ibadah."
(Jangan percaya pada mitos, percaya pada Allah. Jangan takuti Safar, takutilah dosa. Jangan andalkan ritual, andalkan ibadah.)
Wallahu a'lam bish-shawab
Artikel ini disusun untuk meluruskan pemahaman masyarakat Jawa tentang bulan Safar dengan menggabungkan perspektif budaya dan ajaran Islam yang sahih. Semoga bermanfaat dan menambah keimanan kita.
Referensi:
- Shahih Bukhari dan Muslim
- Sunan Abu Daud dan Tirmidzi
- Fathul Bari - Ibnu Hajar Al-Asqalani
- Syarah Shahih Muslim - Imam Nawawi
- Kitab Budaya Jawa dan Islam - various authors
- Fatwa MUI, NU, dan Muhammadiyah
- Penelitian antropologi budaya Jawa
#BulanSafar #BudayaJawa #MitosFakta #IslamJawa #Thiyarah #KalenderHijriyah #RabuWekasan #AkulturasiBudaya #DakwahJawa #Tausiyah
Matur nuwun sampun maos. Mugi-mugi migunani lan saged nambahi pemahaman kita babagan Islam lan budaya Jawa.
Tag :
Ngomong