"Wis, sing legawa yo."
Kalimat itu sering kita dengar dari simbah atau orang tua saat ada keluarga yang kecewa, kalah, atau kehilangan. Tapi sebenarnya, apa sih arti legawa? Apakah sama dengan ikhlas? Atau sama dengan nrimo?
Mari kita urai pelan-pelan, biar tidak tertukar.
Arti Dasar Legawa
Dalam bahasa Jawa, legawa berarti: hati yang lega, lapang, dan rela melepaskan tanpa rasa dendam atau menyesal.
Kata ini berakar dari "lega" (lega, plong, tidak sesak) yang diberi penegas, sehingga maknanya menjadi "benar-benar lega" — bukan lega di mulut, tapi lega sampai ke dasar hati.
Orang yang legawa adalah orang yang sudah melepaskan sesuatu, dan di hatinya tidak ada sisa panas sedikit pun.
Lalu, Bedanya dengan Nrimo, Pasrah, dan Ikhlas?
Empat kata ini sering dipakai bergantian, padahal punya nuansa berbeda. Ini cara mudah membedakannya:
1. Nrimo (Nrimo Ing Pandum)
Artinya menerima apa yang menjadi bagiannya, tanpa mengeluh.
Fokusnya: menerima hasil yang datang.
Contoh: Gaji segini, ya nrimo. Rezeki segini, ya disyukuri.
2. Pasrah
Artinya menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan.
Fokusnya: menyerahkan kendali.
Contoh: Sudah berusaha, sekarang pasrah kepada Gusti.
3. Ikhlas
Artinya tulus, tidak mengharap balasan, melepaskan dari hati.
Fokusnya: kemurnian niat.
Contoh: Memberi bantuan dengan ikhlas, tanpa minta dipuji.
4. Legawa
Artinya hati yang lega dan lapang setelah melepaskan.
Fokusnya: keadaan hati setelah proses melepaskan.
Contoh: Kalah lomba tapi tetap legawa, tidak ada rasa ngganjel.
Analogi sederhananya begini:
- Nrimo = menerima jatah makananmu tanpa iri pada piring orang lain.
- Pasrah = percaya bahwa yang mengatur dapur adalah Gusti.
- Ikhlas = berbagi makananmu tanpa mengharap dibalas.
- Legawa = saat makananmu diambil orang, hatimu tetap lega dan tidak panas.
Contoh Kalimat dengan Kata Legawa
- "Sanajan kalah, dheweke tetep legawa lan ora dendam." (Meskipun kalah, dia tetap legawa dan tidak dendam.)
- "Aku wis legawa, senajan ora entuk promosi taun iki." (Aku sudah legawa, meskipun tidak dapat promosi tahun ini.)
- "Sing legawa yo, Le. Rezeki wis ono sing ngatur." (Yang legawa ya, Nak. Rezeki sudah ada yang mengatur.)
Lawan Kata Legawa: Cethil / Medhit
Menariknya, lawan dari legawa dalam rasa bahasa Jawa adalah cethil atau medhit — tangan dan hati yang menggenggam terlalu erat, tidak rela melepaskan.
Orang yang cethil menggenggam hartanya. Orang yang tidak legawa menggenggam luka dan dendamnya. Dua-duanya sama-sama membuat hati sempit dan pegal.
(Kalau mau tahu lebih dalam soal watak menggenggam ini, baca Arti Cethil dalam Bahasa Jawa Timuran di blog ini.)
Penutup
Jadi, legawa bukan sekadar "ya sudah". Ia adalah puncak dari proses melepaskan — saat nrimo, pasrah, dan ikhlas sudah menyatu, dan yang tersisa hanya hati yang lapang dan lega.
(Kalau kamu ingin merenungkan legawa lebih dalam sebagai filosofi hidup, baca artikel lengkapnya di Blog Jangka Jawa: Legawa: Tingkat Tertinggi dari Melepaskan.) 🌿
Menurutmu, dari keempat kata di atas (nrimo, pasrah, ikhlas, legawa), mana yang paling sulit dilakukan? Tulis di kolom komentar, cak! 🤍
Tag :
Kamus Jawa